Tentang Hidup dan Setelahnya

Judul         : Adab ad-dunyā wad-dīn

Penulis     : Al-Imam al-Mawardi al-Bashri

Penerbit   : Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah Beirut

Cetak        : VI, 2013

Halaman  : 320 hlm.

Ketika Karl Max mengatakan: “Agama adalah candu bagi masyarakat (Die Religion ist das Opium des Volkes),” maka sebenarnya ia tengah meletakkan agama sebagai sesuatu yang independen dari struktural kehidupan. Agama dipersepsikan sebagai pakaian yang, ibarat umumnya pakaian, bisa dipakai dan bisa tidak.

Kita yang memilihnya, apakah akan hidup berpakaian atau memilih telanjang. Dalam persepsi demikian, ada sesuatu yang reduktif: kehidupan dimaknai hanya, dan tidak lebih, sebagai pengembaraan materialistis an sich, sebatas opium untuk meringankan beban subjektif.

Titik tolak kita adalah term ‘hidup’ dan ‘kehidupan’, yang mesti kita bedakan pengertiannya. Segala semesta yang diciptakan tumbuh, ia disebut hidup. Tumbuhan dan hewan, mereka adalah makhluk hidup. Tetapi di semesta ini, yang memiliki kehidupan hanya kita, umat manusia. Manusia sebagai makrokosmos mungkin mengafirmasi persepsi demikian, bahwa ‘kehidupan’ menyiratkan keberartian hidup, yang inheren di dalamnya sebuah tujuan dari hidup itu sendiri.

Kesinambungan hidup dengan kehidupan lantas menjadi wadah kita menuju sesuatu setelahnya, pasca kehidupan. Artinya, kepercayaan teleologis ini telah melahirkan struktur eksistensial; kita hidup di semesta (al-dunya) dan ketundukan teleologis kita namakan sebagai agama (al-din). Untuk mengarungi struktur eksistensial tersebut, diperlukanlah sebuah aturan, sebuah seni, yang mengatur kita agar senantiasa dalam koridor yang semestinya. Sesuatu itu kita sebut sebagai ‘al-adab’.

Adalah seorang ulama kelahiran Basrah, Irak, yang menyuguhkan kita tentang adab tersebut. Nama lengkapnya Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi al-Bashri (364-450 H/974-1058), seorang Hakim Agung (al-Qadhi al-Qudhat) era Dinasti Abbasiyah yang menulis kitab berjudul: Adab al-Dunya wa al-Din. Ia dikenal sebagai tokoh yang cerdas, pandai orasi, berdebat, juga ketajaman analisis. Al-Mawardi wafat pada usia 86 tahun, dan dikebumikan di kompleks Bab Harb, Baghdad.

Baca juga :  Adab Santri: Bersanad "Kainun" dan "Mustaqirrun"

Kitab Adab al-Dunya wa al-Din merupakan karya al-Mawardi dalam bidang akhlak-tasawuf. Di bidang fikih, ia menulis Al-Hawi al-Kabir, Adab al-Qadhi, dan Al-Iqna’ yang terkenal di kalangan pesantren. Ia juga menulis karya masterpiece di bidang tafsir, yaitu Tafsir al-Qur’an al-Karim. Integritasnya sebagai ulama bermazhab Syafi‘I diakui para cendekiawan di zamannya, seperti Ibn Jawzi, Imam Taj al-Subki, serta Al-Khatib al-Baghdadi yang kelak mengurus jenazah al-Mawardi ketika wafatnya.

Adab al-Dunya wa al-Din, atau yang jika diterjemahkan ialah “Adab Dunia dan Agama”, terdiri dari lima bab: Adab Ilmu, Adab Agama, Adab Dunia, Adab Jiwa, dan Adab Kelapangan Diri (al-Muwadha‘ah). Bab terakhir ini merupakan uraian sufistik yang menekankan tatacara menjadi penyabar, tawaduk, menjaga rahasia, dan menjaga marwah. Sebelum masuk pada lima bab tersebut, secara panjang lebar al-Mawardi mengulas tentang keutamaan rasio dan tercelanya hawa nafsu (fadhl al-‘aql wa dzamm al-hawa).

Dunia dan agama, demikian diterangkan al-Mawardi dalam mukadimahnya, adalah sesuatu yang amat esensial dalam kehidupn kita. Mempelajarinya merupakan keniscayaaan, dan paling agung bila ditilik dari kadar kemanfaatannya. Sebab, menurut al-Mawardi: “melalui istiqamah dalam keagamaan sahlah suatu penghambaan, dan dengan menjadi saleh di dunia sempurnalah keberuntungan (bi istiqamat al-din tashihhu al-‘ibadah, wa bi shalah al-dunya tatimmu al-sa‘adah).” [hlm. 3]

Al-Mawardi mengklasifikasi akal menjadi dua, yakni gharizi dan muktasab. Akal gharizi ialah akal substantif, yakni naluri, yang batasnya berhubungan dengan hukum taklif. Ia tidak bertambah dan tak berkurang, dan dengannya manusia menjadi lebih istimewa ketimbang hewan. Seseorang dengan kesempurnaan naluri disebut sebagai ‘aqil, yang berakal. Ada yang berpendapat, tempat akal gharizi di otak, dan juga ada yang bilang ia bersemayam dalam hati seseorang.

