Tradisi Kesusastraan Islam Keluarga Pujangga Keraton Surakarta

Tradisi Kesusastraan Islam Keluarga Pujangga Keraton Surakarta

Judul Buku      : Jawa-Islam di Masa Kolonial

Penulis             : Nancy K. Florida

Penerjemah     : Irfan Afifi dan Nancy K. Florida

Cetakan            : Mei, 2020

Halaman          : xvi+262 hlm

ISBN                 : 978-623-93977-0-8

Tradisi Kesusastraan Islam di Keraton Surakarta dimulai oleh keluarga pujangga Yasadipura/Ranggawarsita sebagaimana buku yang ditulis oleh Nancy K.Florida ini, adalah bukti bahwa Islam mempengaruhi proses intelektual, kearifan, dan spiritual. Hal ini termaktub dalam banyak karya sastra baik berupa suluk atau wirid yang ditulis oleh pujangga Keraton Surakarta.

Tulisan Nancy ini menampar keras narasi-narasi yang dibangun oleh sarjana Kolonial-Belanda, khusunya Theodore Pigeaud yang mengatakan bahwa Jawa dan Islam saling bertentangan satu sama lain. Nancy sendiri sebelum melakukan riset merasa dibodohi oleh narasi yang dibawa sarjana Kolonial-Belanda yang selalu mengkontra narasikan Islam sebagai agama yang tidak bisa berkontribusi dalam khazanah intelektual Jawa khususnya mengenai sastra.

Dengan hal ini menjadi modal awal Nancy untuk membaca ulang dan memetakan alur yang sebenarnya dalam literatur kesusastraan Jawa. Bahkan dia juga menegaskan, dari 500 naskah di Keraton Surakarta, hanya ada 17 yang berbau Hinduisme, selebihnya Islam (hlm. 251). Pernyataan ini tentunya menarik sekali dan bahkan sangat mengagetkan bagi siapa saja yang sudah membaca karya-karya dari Sarjana Kolonial-Belanda. Ada semacam narasi ketidaktahuan dari meraka (Sarjana Kolonila-Belanda) soal Islam, atau ada semacam ketakutan dalam diri mereka terhadap Islam pasca Perang Jawa (1825-1830 M).

Seperti dalam buku ini, Nancy mengangkat keluarga Yasadipura I (1729-1803 M), sampai cicitnya yang termashur, Ranggawarsita III (1802-1873 M), sebagai pujangga Jawa pungkasan. Selama rentang waktu satu abad lebih, keluarga ini menjaga tradisi kesusastraan Islam di Keraton Surakarta dengan terbukti banyak menghasilkan karya sastra Islam yang sampai sekarang masih bisa kita nikmati di perpustakaan Keraton Surakarta, perpustkaan Rekos Pustoko, dan Perpustakan Radya Pustaka Solo.

Adalah Yasadipura I sebagai generasi awal yang membangun kesusastraan Islam awal. Disebut oleh filolog Belanda sebagai bapak renaisans sastra Jawa karena dia berhasil menerjemahkan dan mengunggah kembali Bharathayuda, Ramayana, dan Niti Sastra dari Sastra Jawa kuno serta Bima Suci dan sastra Jawa pertengahan. Tidah hanya itu, sebagai pujangga Islam awal di lingkungan Keraton ia juga mengarang versi tebal yang epik Menak Amir Hamzah, roman sejarah panjang terkait petualangan heroik dan kisah asmara paman Nabi Muhammad saat menyebarkan Islam.

Karya lain yang pengarangnya diatributkan kepada Bapak Renaisans ini adalah Serat Tajussaltain, gubahan dalam bahasa Jawa dari tulisan Melayu Hikayat Mahkota Segala Raja. Juga di antara karangan-karangan Yasadipura berupa tembang sufi, atau suluk yakni Suluk Makmuradi Salikin dan Suluk Dewa Ruci. Serta tidak ketinggalan mengenai Serat Cebolek, suatu karya yang sangat luar biasa, ditulis dengan latar di masa Pakubawana II (1726-1749 M), yang menceritakan masalah ortodoksi Islam, masalah mistisisme Islam dan kesusastraan Kawi Klasik (hlm. 27).

Sebagai pengganti sang ayahanda yakni Yasadipura II (1756-1844 M), atau yang sering kita kenal sebagai R. Ng Ranggawarsita I dan sebagai R.T Sastranegara melanjutkan trah kepujanggaan di Keraton Surakarta. Dididik dalam lingkungan religius yakni di Pesantren Tegalsari, Panaraga, pesantren yang dibangun kiai kharismatik sebut saja Kiai Kasan Besari. Lingkungannya ini yang nanti akan membentuk pola kesusatraan Islam yang ditulis oleh Yasadipura II.

