Tingkat Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Mahasiswa UIN di Indonesia

Kemampuan baca tulis Al-Qur’an (BTQ) berdasarkan Keputusan Dirjen Pendis Nomor 102 Taun 2019 tentang Standar Keagamaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam merupakan salah satu kualifikasi kemampuan keterampilan yang harus dimiliki setiap lulusan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Namun pada kenyataannya, kemampuan yang sepatutnya dikuasai setiap muslim tersebut masih menjadi persoalan umum yang di hadapi hampir seluruh PTKI, khususnya pada IAIN yang beralih status menjadi UIN.

Kenyataan ini sangat dimaklumi karena sejak peralihan status tersebut, sejumlah prodi umum pun dibuka dan mahasiswa berlatar belakang pendidikan umum banyak yang masuk menjadi mahasiswa UIN.

Berdasarkan realitas tersebut Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) telah melakukan penelitian terkait kemampuan BTQ mahasiswa UIN. Penelitian ini menjadi penting dan strategis dilakukan dalam rangka penyusunan bahan kebijakan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Penelitian ini dirumuskan dengan beberapa tujuan, yaitu:

1) Mendapatkan peta tingkat kemampuan BTQ mahasiswa UIN secara nasional
2) Mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemampuan BTQ mahasiswa UIN
3) Mendapatkan gambaran tentang upaya yang telah dilakukan perguruan tinggi dalam melakukan pembinaan dan peningkatan terhadap kemampuan BTQ mahasiswa Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode kausal komparatif atau ex post facto. Metode ini biasa digunakan untuk mengungkap faktor-faktor yang mempunyai pengaruh terhadap sesuatu realitas yang telah terjadi.

Baca juga :  Tren Transformasi Pembinaan Keagamaan Islam Melalui Media Digital

Metode Penelitian

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan 4 instrumen yang secara teknis dilakukan secara simultan, yaitu tes kemampuan (proficiency test), kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia.

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive quota sampling. Setiap universitas diambil 50 responden. Pengambilan 14 sampel lokasi didasarkan pada urutan yang terlebih dahulu dalam peralihan status menjadi UIN dan pertimbangan representasi wilayah. Di tingkat universitas, diambil 50 responden dengan komposisi 25 mewakili prodi agama dan 25 mewakili prodi umum.

Temuan Penelitian

Penelitian ini telah menghasilkan 3 poin kesimpulan penting:

1) Secara umum kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an mahasiswa UIN rata-rata berada pada kategori sedang, yaitu 3,19 untuk membaca dan 3,20 untuk menulis. Indeks ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan menulis tidak jauh berbeda. Meskipun tetap harus menjadi perhatian, bahwa di balik nilai rata-rata tersebut masih ditemukan mahasiswa yang sama sekali tidak bisa membaca sebanyak 0,4 % dan tidak bisa menulis sebanyak 0,6 %

2) Ada sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan baca tulis Al-Qur’an mahasiswa. Di antara faktor yang cukup signifikan berpengaruh adalah pilihan tempat belajar dan lamanya waktu pembelajaran Al-Qur’an yang ditempuh. Pilihan tempat belajar terkait dengan standar kualitas pembelajaran Al-Qur’an. Lamanya waktu pembelajaran terkait ketuntasan dalam menempuh pembelajaran Al-Qur’an dan kontinyunitas pembiasaan membaca Al-Qur’an sejak pertama kali mendapatkan pembelajaran Al-Qur’an di tingkat dasar hingga menjelang masa menjadi mahasiswa.

Baca juga :  Potret Penguatan Pendidikan Agama di Wilayah 3T Indonesia

Sementara buku atau metode yang digunakan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan baca tulis AlQur’an mahasiswa karena sebaik apapun metodenya sangat dipengaruhi standar pengajaran dan lama waktu yang ditempuh.

3) Seluruh UIN telah mengambil kebijakan sama terkait keharusan mahasiswa mempunyai kemampuan baca tulis Al-Qur’an, namun masing-masing mempunyai kebijakan teknis yang berbeda dalam hal pembinaannya. Setidaknya ada tiga model pembinaan yang dilakukan UIN dalam upaya peningkatan baca tulis Al-Qur’an bagi mahasiswa.

Pertama, pembinaan dilakukan dengan mengoptimalkan program Ma’had al-Jami’ah. Kedua, pembinaan dilakukan dengan melibatkan pihak lain yang kompeten. Ketiga, pembinaan dilakukan secara mandiri (swaklola) tidak melibatkan pihak lain dan biasanya diserahkan kepada masing-masing fakultas. Model kedua dan ketiga lebih memperlihatkan hasil yang signifikan dibanding model pembinaan yang pertama.

Hasil penelitian selengkapnya klik di sini

Gambar ilustrasi: Shutterstock

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.