Baca juga :  Agama, Basis Utama Radikalisme di Indonesia

Adapun akal muktasab, menurut al-Mawardi, ialah konsekuensi naluri. Ia merupakan klimaks pengetahuan yang tak terbatas. Ia tumbuh ketika digunakan,  melalui pengasahan diri dari jeratan nafsu dan syahwat. Akal muktasab ini mirip kemampuan analisis yang bisa berkembang melalui diskusi, sehingga lahirlah kejernihan pikiran atau idealisme. Akal ini juga dapat diasah melalui segala aktivitas yang mengoptimalisasi kecerdasan, hingga lahirlah ide-ide cemerlang (jawdat al-ra’y).

Oleh karena setiap akal mesti termanifestasikan kebaikan, maka setiap pelaku keburukan tak disebut sebagai yang berakal (‘aqil).

Itulah bedanya akal dengan pikiran. Pikiran inilah yang memungkinkan seseorang terjerumus dalam keburukan, tergantung bagaimana ia mengelola pikirannya. Responsivitas pikiran atas segala hal negatif disebut  hawa nafsu (al-hawa). Itulah kenapa al-Mawardi menggabungkan pembahasan keutamaan rasio (fadhl al-‘aql) dengan tercelanya hawa nafsu (dzamm al-hawa).

Hawa nafsu, kata al-Mawardi, penghalang segala kebaikan, dan kontra-rasionalitas. Ia adalah perangai buruk yang merusak marwah seseorang, menyediakan mereka pintu masuk atas segala keburukan. Al-Qur’an dan hadis melukiskan banyak tantang hawa nafsu, yang bertemu dalam definisi esensial: penyakit, syetan. Ketika hawa nafsu sudah menguasai akal, maka rasionalitas menjadi tumpul, pelupa. Akal menentang, tetapi kekuasan hawa nafsu berlipat lebih kuat menentukan segala perilakunya.

Tentang adab ilmu, al-Mawardi mengutip atsar dari Ali bin Abi Thalib yang berkata: “Jadilah kalian orang yang berilmu (‘alim), orang yang belajar (muta‘allim), pendengar (mustami‘), atau penyuka saja (muhibb). Dan jangan jadi yang kelima, atau kalian akan rusak.”

Yang kelima maksudnya ialah orang yang tak berilmu, tak belajar, tak mendengar, bahkan suka saja pun tidak. Di antara adab itu juga ialah ikhlas, tak menuntut upah, dan mengamalkannya dengan dedikasi dan tanggung jawab.

Baca juga :  Tiga Bentuk Sabar bagi Pelajar Menurut Kitab Nashaihul Ibad

Ilmu adalah pintu mengarungi dunia di satu sisi, dan sebagai panduan kehidupan beragama di sisi yang lain, mesti diletakkan secara proporsional. Ketika agama mengajarkan bahwa segala perbuatan memiliki balasannya, bahwa Allah swt. membagi segala perkara secara taklif, baik fardu mapun sunah, dan bahwa manusia dituntut bersih secara zahir-batin, dunia justru menjadi penopang primer atas segala ajaran tersebut. Dunia ibarat rel yang menuntun ke arah mana kereta hendak melaju.

Kesinambungan iklim esoterik-eksoterik keberagamaan dengan kehidupan dunia, tentu saja tidak independen. Jauh di dalam kalbu setiap individu, terdapat potensi tendensius; perangai baik, sifat malu, kebencian, kejujuran, kedengkian, dan sebagainya. Oleh karena itu, al-Mawardi tak berhenti di ulasan perihal adab jiwa, tetapi lebih jauh menguraikan tatacara merendahkan diri (al-muwadha‘ah). Bagian terakhir ini menguraikan antitesis bab sebelumnya; menjaga harga diri, misalnya.

Uraian dalam kelima bab al-Mawardi ini cukup apik, sebab menyusun elemen secara gradual-hierarkis tentang mengarungi dunia dengan agama. Baginya, karya tersebut diharapkan menjadi bahan refleksi bagi umat Islam. Ia mengatakan: “Introspeksilah diri kalian wahai para manusia, melalui tafakur atas segala aib, dan menjadi bermanfaat bahkan terhadap musuh sekalipun. Sebab siapapun yang tidak pernah introspeksi, nasihat apa pun kosong manfaatnya.” [hlm. 315]

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.