Tradisi Maulid Nabi dalam Pandangan Alquran dan Hadis

Tradisi Maulid dalam Pandangan Alquran dan Hadis

Salah satu keunikan penganut Islam di Nusantara ialah mengadakan tradisi maulid Nabi Muhammad saw. Maulid sendiri diartikan sebagai kelahiran. Jadi tradisi ini merupakan peringatan terhadap hari kelahiran Nabi saw. Tradisi ini digelar sesuai dengan bulan di mana Nabi saw. dilahirkan, yakni bulan Rabiul Awal. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan mengingat-ingat kembali kelahiran Nabi saw. dan dengan mengharap syafaatnya di hari kiamat kelak.

Tradisi ini sudah dilakukan secara turun temurun dan perkiraan sudah ada semenjak Islam tersebar di Nusantara. Peringatan maulid ini biasanya dilakukan secara bersama-sama seperti di lingkungan masjid, langgar, institusi, bahkan bergantian dari satu rumah ke rumah yang lain sebagaimana tradisi  yang ada di Madura.

Meski demikian, tradisi yang sudah berjalan ini, oleh sebagian umat Islam sendiri dinilai sebagai tradisi yang tidak “Islami” dan bid’ah. Tradisi tersebut dianggap sebagai suatu ritual kegiatan yang tidak berdasar. Tidak disebut di dalam Alquran, dan Nabi saw. tidak pernah melakukan ritual demikian. Oleh karena itu, siapa pun yang menjalankan ritual tersebut dianggap haram dan sesat. Pemahaman ini sering diungkapkan oleh kalangan modernis.

Menanggapi hal di atas, menurut penulis pandangan tersebut terlalu sempit dan tergesa-gesa dalam menilai tradisi tersebut. Di sini penulis mencoba mengungkap argumen tentang kelegalan tradisi ini dalam perspektif Alquran dan hadis.

Dasar dari Alquran

Alquran menjadi sumber hukum Islam yang pertama dan utama. Oleh karenanya setiap muslim wajib merujuk pada Alquran terlebih dahulu sebelum melakukan segala sesuatu. Dengan petunjuk Alquran, segala perilaku umat muslim pasti tidak akan pernah tersesat. Peringatan maulid yang dilakukan masyarakat muslim Indonesia juga berdasar pada Alquran, sebagaimana yang tertuang dalam Qs. Ibrahim ayat 5:

Baca juga :  Maulid Nabi dan Kebangkitan Mental Umat Islam

Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya), keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka pada hari-hari Allah“.

Substansi ayat di atas, sebagaimana yang diterangkan dalam tafsir Kemenag adalah perintah kepada para rasul-rasul untuk membawa ayat-ayat Allah pada kaumnya (tidak hanya pada Nabi Musa), untuk keluar dari kegelapan jahiliyah, kekafiran dan kemaksiatan menuju cahaya yang benderang keimanan, hidayah, dan ilmu penetahuan serta akhlaq yang mulia.

Penjelasan selanjutnya tentang perintah untuk mengingatkan pada “hari-hari Allah”. Yang dimaksud dengan hari-hari tersebut ialah hari di mana nikmat-nikmat Allah diberikan pada umatnya. Menurut pakar tafsir dari Indonesia kontemporer, Prof. M. Quraish Shihab menerangkan bahwa yang dimaksud dengan “hari-hari Allah” di atas, salah satunya ialah hari di mana Nabi saw. dilahirkan ke dunia. Hal ini dikarenakan, kehadiran Nabi saw ke dunia merupakan nikmat yang paling besar yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin (yang menjadi rahmat seluruh alam).

Jika dipahami kaitan erat kedua perintah tersebut ialah, awal perintah yang ditujukan pada para rasul sebagaimana di atas, tampak berkaitan dengan adanya hari kelahiran Nabi saw. yang notabene sebagai seorang rasul, yang turut membawa perubahan masyarakat dunia. Dengan demikian memperingati hari lahirnya Nabi saw. memiliki cantholan dasar dari Alquran.

Baca juga :  Berdiri Saat Asyraqal
Dasar dari Hadis

Selanjutnya argument kedua bersal dari hadis Nabi saw. hadis diyakini umat Islam sebagai sumber hukum kedua setelah Alquran. Tradisi maulid Nabi saw. juga berlandaskan pada hadis-hadis ini. Salah satunya dalam salah satu riwayat yang ada dalam kitab Shahih Muslim yang dianggap sebagai kitab shahih kedua setelah Shahih Bukhari.

Diceritakan bahwa suatu ketika ada sahabat yang bertanya pada Nabi saw. “Wahai Rasulullah, mengapa Anda pada setiap hari Senin selalu melakukan puasa?”. Mendengar pertanyaan ini, Rasul menjawab: “dzalika yaumun wulidtu fihi” (pada hari itu aku dilahirkan).

Dari riwayat ini dapat dipahami bahwa Nabi saw. selalu mengingat-ingat pada hari di mana ia dilahirkan, yakni pada hari Senin. Bentuk rasa syukur dan peringatan beliau terhadap hari lahirnya diungkapkan dengan melakukan puasa. Dengan demikian jika ada yang bertanya siapa yang memperingati maulid pertama kali, jawabannya sudah pasti yaitu Nabi saw. sendiri. Sehingga peringatan maulid tidak termasuk bid’ah.

Imam asy-Sya’rawi dalam kitab Anta Tas’al wa al-Islamu Yajibu yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indoenesia Anda Bertanya Islam Menjawab, mengungkapkan bahwa hukum maulid Nabi ialah mubah (boleh). Karena peringatan ini bertujuan untuk mencontoh terhadap apa yang disenangi Nabi saw. dan mengambil teladan kehidupan beliau. Lebih lanjut ia menuturkan, bahwa peringatan maulid ini dapat menumbuhkan dan menghidupkan syiar karena peristiwa maulid ini peristiwa terbesar daripada terciptanya seluruh alam itu sendiri.

Baca juga :  Benarkah Nabi Muhammad Bisa Menulis?

Dari sini penulis dapat menyimpulkan, tradisi maulid yang dijalankan oleh umat Islam di Nusantara memiliki landasan dasar yang kuat, dari Alquran dan hadis. Kesimpulan sebagian komunitas muslim yang memahami bid’ah hanya sebatas segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan pada masa Nabi saw. sangatlah sempit. Segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi saw. belum tentu tidak baik. Dengan demikian tradisi maulid boleh dilakukan umat Islam sebagai bentuk rasa cinta yang besar kepada Nabi saw.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *