Teologi Inklusif Menurut Imam Al-Ghazali dalam Kitab Faishal At Tafriqah

Imam Abu Hamid Al-Ghazali merupakan seorang ulama ahlussunnah wal jamaah par excellence pengikut mazhab Asy’ariyah. Ulama yang bergelar hujjatul Islam ini termasuk tokoh yang produktif dalam menulis kitab. Ihya ‘Uluumuddin adalah karya kenamaan sekaligus menjadi magnum opus yang dikaji hampir seluruh pesantren di Indonesia.

Imam Al-Ghazali juga memiliki risalah pendek yang berjudul Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah. Risalah ini hadir sebagai pembelaan atas inovasi dan kebebasan intelektual serta kritik keras terhadap kebekuan dalam tradisi mazhab.

Ada beberapa hal menarik, bahkan bisa disebut out of the box, dari kebanyakan pandangan terkait doktrin ahlussunnah wal jamaah. Dalam konteks ini khususnya berkenaan hadis iftiraq, yang memuat keterangan tentang umat Islam terpecah menjadi 73 golongan.

Al-Ghazali menulis kitab Faishal al-Tafriqah sekitar tahun 1106 M. Sehingga hampir bersamaan dengan al-Munqidz min al-Dhalal yang memuat risalah pembelaan diri Al-Ghazali untuk berbeda pandangan dari rekan sejawat ulama Asy’ariyah pada zamannya.

Alkisah, waktu itu Wazir (menteri) Dinasti Saljuq, Fakhr al-Mulk—penerus Nizham al-Mulk—mendesak Al-Ghazali untuk menjadi guru besar Madrasah Nizhamiyah di Nisyapur. Desakan Fakhr al-Mulk, yang tak mungkin ia tolak, menimbulkan dilema moral kepada al-Ghazali.

Apalagi konsekuensinya, ia harus aktif dalam dunia politik dan kehidupan akademis yang ia bersumpah akan meninggalkannya. Al-Ghazali tak bisa mengelak desakan wazir. Maka begitulah, ia diangkat menjadi guru besar Madrasah Nizhamiyah. Tak lama kemudian menjadi sasaran serangan para ulama Nisyapur yang anti terhadapnya.

Berbagai tuduhan dialamatkan kepada Al-Ghazali. Mulai dari penyimpangan paham Asy’ariyah dalam beberapa karyanya seperti Ihya’ Uluumuddin, Misykat al-Anwar, dan lain sebagainya. Bahkan, hingga tuduhan keji lain yang menganggap Al-Ghazali sering meminjam ajaran filsuf Muslim Al-Farabi dan Ibnu Sina.

Waktu itu, Al-Farabi dan Ibnu Sina pemikirannya banyak disadur oleh Syi’ah Isma’iliyah. Keduanya juga merupakan musuh politis dan ideologis Dinasti Saljuq yang berkuasa. Walhasil muncul kemudian tuduhan Al-Ghazali seorang penganut Isma’iliyah yang sesat dan kafir. Sehingga dinilai tak pantas sebagai guru besar Madrasah Nizhamiyah.

Baca juga :  Ketika Imam Al-Ghazali Salatnya Tidak Khusu’

Faishal al-Tafriqah: Membahas Isu Takfiri

Al-Ghazali menulis Faishal al-Tafriqah sebagai pembelaan atas tuduhan itu. Dalam prolog yang dengan berapi-api, Al-Ghazali menyerang penuduhnya sebagai “orang-orang dengki” yang “mentah dan dungu.”

Para penyerangnya ia tuduh dengan ungkapan berikut:

“Sebagai orang-orang yang tuhannya adalah nafsu; sesembahannya adalah para raja. Arah kiblatnya dinar dan dirham. Syariatnya adalah kecerobohan dan pemujaan terhadap jabatan dan kekayaan. Ibadahnya adalah pengabdian kepada mereka yang berpunya. Zikirnya adalah bisikan-bisikan setan. Tafakurnya adalah pencarian muslihat-hukum demi menuruti hasrat ragawi mereka.”

Ia mencurahkan keseluruhan isi Faishal al-Tafriqah untuk membicarakan isu ‘takfir’. Ada logika apik yang Al-Ghazali gelontorkan dalam risalahnya:

Bila para ulama berbeda pendapat, mengapa salah satu di antaranya dicap kafir sementara yang lainnya tidak? Apa tolok ukurnya? Jika Al-Baqillani merumuskan teori tentang sifat Tuhan yang berbeda dari pemikiran Al-Asy’ari, mengapa Al-Baqillani yang mesti dicap kafir bukan Al-Asy’ari?

Lalu, bila misal alasannya karena senioritas Al-Asy’ari, bukankah para pemikir Mu’tazilah lebih senior daripada Al-Asy’ari? Lalu bila misal alasannya adalah keutamaan moral atau intelektualitas, dengan tolok ukur apa kita menimbang kelebihan dan kekurangan para ulama?

Berdasarkan polemik itu, pertanyaan muncul, bagaimana kita membedakan seorang muslim dan kafir? Al-Ghazali menjawab pertanyaan ini dengan rumusan sederhana. Seorang muslim adalah orang yang percaya kepada apapun yang Nabi Muhammad risalahkan. Sementara itu, predikat kafir adalah yang menolak untuk percaya itu.

Ini berarti bahwa seorang Muslim adalah seorang yang percaya serta membenarkan (tashdiq) ajaran-ajaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Sedangkan seorang kafir adalah yang tidak mau mempercayainya.

Doktrin Teologi Inklusif

Pada umumnya, mayoritas kalangan muslim akan menganggap dirinya atau kelompoknya sebagai ahlusunnah wal jamaah. Tidak berlebihan, sebab ada dalil yang menyatakan bahwa kelompok inilah konon nanti satu-satunya yang akan diridhai Tuhan pada Hari Akhir. Sedangkan kelompok lainnya yang jumlahnya banyak, mereka menganggap akan dihempaskan ke dalam neraka.

Baca juga :  Konsep Aswaja Menurut KH Hasyim Asy’ari

Pandangan demikian berdasakan sebuah hadis Rasulullah Saw yang secara eksplisit menyebutkan jama’ah. Sabda Nabi ini biasa dikenal dengan hadis iftiraq, yang dijadikan dalil terpecahnya Islam menjadi 73 golongan.

وَإنّ هذِه الِملّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ، ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الجَنّةِ وَهِيَ الجَمَاعَة

Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di antaranya di dalam neraka, dan hanya satu di dalam surga yaitu al-Jama’ah”. (HR. Abu Dawud)

Dalam redaksi hadis lain menyatakan:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِى مَا أَتَى عَلَى بَنِى إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِى أُمَّتِى مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِى إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى

Kelak akan datang pada umatku sesuatu (perpecahan) yang datang pada Bani Israil  (bagai) terompah saling behadapan. Sehingga jika diantara meraka (kaum bani Israel) terdapat seseorang yang menyetubuhi ibunya sendiri secara terang-terangan, niscaya dari umatku terdapat orang yang melakukan hal demikian. Dan sesungguhnya bani Israel terpecah menjadi tujuh puluh dua agama, sedang umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama, semuanya masuk neraka kecuali satu agama. Para sahabat bertanya: “Siapakah satu golongan itu ya Rasulallah?” Rasul Saw. menjawab: “Agama  yang aku dan para sahabatku menetapinya.” (HR. al-Tirmidzi)

Memang, hampir dimafhumi hadis ini menjadi familiar di kalangan umat muslim. Namun, satu hal yang memprihatinkan ketika ahlussunnah wal jamaah sebagai kelompok yang selamat (najiyah) malah seakan termonopoli.

Tidak sedikit yang menggunakannya sebagai legitimasi saling klaim kebenaran satu sama lain. Akibatnya, beberapa kelompok saling menegasikan, bahkan saling mengkafirkan kelompok atau firqah yang berbeda pandangan.

Baca juga :  Mengenal ASWAJA, Dakwah Islam yang Damai dan Santun

Dalam kitab Bariqah Mahmudiyyah fi Syarh Thariqah Muhammadiyyah wa Syari’ah Nabawiyyah, Abu Sa’id Muhammad bin Muhammad al-Khadimi menjelaskan (syarakh) hadis itu dengan lebih merujuk pada hal yang lebih spesifik lagi. Bahwa, ahlussunnah merupakan pengikut Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Manshur Al-Maturidi.

Walhasil, doktrin tersebut malah lebih terkesan problematis dan cenderung (mau tidak mau) mengarah pada “kecondongan” eksklusifisme golongan. Padahal, sejatinya ahlussunnah wal jamaah harus dipahami sebagai manhaj al-fikr dan memiliki prinsip keagamaan yang berdasar atas inklusifisme (tasamuh).

Pandangan Alternatif Iftiraq

Masih dalam risalah Faishal al-Tafriqah, Imam Al-Ghazali mengemukakan hadis “tandingan” atas hadits iftiraq yang selama ini dipahami mayoritas Muslim. Merujuk risalahnya, riwayat lain selain yang dipahami kebanyakan bahwa yang “celaka” adalah satu golongan. Dalam wacana pemikiran masa kini mungkin bisa disebut semacam teologi inklusif.

Jadi, dari 73 golongan itu, semuanya masuk surga, kecuali satu golongan yang dalam tulisan Al-Ghazali, riwayat tersebut merujuk kepada zindiq. Istilah ini merujuk pada orang atau kelompok tidak membenarkan ajaran-ajaran yang disampaikan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

Meski riwayat ini kurang “masyhur”, namun landasan hadis iftiraq yang diungkapkan Al-Ghazali ini lebih terkesan inklusif, ketimbang monopoli kebenaran dan kafir mengkafirkan satu sama lain.

Adapun Al-Ghazali menyampaikan pandangan tentang firqah najiyah yang selama ini dipahami, sebagai:

وتكون الناجية واحدة وهي التى تدخل الجنة بغير حساب ولا شفاعة

“ Dan umat yang selamat hanya satu, yaitu mereka yang masuk surga tanpa hisab dan syafa’ah”

Wallahu A’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *