Tren Transformasi Pembinaan Keagamaan Islam Melalui Media Digital

Strategi dakwah menggunakan media digital awalnya hanya sebagai pelengkap. Saat ini terjadi pergeseran, strategi dakwah melalui media digital semakin penting, bahkan utama. Hal ini dipengaruhi oleh masyarakat Indonesia semakin digital minded. Pengguna internet di Indonesia tahun 2020 sekitar 175,4 juta orang (64% penduduk Indonesia), menggunakan perangkat mobile, smartphone, dan socialmedia. Hal ini menunjukkan peran media digital dalam kehidupan masyarakat.

Situasi pandemi Covid-19 yang terjadi sejak akhir tahun 2019 ini secara tidak langsung telah mempercepat peralihan ke pemanfaatan media digital. Teknologi IT membantu para da’i (sender) berkomunikasi dengan mad’u (receiver) secara lebih cepat, lebih langsung, dan massif, tanpa melanggar protokol kesehatan COVID-19.

Pembinaan keagamaan Islam (dakwah) dengan media (wasilah) internet memang bisa menerobos batas ruang dan waktu. Namun kelemahan media sosial telah mengurangi interaksi fisik bahkan cenderung anti-sosial, Bahkan terdapat ancaman tersebarnya isi pesan dakwah (maddah) yang provokatif, fitnah, hoaks, dan pemahaman radikal yang terselubung.

Data terbaru mengenai tren perubahan pembinaan agama Islam melalui media digital yang komprehensif dan terpercaya menjadi penting bagi pemegang kebijakan pembinaan keagamaan. Penelitian ini mengungkapkan tren transformasi pembinaan agama Islam melalui media digital; dan model pembinaan agama Islam melalui media digital.

Baca juga :  Gerakan Sosial Khilafatul Muslimin dan Relasinya dengan Masyarakat di Sumbawa Barat

Hasil penelitian diharapkan menjadi data dukung bagi pembuatan kebijakan pembinaan keagamaan melalui media digital. Secara teoritik, hasil penelitian bermanfaat untuk referensi pembinaan keagamaan era revolusi industri 4.0.

Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Pemilihan Yogyakarta sebagai lokus kajian dengan pertimbangan tipologi masyarakat perkotaan yang melek teknologi. Unit analisisnya adalah lembaga keagamaan, baik instansi pemerintah, ormas keagamaan, maupun majelis taklim.

Temuan Penelitian

Pembinaan keagamaan Islam di Yogyakarta ada yang dilakukan oleh lembaga pemerintah, ormas keagamaan Islam, kelompok pengajian Islam, dan individu. Kegiatan tersebut dilakukan secara langsung (tatap muka) ataupun melalui media digital (online maupun offline). Media digital tersebut dibagikan melalui Website dan Webblog, serta aplikasi media sosial (socialmedia) Whatsapp, Youtube, Facebook, Instagram, dan Zoom.

Lembaga PW Muhammadiyah DIY baru melakukan pengajian secara digital melalui zoom selama bulan Ramadan. Tokoh-tokoh Muhammadiyah secara individual juga mengunggah pengajian mereka ke Youtube. Sosialisasinya kurang optimal sehingga viewers dan subscriber masih sedikit. Adapun PWNU DIY lebih progresif menggunakan media digital yakni Bangkit Media yang awalnya format majalah sejak tahun 1979, sekarang intensif mengubah formatnya ke digital untuk mengunggah berbagai informasi melalui Bangkit TV dan Bangkit Live.

Baca juga :  Kesiapan Kelembagaan di Daerah dalam Pelayanan Sertifikasi Halal

Kelompok-kelompok kajian keagamaan Islam (majelis taklim) di Yogyakarta juga memanfaatkan media digital untuk tetap melakukan aktivitas kajian. Kelompok-kelompok ini ada yang mulai sebelum pandemi atau mengembangkan diri dengan digital setelah era pandemi.

Misalnya Majelis Sahabat Cinta Yogyakarta yang telah beraktivitas menggunakan media online sejak tahun 2013, tetapi juga melakukan aktifitas pertemuan (offline) secara rutin. Pada masa pandemi COVID-19 ini kajian melalui media digital semakin intensif dan dikembangkan sampai lingkup nasional.

Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) Kankemenag Yogyakarta mulai menggunakan media digital untuk menyiasati masa pandemi. Beberapa PAIF secara individual dan mandiri membuat bahan materi tertulis untuk dibagikan di grup-grup media sosial terutama WA.

Kemudian beberapa PAIF mencoba membuat materi dengan membuat rekaman ceramah singkat, selain dikirim ke grup-grup jamaah juga diunggah ke Youtube sehingga menjangkau masyarakat lebih luas. Hambatan PAIF adalah dukungan peralatan, terbatasnya SDM yang menguasai IT. Motivasi membuat media digital PAIF rendah karena belum ada pengakuan kinerja hasil (PAK) penyuluhan melalui media digital.

Hasil penelitian selengkapnya klik di sini

Gambar ilustrasi:

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.