Teologi Lingkungan ala Ibnu Arabi

Teologi Lingkungan Ibnu Arabi

Teologi Lingkungan Ibnu Arabi – Kemajuan teknologi kian hari makin pesat, pabrik-pabrik industri semakin hari tumbuh subur. Pembangunan gedung-gedung bertingkat tak kalah sengitnya. Pembabatan hutan dengan dalih menumbuh-kembangkan pertumbuhan ekonomi pun semakin gencar.

Tidak hanya itu, terkadang lahan pertanian, penebangan pohon secara liar pun turut menjadi korban alih-alih pertumbuhan ekonomi. Entah itu berupa pembangunan tol, bandara, industri, atau pun fasilitas umum lainnya.

Sungguh tidaklah berlebihan jika mengatakan “tanam jagung, yang tumbuh gedung, tanam padi, ehh yang tumbuh industri” hal demikian benar adanya.

Bukan bermaksud menolak pembangunan, sungguh sekali pun tidak. Sejauh itu membawa kemaslahatan dan kesejahteraan bagi manusia. Mengapa harus ditolak. Namun yang sangat saya sayangkan dalih pembangunan yang mengeksploitasi alam secara berlebihan.

Alih-alih mensejahterakan, justru memunggungi kesejahteraan yang melahirkan krisis baru berupa krisis lingkungan. Hal demikian justru dapat merugikan kita yang mengalaminya saat ini, dan anak cucu kita nanti.

Krisis lingkungan menjadi-jadi, degradasi moral, dehumanisasi, penggusuran lahan, industrialisasi, dan polusi terjadi menimbulkan pemanasan global, efek rumah kaca, banjir, menipisnya lapisan ozon, erupsi sana-sini, tanah longsor, pencermaran darat, udara, laut dan sebagainya.

Itu adalah dampak dari ulah manusia yang rentan akan bencana. Manusia semakin kehilangan jati diri kemanusiaannya, padahal Allah menjadikannya sebagai pengganti-Nya (Khalifah fil ard) di bumi ini, untuk mengatur dan memelihara bumi sebaik mungkin dan sebagaimana mestinya.

Krisis ekologi tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah bersumber dari paradigma berpikir manusia yang bercorak antroposentris. Di mana manusia dipandang sebagai pusat kehidupan dari alam dan seakan-akan manusia memiliki hak kuasa penuh atas alam sehingga mampu berbuat seenaknya, menjadikan alam sebagai sarana memperkaya dirinya tanpa memikirkan dan mempertimbangkan akibat-akibat yang akan muncul setelahnya.

Sonny Keraf pun menyatakan hal serupa dalam artikelnya bertajuk Sustainable Development bahwa yang menjadi dampak permasalahan ekologi dewasa ini adalah pola pikir manusia yang menempatkan alam sebagai obyek yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Tidak dapat dipungkiri, teknologi dan sains saja tidak cukup dalam upaya menanggulangi krisis ekologi yang terjadi. Justru dengan teknologi yang demikian canggihnya merenggut dengan cepatnya upaya eksploitasi alam.

Jauh sebelum ini, Ibnu Arabi pun memberikan paradigma alternatif berupa teologi lingkungan yang menitik-tekankan terhadap penjagaan dan pelestariaan alam sebagaimana mestinya melalui pendekatan nilai-nilai agama. Ketersalingan antara alam dan manusia begitu erat hubungannya.

Ibnu Arabi yang merupakan seorang sufi besar yang memiliki banyak pengaruh dalam memperkaya khazanah pemikiran Islam. Tokoh ini acap kali dibahas oleh banyak cendekia, baik ilmuan Barat maupun Cendekia Muslim tersendiri. Sebelum menyelam lebih dalam, alangkah baiknya melihat ke permukaan siapa Ibnu Arabi sebenarnya dan bagaimana arah pemikirannya?

Ibnu Arabi dan Wahdat al-Wujudnya

Ibnu Arabi yang memiliki nama lengkap Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Ali al-al-Arabi at-Ta’I al-Hatimi dan dijuluki Muhyi ad-Din (Sang Pembangun Agama) dan as-Syaikh al-Akbar (Sang Guru Teragung) adalah seorang sufi besar yang dikenal banyak kalangan. Dia juga seorang penulis produktif, tak ayal karya demi karya banyak lahir dari rahim tangannya.

Segala pokok permasalahan yang dibahas mulai dari ontologi-metafisikanya, epistemologi hingga aksilogi dalam hal ini etika dan estetika tidak pernah luput untuk menyandingkan dan menghadirkan kandungan syariat (Alquran dan Hadits) sebagai sumber pengetahuan dan kebenarannya.

Wahdat al-Wujud salah gagasan terkenalnya, yang mewujud dalam setiap lini konsep tasawufnya. Meskipun ada juga beberapa tokoh yang mengganggap corak tasawufnya yang unitarian ini cenderung antinomian yang dikatakan cenderung eksesif dan abai akan hukum-hukum keagamaan, dan tidak mengindahkan moralitas.

Padahal dengan menjadikan wahdat al-Wujud sebagai dasar pijakan setiap konsepnya memiliki pandangan terbuka serta memberikan penekanan yang kuat pada perlunya harmoni, kesamaan (musawah), kesepahaman (kalimatun sawa’), dan keselarasan dalam kehidupan bersama. Di mana semua dipandang berasal dari Allah dan akan kembali padaNya, bahkan kepada alam sekalipun yang notabennya juga sebagai mahlukNya.

Wahdat al-Wujud pada dasarnya bahwa wujud pertama-tama adalah tunggal, satu, atau esa. Dengan kata lain bahwa hanya Allah yang dapat disebut wujud secara haqiqi, tidak ada wujud disebut wujud kecuali Allah itu sendiri. Tidak hanya menekankan keesaan wujud, melainkan menekankan keanekaan realitas.

Sedangkan alam fenomenal yang beraneka ragamnya ini hanyalah manifestasi (tajalli) dari diri-Nya. Terjadinya tajalli Tuhan pada alam karena dasar cinta untuk dikenal dan ingin melihat diriNya melalui alam. Dengan demikian Alam bagi Ibnu Arabi adalah cermin dari Allah (wujud).

Teologi Lingkungan

Dari konsep wahdat al-Wujud-nya mewujud dalam etika lingkungan. Dengan tetap berpegang teguh pada prinsip kesatuan yang beragam “segala sesuatu berasal dari dan kembali kepadaNya”. Karena alam atau kosmos merupakan cermin Tuhan, maka pada hakikatnya wujud alam adalah wujud Tuhan, makanya alam itu indah.

Lanjut Ibnu Arabi dalam karya magnum opus-nya al-Futuhat al-Makkiyah menyatakan, hak-hak manusia seperti halnya kebutuhan sandang, pangan dan lainnya itu tidak lain hanyalah untuk melanjutkan keberlangsungan hidup manusia itu sendiri, dan tak lebih dari itu.

Karena baginya manusia adalah pengganti Tuhan yang ditugaskan untuk memelihara dan menjaga lestari alam. Manusia boleh memegang sesuatu itu, tapi tidak untuk memilikinya dengan kata lain semua hanyalah titipan dari-Nya. Ibnu Arabi menyebut hak ini sebagai milk amanah.

Dengan keterhubungan dan ketersalingan manusia, alam dan Tuhan yang erat, melalui konsepnya yang bercorak teosentris dan teomorfis menjadikan hubungan antara alam, manusia, dan Tuhan tumbuh harmonis.

Hal ini sebagai satu-kesatuan tak terpisahkan yang mengakar pada satu Wujud, karena itu alam dan manusia tidak tercerai-beraikan dari prinsip metafisis wujud tunggal (wahdat al-wujud) tadi. Dengan meyakini bahwa “Segala sesuatu berasal dari dan akan kembali kepada Tuhan”.

Akhirnya, dari sekelumit penjelasan di atas, membuktikan bahwa buah pikiran Ibnu Arabi tidak usang, progresif dan membawa angin segar itu patut untuk terus digali dan ditemukan relevansi dan kontribusinya hingga mampu dikontekstualisasikan dewasa ini sebagai salah satu paradigma alternatif bagi manusia untuk bertindak lebih arif dan bijaksana dalam menginterpretasi alam sehingga lahir benih-benih penghormatan terhadap alam sebagai tajalli Tuhan yang patut kita jaga lestarinya

Wallahu A’lam bi al-shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *