Tiga Upaya Menggagas Perdamaian dalam Beragama

Perdamaian selalu dipandang sebagai solusi yang amat tepat untuk berkehidupan bersama di muka bumi ini. Di sisi lain ada juga kelompok yang memahami bahwa perdamaian adalah doktrin langit yang hanya dimiliki Tuhan belaka. Tuhan selalu disebut-sebut sebagai pencipta kedamaian, sedangkan manusia adalah makhluk yang ditakdirkan untuk berperang dan bermusuhan.

Sungguh ironi sekali kelompok yang beranggapan demikian. Yang lebih kebablasan lagi kelompok-kelompok tadi menganggap, berperang atau berjihad sebagai perintah Tuhan yang paling otentik untuk menyelesaikan problem kemanusiaan. Pemahaman seperti ini sungguh kontradiktif. Di satu sisi Tuhan disimbolisasikan sebagai pembawa kedamaian, akan tetapi di sisi yang lainnya Tuhan juga mengajarkan pada peperangan.

Doktrin-doktrin seperti ini selalu saja menganggap bahwa perdamaian adalah doktrin keakhiratan, sedangkan dunia dianggap hanyalah permainan dan senang-senang belaka yang selalu berakhir dengan krisis kemanusiaan, krisis moral dan krisis etika. Dunia dianggap sebagai tempat noda dan dosa.

Mencermati doktrin seperti di atas, rasa-rasanya perlu ada gagasan untuk mengkonstruk kembali beragama kita, dan menggagas kehidupan beragama berasaskan perdamaian. Setidaknya ada tiga upaya yang bisa kita lakukan untuk menggagas beragama berasaskan perdamaian, apapun agamanya.

Pertama, perlu adanya kesadaran bahwa memang perdamaian merupakan doktrin Tuhan, dan tugas kita adalah membumikan doktrin itu, sehingga perdamaian tidak lagi hanya milik Tuhan saja, akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama manusia seantero alam, apapun agamanya.

Baca juga :  Moderasi Beragama dan Perempuan

Kedua,mensyiarkan dunia adalah tempat kedamaian. Dunia tidak melulu permainan dan senang-senang belaka. Perlu ada pemahaman bahwa beragama di dunia berarti sedang memperjuangkan ajaran kemanusiaan, apapun agamanya.

Ketiga, perdamaian merupakan esensi yang pokok bagi kehidupan yang berkeadaban. Perdamaian merupakan suluk keagamaan yang mesti ditempuh oleh setiap individu, sehingga beragama akhirnya dimaknai sebagai cara hidup secara damai dan memahami keragaman.

Beragama tidak lagi berkonflik, tidak lagi membenci, tidak lagi mencurigai. Sejauh upaya nirkekerasan ditempuh, sejauh upaya perdamaian dilakukan, maka disitulah sebenarnya esensi agama diimplementasikan.
Wallahu A’lam.

 

Artikel ini juga tersedia dalam Bahasa Inggris

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.