Tsabit bin Qais, Juru Bicara Rasulullah yang Gugur Syahid Fisabilillah

sahabat nabi

Tsabit bin Qais adalah salah satu orang yang pertama masuk Islam di Yastrib. Kala itu ketika Nabi Muhammad Saw tiba di Madinah  sebagai kaum Muhajirin, Tsabit bin Qais menyambut beliau bersama kelompoknya dengan hangat, dan menerima beliau beserta sahabat dengan penuh kemuliaan.

Sebelumnya ia sudah mendengar perihal Nabi Muhammad dan ajaran yang dibawanya. Saat mendengar lantunan ayat al-Qur’an pertama kali dari seorang dai yang sedang berkhutbah, di situlah hatinya tergugah.

Awal Mula Menjadi Jubir

Sebagai bentuk sambutan, Tsabit bin Qais menyampaikan khutbahnya di depan Nabi Muhammad Saw dengan rangkaian pujian kepada Allah Swt serta shalawat kepada nabi-Nya.

Namun di akhir khutbah Tsabit bin Qais sengaja berkata “Kami berjanji kepadamu, akan melindungimu seperti kami melindungi diri kami, anak-anak kami, dan istri-istri kami dari setiap mara bahaya yang akan menimpa. Lalu, apa yang akan kami dapatkan sebagai balasannya?”

Nabi Muhammad Saw menjawab, “Surga.”

Kalimat itu menyentuh telinga mereka. Wajah-wajah mereka mengisyaratkan kegembiraan dan keceriaan.

“Kami rela. Kami rela.” Jawab mereka serempak.

Sejak hari itu, Nabi Muhammad Saw menjadikan Tsabit bin Qais sebagai juru bicara beliau. Jika para delegasi datang kepada nabi untuk membanggakan diri atau berdialog dengan lisan yang fasih, maka Tsabit bin Qais maju ke depan untuk menjawab para delegasi.

Baca juga :  Komitmen Nabi Muhammad Menyikapi Perbedaan

Kalimat dan kata-kata yang keluar dari mulutnya kuat, padat, keras, tegas, dan mempesona. Selain itu, ia sosok yang cerdik, responsif, dan lihai dalam bertutur kata. Jika berbicara, maka ia akan mengalahkan lawan bicaranya. Bila berkhutbah, maka ia menyihir para pendengarnya.

Suatu hari, setelah turunnya QS. Luqman [31]: 18, yang mana berbunyi: “Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Nabi Muhammad Saw melihat Tsabit bin Qais sangat gelisah, kedua lututnya gemetar karena khawatir dan takut, lantas Nabi Muhammad Saw bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu?”

Tsabit bin Qais menjawab, “Aku takut telah berbuat celaka.”

Nabi Muhammad Saw bertanya lagi, “Mengapa?”

“Sebab, Allah telah melarang kami berharap dipuji dengan sesuatu yang tidak kami lakukan, sementara aku adalah orang yang suka pujian. Allah melarang kami bersikap sombong, sedangkan aku adalah orang yang mengagumi diriku.”

Kabar Kesyahidan Tsabit bin Qais

Nabi Muhammad Saw berusaha menenangkan kegelisahan Tsabit bin Qais, kemudian beliau bersabda kepadanya, “Wahai Tsabit bin Qais, apakah kamu tidak rela hidup dalam keadaan terpuji, mati sebagai syahid, dan masuk surga?”

Wajah Tsabit berbinar mendengar itu, “Iya.”

Baca juga :  Warisan Kesehatan dari Rasulullah

Lantas, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Itu milikmu.”

Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jangan lah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak dihapus amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Hujarat[49]: 2)

Sejak saat itu, Tsabit bin Qais menjauh dari majelis-majelis Nabi Muhammad Saw. Meskipun rasa ingin mengunjungi sangat besar tapi ia tidak beranjak dari kediamannya sedikitpun, kecuali hanya untuk shalat berjamaah.

Lama tak terlihat Nabi Muhammad Saw mencari-cari Tsabit bin Qais. Beliau  kemudian mengutus seorang laki-laki Anshar untuk melihat Tsabit bin Qais.

Laki-laki  Anshar tersebut pergi ke rumah Tsabit bin Qais, ia melihatnya dalam keadaan berduka dan bersedih dengan kepala tertunduk.

Laki-laki Anshar itu bertanya, “Bagaimana kabarmu?”

“Buruk.”

“Mengapa?”

Tsabit Bin Qais menjawab, “Sesungguhnya, kamu pun mengetahui bahwa aku bersuara tinggi, bahkan terkadang lebih tinggi dari suara Rasulullah. Padahal ayat al-Qur’an telah turun seperti yang kamu ketahui. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa amalku telah batal, dan aku telah menjadi penghuni neraka.”

Mendengar jawaban tersebut, ia pamit kemudian menyampaikan  jawaban Tsabit bin Qais kepada Nabi Muhammad Saw. Maka Nabi Muhammad Saw bersabda, “Pergilah kepadanya dan katakan, ‘kamu bukanlah penghuni neraka. Sebaliknya, kamu adalah penduduk surga.”

Baca juga :  Bahkan Sahabat Nabi Perlu Waktu

Bak gembira besar yang sampai ke telinganya, Tsabit bin Qais senang bukan kepalang lantaran ia mengharapkan kebaikan sepanjang hayatnya. Sejak itu, Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan ikut dalam seluruh peperangan bersama Nabi Muhammad Saw. Mencari kesyahidan yang diberitakan oleh Nabi Muhammad kepadanya.

Hingga tiba saatnya perang melawan orang-orang murtad antara kaum Muslimin melawan Musailamah al-Kadzab pada zaman Abu Bakar. Ia tersungkur di medan perang dengan tenang, gugur sebagai syahid. Yang diberitakan Nabi Muhammad Saw telah tiba padanya, yang melambangkan kemenangan besar bagi kaum muslimin.

Referensi

Abdul Karim, Abdurrahman bin. 2014 Kitab Sejarah Terlengkap Para Sahabat Nabi, Tabi’in Dan Tabi’it Tabi’in. Banguntapan Jogjakarta: Diva Press.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *