Teladan Lain dari Sosok Mbah Muslih Mranggen

Mbah Muslih Mranggen

Jauh sebelum berjodoh dengan orang Mranggen saya masih begitu asing dengan sosok Kiai Muslih, seorang guru mursyid dan ulama’ yang cukup disegani pada zamannya. Bahkan hingga saat ini. Kharismanya masih begitu kuat dan banyak cerita serta kisah menggugah dan keramat yang berasal dari beliau.

Saat ongkrah-ongkrah (membongkar) tumpukan buku bapak (KH. Abdul Hamid Baidlowi) di kamar, pernah sekilas membaca buku berjudul “Tasawuf Nusantara: Mengurai Mutiara Sufi Terkemuka” karya Budhe kami Prof. Dr. Sri Mulyati M,A, lulusan McGill University Montreal Kanada yang secara intens menyorot tentang perkembangan thariqah dan tasawuf di Indonesia.

Hingga membahas secara khusus hal-hal yang bersinggungan dengan jejak Kiai Muslih Abdurrahman Mranggen, Kiai Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Anom) Suryalaya, Kiai Romli Tamim Jombang dan tokoh sufi lainnya. Dari sinilah titik awal kami mengenal Mbah Muslih secara tak sengaja.

Di sisi lain setelah mulai gemar menelusuri narasi para sesepuh, sosok Mbah Muslih juga kerap disebut-sebut khususnya dalam ruang lingkup dunia thariqah. Dan setelah resmi menjadi menantu orang Mranggen, keingin-tahuan tentang poro sepuh Mranggen ini muncul semakin kuat. Rasanya kedosan (berdosa) jika menikah dengan orang Mranggen namun tidak paham tentang kiai-kiai Mranggen khususnya sosok Mbah Muslih bin Abdurrahman.

Cerita Lain yang Belum Dicatat

Setelah mendapati buku biografi Mbah Muslih setebal 430 halaman (sebuah buku yang baru di-launching tahun lalu bertepatan dengan rangkaian acara haul ayah dari Mbah Muslih, Syeikh Abdurrahman Qosidil Haq yang ke-80 dan masyayikh), semakin memberi gambaran utuh tentang Mbah Muslih. Meski belum membaca seluruhnya namun saya yakin masih ada begitu banyak cerita tentang beliau yang belum sepenuhnya dimuat dan ditulis.

Seperti halnya yang diceritakan oleh Kiai Muhibbin Muhsin yang dulu begitu dekat dan termasuk santri kinasih Kiai Muslih. Bahkan saking dekatnya hampir saja Kiai Muhibbin dinikahkan dengan salah satu cucunya. Namun takdir berkata lain, Mbah Kiai Marwan Jragung (Pesantren Roudlotuth Tholibin, Jrangung) ternyata sowan dan memohon kepada Mbah Muslih agar Kiai Muhibbin direlakan menikah dengan kerabat dekatnya (terhitung masih sepupu).

Baca juga :  Kisah “Bucin” Seorang Ulama yang Romantis Ala Ibnu al-Jauzi

Dengan agak berat Mbah Muslih pun mengikhlaskan mengingat yang meminta langsung adalah Kiai Marwan (ahli Quran yang istiqomah dan cukup disegani). Di samping itu cucu Mbah Muslih saat itu juga tergolong masih sangat kecil.

Dan salah satu narasi tentang Mbah Muslih berawal ketika Kiai Muhibbin berkunjung ke Lasem beberapa waktu lalu, Mbah Bin (begitu biasa orang memanggil) bertanya kepada kami tentang kediaman dan tempat kelahiran Mbah Kiai Hamid Pasuruan. Setelah saya menunjukkan pesantren yang hanya beberapa langkah saja dari rumah, spontan beliau berkisah ketika diajak Mbah Muslih sowan Mbah Hamid di Pasuruan.

Mbah Muslih, Mbah Hamid Pasuruan, dan Pesantren Al-Qur’an di Mranggen

Saat Mbah Muslih sowan Mbah Hamid Pasuruan, Mbah Bin baru menginjak usia 10 tahun. Tak lama kemudian Mbah Muslih matur dan mengenalkan kepada Mbah Hamid: “Meniko adik kulo, benjang engkang bakale ngrumat Qur’an sak Mranggen (Ini adik saya, besok yang akan merawat Qur’an di Mranggen)”. Padahal umur Mbah Bin belum genap akil-baligh.

Entah karena sebab dawuh Mbah Muslih atau diam-diam Mbah Hamid ikut mengamini, ndilalah kersane Allah SWT apa yang disampaikan Mbah Muslih menjadi kenyataan. Sebab Mbah Bin beserta Nyai Nadziroh dipasrahi Mbah Muslih ngurusi al-Quran dan pondok pesantren putri pertama di bilangan Mranggen yang secara khusus fokus dalam bidang tahfidzul Qur’an.

Baca juga :  Biografi KH Ahmad Siddiq, Pemikiran dan Kiprah untuk NU dan Indonesia

Cikal bakal pondok putri pertama di daerah Suburan Mranggen asuhan Kiai Muhibbin ini juga cukup unik, sebab setiap kali kedatangan wali santri putri yang ingin memondokkan dan sowan ke Mbah Muslih selalu ditolak dan diarahkan ke Mbah Bin. Dan setiap di-dawuhi untuk menerima santri (setalah pulang nyantri kepada Kiai Arwani Kudus dan Kiai Marwan Jragung), Mbah Bin selalu mengelak karena menganggap tidak pantas punya santri sebagai bentuk sikap tawadhu’ di depan piyantun ngalim sekaligus kakak ipar seperti Mbah Muslih.

Sampai akhirnya Mbah Bin tak sanggup lagi menolak dawuh Mbah Muslih, sebab dengan lugas Mbah Muslih berkata: “Ojo ditolak.. Nek ngroso ora utowo urung pantes duwe santri, aku titip santriku mondok nang panggonmu (Jangan ditolak.. Jika dirasa tidak atau kurang pantas mempunyai santri, saya titip santriku mondok di tempatmu)”.

Saking kinasihnya, setiap santri Mranggen dan masyarakat sekitar pada waktu itu dapat dipastikan ngaji Qur’annya dengan Kyai Muhibbin baik yang tinggal di pesantren Futuhiyyah, Al Amin, Al Mubarok dan pondok-pondok lainnya. Semua itu atas perintah Mbah Muslih termasuk kepada cucu-cucunya sendiri.

Kebijaksanaan Mbah Muslih

Sebenarnya sangat mudah bagi Mbah Muslih dengan segala karomahnya membangun pondok putri dan kemudian diasuh sendiri oleh beliau. Tapi nyatanya hal itu belum terwujud hingga ia wafat di tahun 1981. Dan justru mengarahkan kepada Mbah Muhibbin untuk ngopeni ngaji Qur’an santri-santri putri sekaligus santri putra lainnya dan masyarakat sekitar di bilangan Mranggen persis seperti apa yang pernah dihaturkan di depan Mbah Hamid Pasuruan kala itu.

Barulah kemudian hadir belakangan pesantren-pesantren putri yang didirikan dan diasuh oleh dzurriyah lainnya jauh setelah Mbah Muslih wafat.

Walhasil, firasat para sesepuh itu sangatlah tajam menembus batas. Mata batinnya terasah dengan dzikir dan haliyahnya setiap saat. Dan hati bersihnya mampu menuntun kepada sikap arif dan bijak. Kecintaan dan perhatian khusus Mbah Muslih kepada pengajaran Al Qur’an dapat tercermin jelas saat menengok perlakuan beliau kepada ahlul Qur’an seperti Mbah Bin.

Baca juga :  Pelajaran Setelah Ziarah Imam Suyuthi (1)
Pentingnya Memuliakan Ahli Qur’an

Memperlakukan para ahli Qur’an dengan penghormatan yang sebaik-baiknya adalah perintah luhur. Saking pentingnya sampai-sampai Imam Nawawi membuat bab khusus tentang kewajiban memuliakan ahlu al-Qur’an dalam kitabnya al-Tibyan fi Adabi Hamalat al-Qur’an. Beliau menuliskan:

البَابُ الثَّالِثُ : فِيْ اِكْرَامِ اَهْلِ اْلُقرْانِ وَالنَّهْيِ عَنْ اَذَاهُمْ

Bab ketiga: (perintah) memuliakan ahli al-Qur’an dan larangan menyakiti mereka”.

Dan sekiranya dari kita belum bisa menjadi ngalim dan mahir layaknya ahlu Qur’an, harapannya semoga ada dari anak-cucu kita kelak yang menjadi ahli ilmu dan ahli Qur’an berkah ihtirom kita kepada mereka. Itu jua yang kemudian dirasakan Mbah Muslih, berkat cintanya beliau kepada ahlu Quran, tak sedikit dari para dzurriyahnya yang kemudian menjadi penjaga Al-Quran dan menjadi ahlul Quran.

Dumateng para masyayikh Mranggen wa bil khusus Kiai Muslih, lahumul fatihah…

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.