Tentang Fenomena Artis “Hijrah”

Dunia selebritis kita pernah diramaikan oleh berita yang disebut sebagai para artis yang “berhijrah”. Mulai dari Teuku Wisnu, Arie Untung sampai Dude Herlino. Sementara itu, para perempuannya mulai berhijab. Mulai dari Melly Goeslaw, Dewi Sandra, sampai Tantri Kotak.

Ibu saya memperkerjakan kembali pembantunya, hampir seusia dengannya, setelah perempuan ini kembali dari umrah dan pembantu penggantinya cuti melahirkan. Hasil menabung 20 tahun lebih. Sebut saja namanya Mpok Yanti. Ia perempuan buta huruf. Namun, ia sangat bersemangat belajar mengaji. Setiap hari ia selalu mengikuti pengajian. Saya selalu mengandalkannya dalam hal memijat dan membuatkan ramuan herbal. Ya, ia memang tukang urut juga.

Awal mula ia pulang dari umrah, Mpok Yanti yang semula hanya mengenakan penutup kepala seperti ciput, selalu mengenakan pakaian seperti Mamah Dedeh. Saya sebenarnya merasa kasihan dengan cara berpakaiannya bilamana harus bekerja. Jika ayah kami di kamar, dia baru membuka kerudungnya, hanya mengenakan ciput, dengan kaos berlengan pendek.

Mpok Yanti bukan pembantu kami satu-satunya yang begitu. Dulu pembantu ibu kami juga hanya berkerudung jika keluar. Pembantu yang biasa merawat saya, Mbak Mita, hanya terpaksa berhijab jika mengantar putri kecilnya ke TPA. Rumahnya hanya seluas sepetak, sangat sesak dan sempit. Dia tak pernah tahan berhijab dan bergamis. Di mobil pun dilepaskannya. Dia memang cukup gemuk.

Apakah itu sebenarnya “hijrah”?

Jikalau mengacu pada riwayat Muhammad saw, secara sederhana hijrah ialah mengungsi meninggalkan negeri yang tidak nyaman, negeri yang melakukan persekusi dan semacamnya, atau negeri yang mengalami bencana, ke negeri baru untuk hidup di tempat yang lebih nyaman, damai, dan baik, demi bekerja dan hidup lebih baik, bahagia dan lebih sehat.

Baca juga :  Fenomena Hijrah Generasi Milenial, Hanya Tren Apa Konsisten?

Jika para artis yang saya sebut itu harus hidup seperti Mpok Yanti atau Mbak Mita, saya tidak yakin mereka akan tahan harus hidup dan bekerja tanpa kenyamanan semacam AC, kain yang nyaman di kulit, serta produk-produk kosmetik dan kesehatan yang dapat membantu aktivitas mereka.

Saya tidak yakin Melly Goeslaw, Inneke Koesherawati, Shireen Sungkar, Dewi Sandra, bahkan Mamah Dedeh, Umi Pipik, Oki Setiana Dewi, dan masih banyak lagi perempuan dengan hijab dan gaun yang indah, bahkan mungkin berlapis-lapis, sanggup hidup dalam gaya busana mereka bilamana harus hidup dan bekerja dan tinggal di rumah seadanya, seperti Mpok Yanti dan Mbak Mita. Pun, saya tak yakin mereka akan sanggup mempertahankannya bilamana mereka menderita berbagai penyakit kulit, apalagi sakit kulit seperti saya.

Keistimewaan dari para pendakwah ajaran Muhammad pada masa lalu ialah mereka paham benar apa itu makna ikhlas dan tunduk kepada Allah. Yaitu, termasuk ikhlas dan tunduk kepada Alam, yang diciptakan Allah. Itu sebabnya, di keraton-keraton Islam, kemben masih digunakan.

Para raja menetapkan bahwa perempuan harus berkemben di tempat-tempat tertentu. Ini bukan berarti bertentangan dengan ayat Alquran tentang hijab. Perintah itu ada bukan untuk semua keadaan, semua tempat dan semua waktu.

Kita tidak membutuhkan kipas listrik maupun AC jika berkemben atau menggunakan daster. Bilamana lelaki maupun perempuan di tengah-tengah suasana sangat hangat dan sangat lembab mengenakan kain seperlunya, mereka akan memperoleh kekuatan yang dibutuhkan untuk bekerja dan beraktivitas. Mereka menyatu dengan alam ciptaan Allah dengan cara ini. Nenek moyang kita juga tentu mengerti pentingnya sinar mentari bagi tubuh kita, selain juga air yang bersih dan makanan yang baik.

Baca juga :  Fenomena Hijrah dan Hal-hal yang Belum Selesai

Tak hanya itu. Sebenarnya kita telah diajarkan cara menghadapi nyamuk, kutu, jamur, ketombe, keringat dan berbagai masalah sehari-hari yang harus kita hadapi di negeri tropis ini dengan cara-cara alami oleh para leluhur kita. Bukan dengan produk-produk impor yang bahan bakunya tak tersedia di alam kita, maupun dengan teknologi yang dapat merusak alam itu sendiri.

Saya menulis ini karena saya sendiri sejak kecil tidak pernah tahan kepanasan. Saya juga mengalami bertahun-tahun sebagai hijaber dari kelas menengah yang cukup mampu, bilamana tak berkipas listrik, ya menggunakan AC.

Saya telah menjauh dari alam ketika saya mengira saya telah memenuhi syariat Allah dengan berhijab setiap waktu di publik di depan non-mahram. Tapi, jika di rumah, mana tahan, saya selalu berdaster atau berkaos jika harus bekerja. Jika listrik mati, saya bisa mengeluh tiada habisnya.

Namun, sekarang saya sudah insyaf. Saya sudah menerima hidayah dari Allah, bahwa kesembuhan saya hanya dapat diperoleh dengan perantara kebaikan alam dan perantara kebaikan sesama manusia.

Bagi orang-orang Arab, Iran, dan Eropa, misalnya, mengenakan pakaian terbuka selalu dikaitkan dengan seksualitas. Ada pula yang mengaitkan dengan identitas, kemerdekaan tubuh, dan status.

Namun, di Nusantara, sebenarnya hal ini justru semata-mata terkait dengan kepasrahan dan ketundukan kita kepada alam ciptaan Allah kepada kita. Kita terbiasa mengenakan pakaian terbuka saat cuaca panas, dan menutup tubuh kita saat kedinginan.

Kita tidak mengenakan kerudung sepanjang waktu karena resiko ketombe dan kutu, yang mungkin tak ada di negeri-negeri dengan suhu panas dan kering.Bagaimana nenek moyang kita dalam memandang kecantikan dan seksualitas sebenarnya sangat sederhana, sebelum Hinduisme-Buddhisme, Islam dan Kekristenan menjadi bagian dari kita.

Baca juga :  Tren Hijrah Kekinian

Tradisi yang ada bukanlah untuk dibenturkan dengan agama apapun, sebab agama pun berasal dari tradisi, dan tradisi pula yang mewarnai suatu agama, dan tradisi selalu terkait dengan habitat atau alam tempat seseorang tinggal. Para darwis Sufi di Turki menggenakan baju wol, karena sesuai dengan habitat mereka, tetapi di sini itu justru membahayakan kesehatan bilamana berbaju wol dalam cuaca hangat dan lembab.

Jika Bunda Maria, Bunda Khadijah dan Bunda Fatimah hidup di Nusantara 2000-1400 tahun lalu, demi Allah, saya yakin mereka akan berkemben, dan pada saat ini, mereka akan berdaster tanpa hijab, saat cuaca sangat hangat dan sangat lembab. InsyaAllah, mereka akan melakukan hal yang sama dengan saya saat berjemur matahari pagi, mengenakan kemben, daster atau pakaian seterbuka mungkin, demi bersyukur pada Allah, untuk tetap sehat dan dapat beraktivitas bagi kehidupan sehari-hari (dan bagi kemanusiaan).

Apakah Alquran dan ajaran Muhammad hanya untuk kaum kelas menengah (ke atas)?

Bukankah Islam adalah tentang kepasrahan dan ketundukan sepenuhnya kepada Allah?

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.