Selain Serat Ambiya, Serat Musa (Buku Musa), dan Suluk Burung. Yasadipura II atau R. Ng Ranggawarsita I juga menulis Babad Pakepung (Sejarah Pengepungan), tidak ketinggalan dia juga menulis serat paling fenomenal sepanjang masa yang dianggap sebagai kitab seksnya orang Jawa oleh sarjana Kolonial-Belanda, yakni Serat Centhini yang berisis 12 jilid. Narasi ini nampaknya terbantahkan oleh sarjana filolog di kemudian hari seperti Nancy ini. Karena pada kenyataannya Serat Cethini adalah “ensiklopedia Jawa” berupa kumpulan  indah akan “ngelmu” dari dunia luas pesantren Jawa pada awal abad ke-19.

Tidak seberuntung seperti saudaranya, R. Ng Ranggawarsita II menjadi pujangga keraton sangat singkat. Pada tahun 1828, kedudukannya sebagai Lurah Carik dicopot, karena dituduh bersekongkol dengan Pangeran Dipanegara untuk melawan Belanda. Sebagai pujangga yang dikenal brilian, banyak naskah yang ia guratkan. Namun sayang, sampai saat ini tak ada satu pun karyanya yang masih bisa kita temukan.

Namun, anak yang lain dari Yasadipura II, Mas Haji Ronggosasmita, yang menjadi murid dari mursid Sufi Syattariyah Jawa mengarang kitab yang sangat epik dan fantastis berupa Suluk Acih dan Serat Walisana. Suluk Acih berupa kumpulan tembang Sufi yang pada saat itu beredar sangat luas di kalangan masyarakat Jawa. Sedangkan mengenai Serat Walisana berisi epos sejarah mengenai wali Islam abad ke-15.

Kita tau Serat Kala Tidha (zaman kegelapan) adalah Serat yang paling banyak dibaca sampai sekarang. Pengarangnya seorang Pujangga yang paling mashur dan pujangga Pungkasan. Nama kecilnya Bagus Burhan setelah menjadi Lurah Carik dijuluki sebagai R. Ng. Ranggawarsita III. Dalam Serat Kala Tidha antara lain berisi mengenai renungan kematian. Bahkan sang pujangga sendiri meramalkan kematiannya dalam tembang ini. Kalau kita baca lebih dalam, serat ini sangatlah sufistik yang bercorak Sattariyah.

Bahkan, gelar yang dikasih oleh Raja Keraton Surakarta yakin R. Ng Ranggawarsita diambil dari Serat Kala Tidha dalam pupuh Sinom “Borong angga suwarga mesi martaya” terjemahannya “Berserah diri, mati mengisi kehampaan yang tak bakalan mati”. Baris akhir pupuh Sinom ini mengantisipasi kematian yang segera menjelang bagi sang pujangga dan keterserapan pada realitas/perwujudan keilahian Tuhan. Suluk ini paling terkenal di antara seluruh karya sastra Jawa, puisi-tembang ini dinyatakan sebagai pernyataan sosial yang betul dan bernuansa ilahi (hlm. 157)

Sejak Yasadipura I sampai cicitnya Ranggawarsita III, semuanya mengenyam pendidikan di pesantren. Yasadipura II dan Ranggawarsita III muda menghabiskan pendidikan mengenai sastra Jawa dan Arabnya di Pesantren Tegalsari, Jawa Timur. Dengan melihat tulisan-tulisan mereka unsur pesantren, keislaman, dan kesustraan sangat kental. Mereka adalah ulama-pujangga yang menjadi penyumbang utama mengenai kesusastraan Jawa yang bercorak Islam.

Nancy membuktikan, sastra Jawa yang dipandang bercorak Hindu-Jawa oleh sarjana Kolonial-Belanda tidaklah benar. Justru ia membuktikan melalui penelitiannya satra Jawa justru bercorak Islam-Jawa terlebih beberapa suluk dan wirid bercorak Sattariyah. Asumsi yang dilontarkan oleh sarjana Kolonial-Belandan didasarkan pada motif politik-pengetahuan. Maka, elit Jawa dan calon pengganti raja dijauhkan dari paham-paham keislaman. Apalagi setelah kekalahan Dipanegara dan para ulama dalam Perang Jawa.

 

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *