Teringat Tokoh, Terbaca Silam

kata dan pengalaman

Judul           : Kata dan Pengalaman

Penulis        : Goenawan Mohamad

Penerbit      : Circa

Cetak           : 2020

Tebal           : 98 halaman

ISBN           : 978 623 7624 34 9

Sedih masih bersambung. Sekian penggubah sastra pamitan dan kita bersedih. Kita menjadi ahli waris sah untuk persembahan puisi, cerita pendek, dan novel. Sedih itu kewajaran bila kita masih mau membaca buku-buku mengingatkan ketekunan bersastra dan mengumpulkan sedikit demi sedikit berkaitan biografi.

Di Indonesia, kematian pengarang memicu penulisan obituari dimuat di koran, majalah, atau laman-laman di internet. Di media sosial, ucapan duka dan kalimat-kalimat mengingat tokoh dan buku pun menderas. Kematian demi kematian masih jarang mendapat penghormatan dengan penulisan buku biografi meski tipis.

Kadar kesedihan dan suguhan tulisan berbeda untuk para tokoh berpamitan dari kita dan sastra Indonesia. Setahun lalu, Sapardi Djoko Damono pamitan. Obituari-obituari ditulis dan terbaca publik. Acara-acara diselenggarakan untuk penghormatan.

Penerbitan buku-buku berisi tulisan para murid, pengagum, sahabat pun terbit menjadi buku: esai dan puisi. Kita masih menantikan buku biografi terbit. Konon, sekian tahun lalu penulisan biografi Sapardi Djoko Damono dilakukan Hasan Aspahani.

Kita masih menunggu itu terbit. Penghormatan belum usai. Penerbit besar di Indonesia masih menerbitkan buku-buku Sapardi Djoko Damono. Sekian judul adalah cetak ulang. Buku-buku masih bersama kita dalam ziarah kata-kata dan imajinasi.

Penerbit Circa lekas menanggapi pamitan Sapardi Djoko Damono dengan penerbitan buku kecil. Buku berisi dua esai garapan Goenawan Mohamad mengarah tokoh dan pokok: Sapardi Djoko Damono dan buku-buku.

Penjudulan buku oleh redaksi Circa mengena: Kata dan Pengalaman. Buku kecil membekali orang-orang ingin mengetahui Sapardi Djoko Damono dan album puisi telah terberikan, sejak masa 1960-an sampai sekarang. Kini, buku terbaca untuk mengingat setahun sang tokoh pamitan tapi puisi-puisi belum selesai terbaca.

Baca juga :  Kampanye Keadilan yang Gagal Terdengar

Kecermatan menikmati dan mengulas puisi-puisi Sapardi Djoko Damono selama puluhan tahun, menghasilkan pendapat tak terlalu mengejutkan oleh Goenawan Mohamad: “Puisi memang hidup dalam metafor, bukan simbol, bukan rumus dan definisi. Jika rumus dan definisi mereduksi dunia pengalaman, metafor justru memperluas rangkumannya. Ia menampilkan satu kejadian (benda) tapi sekaligus menghadirkan arah lain.”

Kita pun mengerti keranjingan metafor dalam babak-babak perpuisian Sapardi Djoko Damono: sederhana dan mengejutkan. Di luar puisi, kelimpahan metafor pun bermunculan saat Sapardi Djoko Damono menulis esai-esai bertema puisi atau mengulas puluhan buku puisi.

Pada suatu masa, Sapardi Djoko Damono mengulas puisi-puisi gubahan Chairil Anwar, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Abdul Hadi WM, Joko Pinurbo, dan lain-lain. Ia memiliki bekal-bekal berat dan ringan dalam menghasilkan esai-esai turut menempatkan buku puisi dan para tokoh itu makin moncer dalam sastra Indonesia.

Ketekunan menulis ulasan puisi dan menggubah puisi tak menimbulan keamburadulan. Sapardi Djoko Damono masih memiliki pijakan kuat dalam berpuisi, tak mengalami kecapekan.

Pada usia 70-an tahun, ia malah berpesta puisi. Para pembaca diganjar sekian buku puisi dan novel-novel, mengesankan si tua berada dalam babak membara bersastra.

Sapardi Djoko Damono (1966) memberi pujian kepada Rendra: “Dan ia pun telah berbicara mengenai kerendahhatian, kebijaksanaan hidup, kesederhanaan, kesalehan, kejujuran, cinta, dan kesetiaan. Dalam menciptakan dan merenungkan itu semua, selama puluhan tahun, ia telah menciptakan larik-larik dan ungkapan yang, jika kita mau, bisa kita petik sebagai pepatah.”

Baca juga :  Nalar Kritis Muslimah: Memahami Pengalaman Perempuan

Hal itu berlaku untuk Sapardi Djoko Damono. Puluhan tahun, ia menggubah ratusan puisi. Para pembaca mendapat kutipan, menjadikan itu pepatah: dari masalah asmara sampai religiositas.

Puisi demi puisi dibaca Goenawan Mohamad, mengundang pula kutipan-kutipan ampuh dari para pengarang dan pemikir pelbagai negeri. Persembahan puisi Sapardi Djoko Damono seperti berada dalam ruang pergaulan (teks) istimewa, tak selalu harus “sederhana”.

Goenawan Mohamad memberi pujian lanjut dari pertemuan teks memusat album puisi gubahan Sapardi Djoko Damono selama puluhan tahun: “…. Dalam puisi itu ada terima-kasih yang tak selamanya dikatakan. Mungkin kepada Hidup. Mungkin kepada Tuhan.”

Kita berpatokan “puisi” dan “terima-kasih”. Goenawan Mohamad menulis singkat saja, belum bermaksud menghadirkan tulisan panjang dijuduli “Sapardi dan Hal-Hal yang Tak Selesai.” Sapardi Djoko Damono memang berpamitan tapi puisi-puisi itu mengajari pembaca berterima-kasih, tak henti-henti.

Goenawan Mohamad juga berterima-kasih atas persahabatan bersama Sapardi Djoko Damono, sejak muda. Terima-kasih berdalih puisi-puisi. Esai berjudul “Kata dan Pengalaman” dibuat untuk menghormati Sapardi Djoko Damono, ditulis 25 Juli 2020, setelah sang tokoh pamitan.

Goenawan Mohamad telah lama menulis tentang Sapardi Djoko Damono, terbukti dengan esai penting berjudul “Nyanyi Sunyi Kedua”. Esai lawas dari masa akhir 1960-an itu dimuat mendampingi “Kata dan Pengalaman”.

Kita membaca sebagai lengkap: ulasan atas puisi-puisi Sapardi Djoko Damono terbit menjadi buku duka-Mu abadi dan penghormatan dari ketekunan berpuisi sampai sepuh.

Baca juga :  Sapardi dan Arti Kata “Sederhana”

Pujian dari masa lalu: “Sapardi Djoko Damono telah menyatukan diri dengan lirik pada waktunya yang tepat. Kumpulan duka-Mu abadi adalah suatu perkembangan baru, pembebasan dan penemuan kembali.

Buku pertama itu “mengabadi” disusul puluhan buku terbit berlatar abad XX dan XXI. Goenawan Mohamad tak ingin mengganti judul buku menjadi “puisimu abadi” atas persembahan-persembahan Sapardi Djoko Damono, menulis puisi sejak remaja sampai usia 70-an tahun.

Kita membaca ulasan-ulasan Goenawan Mohamad mengacu puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono pada masa 1920-an dan abad XXI, belum memberi perhatian untuk puisi-puisi masa 1950-an. Kita memang telat mengetahui dokumentasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.

Ingatan setahun pamitan mungkin terasa “sederhana” bila kita juga membaca Manuskrip Sajak Sapardi Djoko Damono (2008) disusun Indah Tjahjawulan. Di situ, kita bertemu puisi-puisi digubah saat muda, belum tentu dimuat di majalah atau terbit menjadi buku.

Kita ingin lengkap untuk mengucap terima-kasih dengan warisan ratusan puisi dari Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisi ditulis tangan masa 1950-an seperti “menghidupkan” lagi sekian misi biografis, sebelum Sapardi Djoko Damono menjadi tokoh besar dalam sastra Indonesia. Begitu.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *