Toleransi Beragama di Kalangan Siswa SLTA

Siswa menempati posisi penting dan potensi besar dalam percaturan kehidupan di masyarakat. Salah satunya adalah ikut berpartisipasi dalam menciptakan kerukunan hidup beragama di Indonesia. Untuk dapat berpartisipasi secara positif, maka perlu diketahui antara lain tingkat toleransi siswa terhadap kehidupan beragama di Indonesia.

Informasi tentang kondisi toleransi yang demikian; khususnya yang diperoleh dari hasil penelitian, termasuk tentang toleransi siswa; umumnya berasal dari lingkup wilayah sekitar Jakarta atau beberapa kota besar di Pulau Jawa. Oleh karena itu, dipandang penting mengetahui kondisi toleransi kalangan kaum muda, khususnya kalangan siswa secara lebih menyeluruh dan lebih luas baik dalam lingkup kewilayahan maupun jenis pendidikan di kalangan siswa pada wilayah Pulau Jawa dan Sulawesi.

Topik ini merupakan bagian dari penelitian yang lebih luas yang telah dilakukan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan. Topik utamanya adalah Studi Perilaku Keberagamaan Peserta didik SMA, SMK dan Madrasah Aliyah (MA) di Pulau Jawa dan Sulawesi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkattoleransi siswa sekolah menengah atas baik siswa di SMA, SMK, maupun di MA. Adapun manfaat penelitian ini antara lain, secara teoritis, hasil penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat perilaku toleransi dan intoleransi siswa sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) dengan pelbagai variasinya.

Baca juga :  Jamaah An-Nadzir dan Gerakan Ekonomi di Palopo Sulsel

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam hal ini dilakukan dengan survei. Target populasi yang menjadi sasaran penelitian adalah seluruh siswa sekolah SLTA (SMA, SMK dan MA) di seluruh propinsi di Pulau Jawa dan Sulawesi.

Pemilihan responden dilakukan secara acak bertingkat (stratified random sampling) dengan sasaran 12 propinsi seluruh pulau Jawa dan Sulawesi, yaitu dengan rincian sejumlah 133 kabupaten/kota terpilih (terdiri dari 103 Kabupaten dan 30 Kota), sejumlah 201 sekolah terpilih (SMA, SMK dan MA), danterdiri dari sejumlah 804 siswa terpilih secara acak proporsional. Besaran toleransi kesalahan margin of error (MoE) sebesar 3,45% pada tingkat kepercayaan 95% dengan proporsi gender sebesar 50:50.

Hasil survei menunjukkan bahwa secara umum sikap keberagamaan siswa SLTA baik pada SMA maupun MA dalah moderat dan cukup toleran, meski juga terlihat munculnya kecenderungan sikap intoleran. Hal tersebut terlihat dari data pengelompokan distribusi skor variabel toleransi dalam kategori sedang atau cukup toleran, yaitu sejumlah 71,7%.

Sementara kecenderungan yang mengarah pada sikap intoleran sejumlah 17,3%. Sebanyak 11,1% menunjukkan kecenderungan sangat toleran. Dengan demikian pelajar muslim SLTA adalah muslim moderat. Ini berarti ia tidak meletakkan semua ajaran atau doktrin ajaran agama dalam bingkai kehidupan sosial politik nasional.

Baca juga :  Di Balik Jaminan Produk Halal: Persaingan Antarlembaga

Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa pelajar muslim SLTA misalnya, pada kondisi tertentu setuju terhadap penerapan Keluarga Berencana (KB), tetapi di sisi lain tidak setuju jika anak laki-laki harus didahulukan dalam hal pendidikan dibandingkan perempuan. Dengan demikian, paham Islam yang diyakini bersifat kontekstual dan tidak selalu harus diterapkan dalam kehidupan sosial dan politik di lingkungannya.

Ada sejumlah kesimpulan yang didasarkan dari uraian di atas. Pertama, profil sosiologis dan demografis responden adalah dari segi usia responden yang berkisar antara 16-17 tahun sebesar 73.7%. Dari aspek kedekatan dengan suku bangsa tertentu di Indonesia, pengakuan responden survei ini umumnya selain sebagai warga negara Indonesia, adalah juga merasa dekat sebagai suku Jawa 44,8%, suku Sunda 22,7%, Madura sejumlah 6%, Bugis 5,1%, dan beberapa suku lainnya di bawah 5 %.

Kedua, dari segi agama, sejumlah 92,8% adalah beragama Islam, 5,2% Protestan, beragama Katolik 1,1% , Hindhu 0,6%, dan Konghucu sebanyak 0,2%. Dari segi latar belakang pekerjaan orang tua siswa umumnya, masih dominan bekerja sebagai petani/peternak/nelayan sejumlah 32%.

Selanjutnya bekerja di sektor perdagangan 22,7%, bidang industri 20,7% dan jasa sebanyak 17%, serta selebihnya lainnya 7,6%. Dari segi pendidikan, orang tua siswa, yang berpendidikan sekolah dasar (SD)/sederajat sejumlah 33,3%, SLTA/sederajat sejumlah 28%, SLTP/Sederajat sejumlah 15,1%, perguruan tinggi/tamat S1 sejumlah 9,6%, bahkan ada juga yang tidak sekolah sejumlah 2,4%.

Baca juga :  Potret Penguatan Pendidikan Agama di Wilayah 3T Indonesia

Ketiga, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum sikap keberagamaan siswa SLTA baik pada SMA maupun MA adalah moderat dan cukup toleran, meski juga terlihat munculnya kecenderungan sikap intoleran. Hal tersebut terlihat dari data pengelompokan distribusi skor variabel toleransi dalam kategori sedang atau cukup toleran, yaitu sejumlah 71,7%. Sementara kecenderungan yang mengarah pada sikap intoleran sejumlah 17,3%. Sebanyak 11,1% menunjukkan kecenderungan sangat toleran. (mzn)

 

*) Tulisan ini adalah rangkuman dari diseminasi penelitian Qowaid yang diterbitkan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama tahun 2018.

Gambar ilustrasi: Tri Ispranoto/detikcom.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.