Tawakkul Karman, Perempuan Arab Pertama Peraih Nobel Perdamaian

Tawakkul Karman Peraih Nobel Perdamaian

Tawakkul Karman Peraih Nobel  Perdamaian- Setiap orang baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kewajiban untuk berkiprah di ranah publik dan domestik. Hal tersebut ditunjukkan oleh sosok Tawakkul Karman, seorang wanita yang lahir di Ta’iz-Yaman, pada tanggal 7 Februari 1979. Rakyat Yaman mengenalnya sebagai ‘ibu revolusi’.

Ia adalah seorang perempuan konservatif yang berjuang bagi perubahan dalam masyarakat muslim dan Tribal. Peraih ‘Nobel Perdamaian 2011’ dan pendiri Women Journalists Without Chains (WJWC). Seumur hidupnya dihabiskan untuk mempersembahkan kebebasan jurnalis di Yaman.

Segala perjuangan dan gerakan yang ia lakukan tersebut kerap kali mendapatkan serangkaian percobaan pembunuhan dan pelecehan. Namun dengan keberaniannya, pada akhirnya ia dinobatkan sebagai perempuan muslim kedua di dunia, serta perempuan Arab pertama yang meraih Nobel Perdamaian sekaligus termuda.

Tawakkul meraih gelar tersebut di usianya yang ke-32 tahun. Selain memperjuangkan kebebasan pers, perempuan berjilbab ini juga berjuang untuk hak asasi manusia, serta kebebasan kaum perempuan di negaranya untuk mendapatkan akses pendidikan dan karier yang setara dengan kaum pria.

Perempuan yang memiliki nama lengkap Tawakkul ‘Abdussalam Karman ini dilahirkan di Mekhlaf, Provinsi Ta’iz, Yaman. Ta’iz merupakan kota terbesar ketiga di Yaman. Tawakkul merupakan putri dari Abdel salam Karman, seorang pengacara dan politisi yang pernah menjabat sebagai Menteri Urusan Hukum di pemerintahan Ali Abdul Saleh.

Mengikuti jejak ayahnya di bidang politik, Tawakkul menjadi anggota partai oposisi utama pemerintah, Partai Al Islah. Dari situlah ia mulai memperjuangkan kebebasan pers dan hak-hak bagi wanita. Awalnya Tawakkal mengenakan busana tradisional Yaman, niqob, yang menutupi sebagian wajahnya. Beranjak dewasa, ia membuka niqob, tapi tetap memakai jilbab.

Perjuangan Tawakkal lahir dari kenyataan yang ada di negaranya. Budaya masyarakat negara yang sangat patriarkal, sering juga terjadi konflik antar suku, ditambah dengan tindakan kekerasan yang kerap dilakukan rezim penguasa. Sebagai jurnalis, ia juga mengalami sendiri bagaimana pers dibuat tak berdaya untuk memberitakan kebenaran yang ada. Pemberitaan di media masa harus melalui sensor dan semua jenis publikasi yang dianggap melawan pemerintah tidak dapat terbit.

Nasib perempuan di negara ini tak kalah memprihatinkan. Perempuan dianggap sebagai warga negara kelas dua dengan hak-hak yang jauh lebih sedikit dibanding pria. Mereka tidak diberi hak mengambil keputusan dan dilarang memiliki aset atas apapun. Nyaris 70% perempuannya tidak mengenyam pendidikan layak dan tidak pernah dianggap dalam masyarakat yang didominasi oleh pria.

Para perempuan muda sering dipaksa menikah dalam usia sangat dini, dan menyerahkan nasib mereka pada suaminya yang berusia jauh lebih tua. Kekerasan terhadap istri dianggap biasa, sebagai bentuk kepatuhan para istri terhadap suaminya.

Melihat semua ketidakadilan tersebut, Tawakkul berusaha memobilisasi massa untuk melawan dan memberitakan kesewenangan pemerintah. Bersama dengan tujuh jurnalis perempuan lain, pada tahun 2005 ia mendirikan organisasi Women Journalists Without Chains (WJWC) yang membela hak-hak dan kemerdekaan jurnalis, serta meningkatkan kemampuan jurnalistik media di Yaman.

Sejak tahun 2007, Tawakkul mulai mengorganisir protes mingguan di lapangan Thahir di Sana’a yang ditujukan pada sistem represi pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh yang korup dan tidak adil. Protes mingguan ini terus berlangsung sampai tahun 2011, ketika ia secara langsung memberi dukungan pada Arab Spring, di mana terjadi kebangkitan negara-negara Arab seperti Tunisia, Mesir, dan Libia dalam melawan rezim diktator.

Perempuan ini menjadi pemicu kuat terjadinya revolusi Yaman. Ia bahkan menghadap pada Ban Ki Moon, Sekretaris Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di markasnya New York, Tahun 2009. Sepak terjangnya terbilang kontroversial, apalagi negaranya sangat menganggap tabu para perempuan yang berani mengungkapkan opini di depan publik.

Ia memberanikan diri tampil di publik tanpa niqob yang pertama kali dilakukan pada sebuah konferensi tahun 2004. Sebagai gantinya, ia mengenakan hijab dengan motif berwarna, penampilan yang masih dianggap ‘kurang layak’ bagi kebanyakan perempuan Yaman.

Salah satu ujarannya yang membangkitkan para perempuan ‘Perempuan sebaiknya berhenti merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari masalah, justru harus berpikir bahwa ia adalah bagian dari solusi. Kami sudah termarjinalisasi sejak lama, dan kini adalah waktu bagi kaum wanita untuk bangkit dan menjadi aktif tanpa butuh permisi.

Anugerah nobel perdamaian membuat langkah Tawakkul semakin mudah. Menurut Komite Nobel, dari serangkaian momen Arab Spring, Tawakkul Karman memegang peran penting dalam pergumulan hak-hak perempuan, demokrasi, dan perdamaian di Yaman. Perjuangannya tersebut sejalan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1325 tahun 2000.  Terdapat pernyataan bahwa pada negara di mana perempuan dan anak-anaknya mengalami penderitaan terhebat akibat perang dan ketidakstabilan politik, maka perempuan harus memiliki pengaruh lebih besar dan berperan dalam menciptakan perdamaian.

Bagi Tawakkul kebebasan akan dirasakan jika masyarakat hidup dibawah rezim demokrasi. Ia berjuang agar para perempuan mendapatkan kebebasan seperti pada masa lalu, pada masa kejayaan Islam di masa Nabi. Ada banyak contoh dalam sejarah, ketika perempuan muslim menjadi pemimpin, ilmuwan, dan profesional.

Dari sini sudah jelas bahwa Islam sebenarnya tidak mendiskriminasi kaum perempuan. Sebab ajaran Islam selalu berupaya bersikap adil terhadap laki-laki dan perempuan. Namun permasalahannya bukan ajaran agama, tetapi penguasa yang semena-mena serta budaya patriarki yang mendukung kesewenangannya.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *