Tiga Tuntunan Cinta dalam Surah Adh-Dhuha

Mekah sore itu sendu. Matahari sejak pagi tak tampak berpadu. Di sudut rumah sederhana itu, sosok al-Amin terdiam memaku. Hatinya membuncah rindu. Batin bergejolak resah tak menentu; Kemanakah perginya sang wahyu? Adakah ia menghilang sejenak beberapa waktu? Atau mungkin, ia tak ingin lagi bertemu?

Dari nurani terdalam, dirinya menyadari, ar-Rahman tidak akan mungkin membiarkannya seorang diri. Namun, anggapan kaumnya kala itu cukup membuat perasaan gundah itu kian meninggi, bertambah setiap hari. “Tuhannya telah meninggalkan dirinya,”  demikian cetoleh mereka penuh dengki. Sisi manusiawinya pun tak dapat memungkiri; al-Amin bersedih hati. Hingga suatu hari, di tengah keputusasaan yang sulit dibendung lagi, akhirnya, terlihatlah tanda-tanda wahyu kembali. Seolah ingin lebih meyakini, Rasulullah saw sepenuh hati mengamati.

Wadh dhuha. Wal layli idza saja. Ma wadda’aka rabbuka wama qala.”— Dan demi waktu Dhuha. Dan demi malam apabila telah hening. Tuhanmu tidak pernah meninggalkanmu (Muhammad) dan tidak pula membencimu. (Qs. adh-Dhuha/ 93: 1-3).

Allahu Akbar! Pekiknya seraya bertakbir penuh syukur dan bahagia. Air matanya tak kuasa ia tahan lagi, kedua tangannya mengusap wajahnya yang pucat pasi. Alhamdulillah, perasaan gelisah, takut dan sedih itu sirna tak bersisa. Sajadah tempat bersujud pun menjadi saksi kedatangan Ruhul Qudus yang sedemikian ia nanti!

Surah adh-Dhuha. Surah ini turun sebelum hijrah ke Madinah. Ada beberapa alasan perihal turunnya surah ini. Selain sebagai tuntunan tiga perintah Allah (di penghujung ayat), surah ini juga sebagai sanggahan terhadap orang kafir yang menyatakan bahwa Allah telah meninggalkan Rasulullah saw. karena terhentinya wahyu.

Baca juga :  Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad Artinya

Sebelum turun surah ini, Rasulullah saw telah menerima sepuluh wahyu, beberapa di antaranya ialah surah Iqra’ (al-‘Alaq), al-Qalam, al-Muzzammil, al-Mudatstsir, al-Lahab, at-Takwir, al-A’la, Al-Insyirah, al-‘Ashr, dan al-Fajr. Setelah turunnya sepuluh wahyu tersebut, tiba-tiba wahyu terputus kedatangannya. Kejadian ini membuat Rasulullah cemas, sehingga lahirlah anggapan masyarakat Jahiliyah kala itu. Terhentinya wahyu juga berdampak negatif bagi kondisi kejiwaan Rasulullah yang telah rindu dengan turunnya wahyu. Kerinduan melahirkan kegelisahan, kegelisahan melahirkan rasa takut. Perasan takut inilah (yang dialami oleh seluruh manusia termasuk Rasulullah) sebagai sifat manusiawi sebab yang membedakan Rasulullah dengan manusia lain ialah dari segi perolehan wahyu semata.

Timbul pertanyaan, berapa lama wahyu terhenti dan karena apa? Dalam hal ini, Imam Bukhari berpendapat wahyu terhenti selama 2-3 hari sedangkan Ibn Jarir ath-Thabari 12 hari. Bahkan ada yang berpendapat lebih lama lagi yakni 15-40 hari. Surah adh-Dhuha merupakan awal dari surah yang dinamai Qishar al-Mufashshal yang ketika turunnya surah ini, Nabi bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar). Dari pengamalan beliau inilah, para ulama menganjurkan agar kita senantiasa bertakbir setelah membaca surah adh-Dhuha (maupun surah-surah setelah adh-Dhuha) baik ketika dalam shalat maupun di luar shalat. Sebab, siapa pun yang mengikuti jejak Nabi, Allah menjanjikan akan memeroleh kesudahan yang baik (Qs. al-Qashash/ 28: 83 dan Qs. al-Anbiya’/21: 105), termasuk membesarkan asma-Nya selepas membaca surah ini.

Baca juga :  Isra’ Mi’raj: Napak Tilas Sejarah Tiga Agama di Yerusalem

Selain sanggahan terhadap anggapan orang-orang kafir seperti yang telah tertulis di atas, surah adh-Dhuha juga mengisyaratkan tanda cinta Allah (bukan hanya) kepada Rasulullah namun juga kepada umat-umat Rasulullah. Adapun tiga anugerah Allah yang menuntut pelaksanaan tiga petunjuk Allah di penghujung ayat ini;

Pertama, Nabi Muhammad yang terlahir sebagai anak yatim, kemudian dianugerahkan perlindungan oleh Allah (ayat 6) sehingga, dalam ayat 9, beliau dituntut untuk tidak berlaku sewenang-wenang terhadap anak-anak yatim—mengingat menjadi anak yatim sangatlah pedih dan tidak mudah.

Kedua, Rasulullah yang tadinya dalam keadaan butuh, tidak berkecukupan, kemudian memeroleh kecukupan dan rasa puas (ayat 8) dan, sebagai tanda syukur, beliau diperintahkan untuk tidak menolak apalagi menghardik siapa pun yang meminta atau bertanya. Isyarat ini terdapat dalam ayat 10.

Ketiga, Rasulullah yang tadinya bingung dan tidak mengetahui arah yang benar kemudian beliau mendapatkan petunjuk-petunjuk agama (ayat 7), beliau berkewajiban menyampaikan petunjuk-petunjuk agama itu kepada orang lain (ayat 11).

Ketiga tuntunan cinta dari Allah dalam surah adh-Dhuha ini akhirnya bukan hanya perintah untuk berbenah diri dalam ibadah kepada Allah, namun juga memupuk kepedulian kepada sesama manusia— temasuk menjaga hak-hak anak yatim seperti disebutkan dalam ayat 6, agar kita merasakan kesulitan dan kesusahan yang dialami Rasulullah kecil juga anak-anak yang terlahir tanpa seorang ayah.

Baca juga :  Komitmen Nabi Muhammad Menyikapi Perbedaan

Oleh karenanya, Aisyah bintu Syathi’, seperti yang dikutip Quraish Shihab, menuturkan, Allah melalui ayat-ayat dalam surah adh-Dhuha ini telah menyimpulkan inti dari risalah Nabi Muhammad yaitu menghindarkan kenistaan atas orang-orang yang tidak berpunya, memenuhi keperluan orang-orang yang meminta, meniadakan penindasan terhadap anak-anak yatim serta kebingungan atas orang-orang yang belum menemui kebenaran. Dengan demikian, nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada Rasulullah harus disyukuri. Bentuk rasa syukur itu salah satunya adalah dengan menyampaikan ketiga tuntunan di atas kepada seluruh umatnya.

Demikian tiga tuntunan cinta Allah dalam surah adh-Dhuha ini yang mengisyaratkan inti dari risalah Rasulullah saw. yaitu membela orang dha’if (lemah) dan mustad’afin (orang-orang yang dilemahkan) agar seluruh manusia dapat hidup dengan aman, tenang, damai, nyaman tanpa kezaliman, dan kekerasan.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.