Tentang Duka

hpwee.com

Ibu dan bapakku adalah perpaduan yang sempurna. Mereka sama-sama keras tapi mampu merendah untuk menurunkan egonya satu sama lain. Perihal mengalah, sepertinya ibuku yang lebih juara. Katanya, “biar kamu dan bapakmu dulu, ibu belakangan” ketika dihari minggu semasa kecilku kami telah selesai membersihkan rumah untuk persiapan reuni keluarga.

Ibu dan bapak adalah perpaduan yang sempurna. Saat bapakku memutuskan untuk memperbaiki dan memilih warna cat sesuai yang dikehendaki, ibu hanya berkata kepadaku dengan tersenyum, “bapakmu memang pandai memilih warna.”

Sekali lagi, ibu dan bapakku adalah perpaduan yang sempurna, tapi aku tidak ingin kisah cintaku berjalan dan berakhir seperti mereka. Aku tidak ingin nasibku seperti ibu, atau memiliki pasangan seperti bapak.

Jauh-jauh hari sebelum kejadian memilukan itu, aku sudah terlebih dulu mempersiapkan diri dengan mencari berbagai artikel di internet mengenai motivasi atau cara menjalani hidup sebagai seorang broken home. Aku tahu kedua orang tuaku akan berpisah. Bagiku yang masih duduk di bangku SMA waktu itu, adalah hal yang memalukan. Orang yang ku kenal bukannya bertanya apa aku baik-baik saja, malah mereka mempertanyakan ikut dengan siapa aku nanti.

 

Fase Perpisahan

Aku merasa baik-baik saja sampai aku masuk ke perguruan tinggi. Bapakku akhirnya menikah lagi dengan wanita yang aku tahu bahwa mereka telah lama menjalin hubungan, bahkan sebelum perceraian itu tiba. Aku tahu, tapi aku hanya diam. Perbuatanku memang salah, tapi kalian harus tahu betapa menyebalkannya berada di antara dua orang dengan suara saling beradu, melempar piring, guci, hingga caci. Ibuku sempat hampir melabrak wanita itu namun ditahan oleh abangku, katanya biar dia saja yang mengurus. Aku tidak mau tau lagi apa yang terjadi, mereka hanya bertengkar dan sesekali ibuku yang mengalah, namun terkadang bapakku keluar dari rumah atau tidur di depan televisi.

Sekali lagi, bagiku itu semua bukanlah masalah sampai bapak memutuskan menikah. Setelah bercerai, satu-satunya caraku untuk berinteraksi adalah dengan meminta uang kepadanya. Rasanya beda sekali dengan saat kami masih satu rumah, pertemuanku dengan bapak lebih terasa menyenangkan. Hingga akhirnya bapak mulai mengeluh, katanya aku terlalu sering minta uang dan tidak bisa menabung. Kadang aku merasa seperti bukan anaknya lagi, tidak ada lagi pertanyaan tentang kabarku, ibu atau abang. Pernah sekali bapak berbicara tetang ibu, tapi lebih tepatnya memberi saran karna sudah jengkel dengan sikapku.

“Lebih baik kamu suruh ibumu menikah lagi. Sekalipun sudah bekerja, dia tidak mungkin bisa menafkahi kamu jika sendirian. Lagi pula gaji abangmu hanya bisa untuk kebutuhannya sendiri.”

“Sepertinya bapak menikmati status sebagai pencari nafkah tunggal.” Balasku

Aku tidak tahu mana yang benar, apa dunia terlalu kejam atau pikiran bapak yang aneh sehingga berfikir jika gajinya bisa menghidupi keluarga barunya dan aku. Sedangkan perihal gaji ibu yang digunakan hanya untuk menghidupi dua orang saja, bisa tidak cukup?

Mungkin ini fase selanjutnya bagi seorang broken home. Aku hanya akan merasa menjadi beban, dan fatherless?

Ternyata ada satu hal yang tidak tertulis dalam artikel yang ku pelajari. Kenyataan ini ku dapati ketika aku berbincang kecil dengan abangku. Dia tahu bahwa aku masih kuliah, tapi dia malah menyuruhku untuk cepat menikah.

“Ada baiknya kamu menikah saja. Mau ku kenalkan sama temanku? Gaji dan jabatannya sudah lumayan, masa depannya dan kamu akan terjamin.”

“Tidak ada batasan buat abang untuk menikah, karena abang laki-laki. Sedangkan kamu wanita, susah jika sudah ketuaan. Lagi pula biaya hidupmu akan ditanggung suami jadi tidak perlu membuat susah bapak atau ibu.”

Sungguh, aku tidak percaya jika dia adalah abangku.

“Ambil cuti saja atau kamu hanya perlu menjadi istri yang baik. Kamu lihat sendiri kan, akhirnya bapak lebih memilih seorang wanita rumah tangga ketimbang wanita karir seperti ibu.”

Kesal sekali rasanya jika dianggap sebagai beban. Lagi pula, anak mana yang benar-benar menghendaki adanya perceraian? Aku juga ingin memiliki keluarga yang utuh meskipun pada akhirnya kedua orang tuaku bahagia dengan kehidupan barunya.

Bukan berarti aku juga tidak senang melihat bapak bahagia dengan keluarganya, atau ibu yang bisa terus meraih karirnya. Aku hanya merasa sedih ketika aku harus menentukan tinggal dengan siapa, dianggap buruk oleh orang-orang, dituntut untuk segera menikah oleh abang. Bahkan aku benci kenapa aku harus lahir jika akhirnya mendapat perlakuan seperti ini?

waktu rasanya lama sekali, aku tidak melanjutkan hubunganku dengan bapak untuk meminta uang, aku mengirim pesan untuk datang ke rumahnya, katanya silakan. Rumah barunya tidak berpagar dan terlihat lebih sederhana dibandingkan rumah kami dulu. Perbincangan kami hanya tentang kabarku dan kuliahku, katanya aku harus serius kuliah dan mencari tahu apa yang ingin aku lakukan nantinya. Tidak lama setelah itu, ada anak kecil berseragam TK datang dari arah pintu dan lari memeluk bapak, disusul seorang gadis cantik yang beranjak dewasa menyapaku. Mereka anak baru bapakku, saudara tiriku. Aku melihat raut wajah bapak yang terlalu sumringah menyambut mereka, ini jelas jauh berbeda dari apa yang terjadi di kami dahulu. Rasanya sakit dan aku terlalu menyedihkan.

 

Menerima Takdir

Akhirnya aku pamit dengan membawa uang dan rasa cemburu, kami tidak pernah sedekat itu. Aku harusnya sadar bahwa setelah perceraian itu, aku tidak mungkin menjadi seseorang yang ada dipikirannya lagi sepulang bapak bekerja. Aku kecewa dan menyesal kenapa dahulu aku tidak bisa membangun suasana rumah yang hangat seperti yang barusan ku lihat. Justru diusiaku sekarang ini aku seperti membutuhkan sosok bapak tapi aku malah tidak mendapatkannya. Maksudku, manusia mana juga sudi hidupnya diusik lagi oleh bagian dari masa lalunya yang kelam, jika sekarang dia sudah punya kehidupan yang lebih baik dengan orang baru?

Hidupku timpang rasanya, sekalipun aku sudah mencoba untuk kuat tapi ini sama sekali tidak mudah. Pada saat-saat seperti ini, nasehat, motivasi, kata bijak, atau apapun tidak akan berguna. Aku kesepian saat sendiri, tapi juga terlalu menyedihkan untuk berada diantara banyak orang. Jika bisa dan boleh, aku ingin Tuhan mengembalikan aku pada masa di mana kami masih menjadi keluarga, dan memperbaiki keadaan, menjadikan kami sebagai keluarga yang penuh kehangatan sehingga aku tidak perlu mengalami perasaan yang entah apa namanya.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *