Teologi Pembebasan dan Upaya Mewujudkan Masyarakat Egalitarian

Teologi Pembebasan

Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer – Bagi orang yang mengikuti diskursus kajian keislamaan modern, maka ia akan melihat para sarjana Muslim menawarkan beragam dinamika pemikiran. Tapi, kalau kita amati secara keseluruhan rumusan pemikiran itu akan bermuara pada cita-cita yang sama. Cita-cita tersebut yakni, menafsir ulang doktrin keagamaan tradisional untuk mengerjar ketertinggalan umat Islam.

Kita harus akui dengan setulus hati, bahwa dalam banyak hal umat Islam memang jauh tertinggal oleh umat lain. Misalnya dalam hal Indeks Pengembangan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) pada level rendah ditempati oleh negara-negara yang dihuni oleh mayoritas Muslim.

Atas alasan yang demikianlah para sarjana Muslim yang memiliki perasaan “sadar” akan posisinya sebagai pemikir untuk menawarkan gagasan, ide, bahkan pembaharuan (ijtihad).

Di Indonesia, kita mengenal Harun Nasution yang gagasannya pernah meramaikan wacana pemikiran keislaman Tanah Air tentang “teologi rasional”-nya. Sehingga ia disebut-sebut sebagai pelopor kebangkitan “Neo-Mu’tazilah”. Lalu ada Nurcholis Madjid (Cak Nur) yang mencanangkan ide “liberalisasi” dan “sekularisasi”, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan pemikirannya pada gerakan “sosio-kultural”.

Baca juga :  Cak Nur dan Tradisi Kemanusiaan Islam di Dunia Melayu
Baca juga :  Cara Gus Dur Melawan Korupsi dengan Humor

Kesadaran tentang perlunya membangun kerangka pemikiran yang transformatif itu tidak hanya muncul di Indonesia, tetapi juga di negara-negara Muslim lainnya. Kita bisa menyebut Hassan Hanafi (Mesir) yang terkenal dengan gagasan Kiri Islam (al-Yasȃr al-Islȃmi). Ia menulis karya monumental Min al-Aqīdah ila al-Tsaurah (dari Teologi ke Revolusi) sebanyak 5 jilid.

Ada juga Ziaul Haque (Pakistan) yang menulis buku cukup provokatif, Revelation and Revolution in Islam (Wahyu dan Revolusi dalam Islam). Selain itu, harus pula disebut Asghar Ali Engineer (India), yang menulis buku Islam and Its Relevance to Our Age, yang terkenal dengan gagasan “Teologi Pembebasan”-nya.

Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer

Saya akan fokus pada nama yang disebutkan belakangan, Asghar Ali Engineer. Asghar bukan hanya seorang pemikir, melainkan juga seorang aktivis. Ia merupakan pemimpin salah satu kelompok Syi’ah Isma’iliyah, Daudi Bohras (Guzare Daudi), yang berpusat di Bombay, India.

Melalui wewenang keagamaan yang ia miliki, Asghar berusaha menerapkan gagasan-gagasannya. Kendati, ia harus berhadapan dengan generasi tua yang cenderung bersikap konservatif, mempertahankan kemapanan.

Sebagai aktivis, Asghar tampil sebagai pembela umat tertindas dan berjuang melawan kezaliman. Ketika gagasan Teologi Pembebasan muncul di kalangan gereja Katolik di Amerika Latin, yang ternyata tidak direstui oleh Vatikan, Asghar Ali menulis artikel “Teologi Pembebasan dalam Islam.”

Baca juga :  Wacana Islam Publik dan Politik Kebangsaan Ulama
Baca juga :  Filsafat, Epistemologi Saintisme dan Ideologisasi Sains

Dengan gagasan Teologi Pembebasan inilah di antara faktor sosok Asghar dikenal. Lalu, apa yang dimaksud oleh Asghar dengan Teologi Pembebasan? Bukankah teologi yang sering dipahami umum cenderung justru mengikat dan mengekang, tidak membebaskan?

Berdasarkan telaah kesejarahan terhadap dakwah dan perjuangan Nabi Muhammad di masa-masa permulaan, Asghar Ali berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang revolusioner, baik dalam ucapan maupun tindakan, dan beliau berjuang untuk melakukan perubahan-perubahan secara radikal dalam struktur masyarakat zamannya.

Muhammad dipilih sebagai instrumen kemahabijaksanaan Tuhan untuk membimbing dan membebaskan masyarakat Arabia dari krisis moral dan sosial yang lahir dari penumpukan kekayaan yang berlebih-lebihan sehingga menyebabkan kebangkrutan sosial.

Islam bangkit dalam setting social Makkah, bukan hanya sebagai gerakan keagamaan. Namun lebih dari itu, agama ini juga sesungguhnya sebuah gerakan transformasi dengan implikasi sosial-ekonomi yang sangat mendalam.

Dengan kata lain, Islam menjadi tantangan serius bagi kaum monopolis Makkah. Agama ini lahir, bukan hanya mengajak masyarakat Arabia berhenti menyambah berhala, untuk hanya menyembah kepada satu Tuhan (tauḫid).

Baca juga :  Arsitektur Kristen dalam Masjid-masjid Bersejarah
Baca juga :  KH Ulil Abshar Abdalla: Manusia, Sejarah, dan Akidah Asy'ariyyah
Islam Melawan Kaum Monopolis

Harus dicatat, kaum hartawan Makkah bukan tidak mau menerima ajaran-ajaran keagamaan Nabi—sebatas ajaran tauhid kepada satu Tuhan. Hal itu bukanlah sesuatu yang merisaukan mereka. Akan tetapi, yang merisaukan mereka justru implikasi-implikasi sosial-ekonomi dari risalah Nabi itu.

Seperti diketahui, di sana telah berkembang kepentingan ekonomi perdagangan yang sangat kuat. Dan, kaum monopolis sadar bahwa dalam risalah nabi terdapat sesuatu yang mengancam akumulasi kekayaan mereka, yang selama ini berjalan tanpa rintangan.

Akan tetapi, sekarang ayat-ayat Al-Qur’an mencela penumpukan kekayaan itu. Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an tentang ancaman Tuhan terhadap siapa saja yang suka mengakumulasi kekayaan. Di saat bersamaan acuh dan tidak mementingkan kebutuhan orang-orang lemah, tertindas, dan hidup dalam kemiskinan.

Di antara ayat-ayat yang mencela hal itu yang diturunkan di Makah pada awal-awal Islam adalah Surat al-Humazah ayat 1-7 dan Surat al-Ma’un ayat 1-7.

Asghar juga melakukan pembongkaran, reinterpretasi, rekonseptualisasi tentang berbagai terma keagamaan. Term yang ia bongkar antara lain adalah konsep mukmin dan kafir, ia merevisi dua term itu secara berbeda dengan apa yang umum umat Islam pahami sekarang.

Ia menulis: “… orang-orang kafir dalam arti yang sesungguhnya adalah orang-orang yang menumpuk kekayaan dan terus membiarkan kezaliman dalam masyarakat serta merintangi upaya-upaya menegakkan keadilan…”

Baca juga :  Hilful Fudhul, Potret Penegakan Keadilan Pra-Islam
Baca juga :  Istilah Kafir Dalam Konteks Negara Bangsa dan Upaya Menjaga Harmonisasi Antar Umat Beragama
Mukmin Egalitarian

Dengan demikian, bagi Asghar Ali, seorang mukmin sejati bukanlah yang sekadar percaya kepada Allah. Justru ia menilai mukmin juga harus seorang mujahid yang berjuang menegakkan keadilan, melawan kezaliman dan penindasan.

Jadi, seorang mengaku sebagai Muslim harus berjuang menegakkan keadilan dan melawan kezaliman serta penindasan. Bukan justru mendukung sistem dan struktur masyarakat yang tidak adil. Walaupun ia percaya kepada Tuhan, namun orang itu termasuk kafir dalam pandangan Asghar.

Itulah Teologi Pembebasan menurut Asghar Ali, yakni membebaskan umat dari ketidakadilan, penindasan, monopoli kaum elit terhadap masyarakat kelas bawah, dan memperjuangkan hak-hak kaum lemah.

Dengan demikian, jika itu terlaksana dengan baik, akan tercipta masyarakat yang egaliter; masyarakat yang sama-sama mencicipi hak kemerdekaan sebagai manusia. Dalam konteks dunia kita hari ini, saya kira mempertimbangkan Teologi Pembebasan Asghar penting dilakukan. Sekian!

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *