Tiga Jenis Ibadah

Ditinjau dari motivasi dan niatnya, ibadah seseorang bisa dibagi ke dalam tiga jenis, pertama ibadat al-abid (ibadahnya seorang budak), kedua ibadat at-tujjar (ibadahnya para pedagang), dan ketiga ibadat al-akhyar (ibadahnya orang-orang pilihan).

Ibadat al-abid adalah ibadah seorang hamba karena takut (khauf) kepada Allah. Dia mendirikan shalat, melakukan puasa, zakat, dan ibadah lainnya karena takut mendapat dosa atau takut masuk neraka. Dikatakan ibadat al-abid karena kepatuhan seseorang di sini seperti kepatuhan seorang budak terhadap tuannya.

Seorang budak akan mengikuti apa saja yang diperintahkan oleh tuannya karena takut tidak diberi makan. Atau seperti anak buah yang senantiasa melakukan apa saja yang bosnya perintahkan karena takut tidak mendapat upah. Semua kepatuhannya terhadap Tuhan dilandasi oleh ketakutan dan ketakutan.

Berbeda sama sekali dengan ibadah al-abid, apa yang disebut dengan ibadat al-tujjar adalah ibadah seorang hamba karena ingin mendapatkan pahala atau surga. Dikatakan ibadat at-tujjar karena ibadah ini sangat “transaksional”, layaknya pedagang. Pedagang adalah orang yang selalu ingin mendapatkan untung dan tak mau rugi.

Dia membaca Al-Qur’an, bersedakah, haji, dan lain-lain, dan dia berharap dengan ibadah-ibadah yang dia lakukan tersebut dia mendapat imbalan. Dalam bahasa Adam Grant, dia ini adalah seorang taker yang get more than he gives, ingin mendapat lebih banyak dari apa yang telah dia berikan.

Di antara dua jenis ibadah ini, mana yang lebih utama?

Menurut Al-Ghazali, ibadah dengan penuh pengharapan (raja) itu lebih utama dari pada dengan penuh ketakutan (khauf). Mengapa? Sifat raja bisa membuat seseorang tambah mahabah, cinta kepada Allah. Sedangkan khauf bisa menyebabkan seseorang putus asa. Dengan demikian, ibadat at-tujjar lebih utama ketimbang ibadat al-abid.

Meski lebih utama dari ibadat al-abid, derajat ibadat al-tujjar tidak akan bisa mengungguli derajat ibadah yang ketiga, yakni ibadat al-akhyar. Ibadat al-akhyar adalah ibadah seorang hamba yang didasari rasa malu dan syukur atas apa yang telah Allah berikan kepada orang tersebut. Orang pada tingkatan ini tidak lagi melihat perintah Allah sebagai sesuatu yang mengandung ancaman menakutkan atau sesuatu yang menjanjikan kebahagiaan.

Orang pada tingkatan ini sudah tidak lagi melihat perintah Allah sebagai sekadar kewajiban, melainkan sebuah kebutuhan. Ibadah, bagi orang pada derajat ini adalah ungkapan syukur atas anugerah yang telah Allah berikan. Inilah level ibadah di mana para Rasul, Nabi, dan orang-orang saleh berada.

Rasulullah yang merupakan sebaik-baik manusia dan ma’shum, terhindar dari perbuatan dosa, pada suatu kesempatan melakukan shalat malam sampai kakinya bengkak. Ketika ditanya oleh Aisyah mengapa beliau melakukan hal itu, jawaban Rasulullah adalah “Tidak patutkah saya menjadi hamba Allah yang bersyukur?”

Gambaran ibadat al-akhyar juga tercermin dalam diri seorang ulama bernama Hatim Al-Asham. Sebagaimana terdapat dalam kitab An-Nawadir karya Syihabuddin Qalyubi, Ishom bin Yusuf pernah datang ke majelis Hatim Al-Asham dengan maksud ingin menguji kehebatan Hatim.

Bertanyalah Ishom kepada Hatim, “Wahai ayah Abdurrahman, bagaimana engkau melakukan shalat?”

Hatim memalingkan wajahnya pada Ishom dan berkata, “Jika telah datang waktu shalat maka saya berdiri dan melakukan wudhu secara dzahir dan wudhu secara batin.”

“Bagaimana cara wudhu batin?” bertanya Ishom.

“Wudhu dzahir adalah membasuh anggota-anggota tubuh dengan air. Sedangkan wudhu batin adalah membasuh tubuh dengan tujuh hal,” jawab Hatim.

Tujuh hal itu adalah “dengan taubat, penyesalan, meninggalkan cinta dunia dan pujian makhluk, meninggalkan suka kekuasaan, meninggalkan suka menyimpan unek-unek jelek, dan meninggalkan sifat dengki.”

“Kemudian saya menuju masjid dan membentangkan tubuhku, maka aku melihat ka’bah. Aku berdiri di antara keinginan dan kewaspadaanku, Allah melihatku, surga berada di samping kananku, neraka berada di samping kiriku, malaikat pencabut nyawa berada di belakangku. Aku seakan-akan meletakkan kakiku di atas sirat dan saya menganggap bahwa ini adalah shalat terakhir yang bisa kulakukan.”

“Setelah itu aku niat dan bertakbiratul ihram dengan bagus, membaca Al-Qur’an dengan penuh penghayatan, ruku dengan penuh ketawadhuan, sujud dengan penuh kerendahan, tasyahud dengan penuh pengharapan, dan salam dengan penuh keikhlasan. Inilah shalat yang kulakukan sejak 30 tahun.”

Medengar paparan Hatim, Ishom lalu berkata, hadza syaiun la yaqdiru alaihi ghairuka, ini adalah sesuatu yang orang selainmu tidak mampu melakukannya. Dia pun menangis sejadi-jadinya.

Demikianlah jenis-jenis ibadah dilihat dari niat dan motivasinya. Tentu semua jenis ibadah tersebut baik. Tetapi dengan mengetahui jenis-jenis ibadah tersebut, paling tidak kita bisa berintrospeksi: Di tingkat apa ibadah kita? Apakah ibadat al-akhyar, ibadat at-tujjar, atau malah ibadat al-abid?

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *