Tumbuhan Kelor: Persembahan dari Leluhur

Leluhur adalah Investor Terbaik

Masih banyak anggapan bahwa orang-orang di masa lalu adalah tradisional, jumud, tidak rasional dan berbagai stereotip lainnya. Tetapi, nyata sering kali pandangan dan praktik hidup orang-orang pada masa lalu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Di antaranya adalah pandangan terhadap suatu jenis pohon yang dikeramatkan.

Para leluhur kita, menyimpan berbagai khazanah kelor (Moringa oleifera) untuk dipersembahkan pada generasi sekarang. Loh, kok bisa? Bisa saja, karena anggapan kitalah yang kurang sesuai.

Sering kali, ketika mendengar kata persembahan adalah sejenis pemberian dari manusia sekarang untuk makhluk halus dan juga leluhurnya. Jarang ada persembahan justru diberikan oleh orang-orang dari masa lalu untuk generasi sekarang ini.

Orang-orang dari generasi terdahulu masih menyimpan kekayaannya untuk dikelola oleh generasi sekarang. Itu, mereka simpan di hutan-hutan adat dan dijaga melalui berbagai pantangan, mitos, legenda dan lain sebagainya.

Hutan tropis Indonesia yang terus menipis adalah surganya keanekaragaman hayati. Di hutan tropis diketahui terdapat 447 spesies palem-paleman dan 225 di antaranya hanya diketemukan di Indonesia. Lebih dari 400 spesies dipterocarpaceae sebagai tumbuhan kayu dan bernilai ekonomi tinggi di Asia tenggara ada di hutan kita. Belum menghitung keanekaragaman hayati yang lainnya serta berbagai macam jasad renik yang ada di Indonesia.

Dengan keberkahan limpahan keanekaragaman hayati yang demikian bangsa Indonesia seharusnya menjadi bangsa yang besar dan maju, tetapi sayangnya semua keanekaragaman hayati belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan ada kecenderungan mencari yang lebih mudah dan segera mendapatkan uang melalui penebangan. Padahal, cadangan masa depan kehidupan manusia di antaranya ada di hutan Indonesia.

Para leluhur kita dengan berbagai macam cara mempertahankan hutan sebagai warisan anak cucunya. Mereka menganggap bahwa hutan adalah titipan untuk generasi yang akan datang. Apakah generasi tersebut adalah kita? Bisa iya dan bisa tidak.

Baca juga :  Tak Usah Berdebat Parsel atau Hampers, Tradisi Berbagi Sudah Ada Sejak Dulu

Sebagai pewaris kekayaan hayati, kita masih bisa mengolah dan mengelola hutan untuk tujuan kemaslahatan, bukan nafsu keserakahan. Pada sisi lain, kita juga dibebani untuk mewariskan hutan pada generasi yang akan datang, karena di generasi kita tidak semua keanekaragaman hayati dapat terungkap dan dimanfaatkan secara langsung.

Terkadang, kita juga masih menemui berbagai macam jenis tanaman yang ditanam oleh leluhur kita. Tentu saat menanam mereka tidak berharap bisa memanfaatkan tanaman tersebut, melainkan semata-mata sebagai warisan yang kelak dimanfaatkan oleh anak cucunya. Praktik demikian adalah praktik investasi jangka panjang dan sangat rasional.

Harta Karun itu Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati masih belum menjadi mainstream dalam pembangunan. Padahal jika kita sedikit bersabar sambil terus menggali kearifan para leluhur kita, akan ditemukan banyak harta karun yang bisa dieksplorasi untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu juga, berbagai produk penting berasal dari pengembangan keanekaragaman hayati.

Di antara yang potensial untuk terus dikembangkan adalah Kelor (Moringa oliefera). Tumbuhan ini memiliki banyak khasiat dan sudah digunakan oleh leluhur bangsa ini. Sistem pengobatan masyarakat Bali yang dikenal dengan Usada menyebut khasiat kelor serta anjuran untuk menjaga pohon tersebut tetap ada. Kelor atau moringa juga sudah digunakan oleh WHO (World Health Organization) sebagai usaha mengatasi stunting di Afrika. Kandungan vitamin, mineral, dan gizi yang ada di kelor cukup tinggi sehingga bisa mengatasi gizi buruk.

Dalam konteks Indonesia sekarang ini, terutama respons terhadap berbagai masalah, belum terlihat langkah-langkah yang strategis dan kongkret menyangkut pengembangan kelor. Bahkan, isu kelor hanya berkutat pada kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Itu pun kurang dioptimalkan menjadi bisnis yang tidak saja meningkatkan kesejahteraan melainkan juga mendatangkan devisa untuk negara.

Baca juga :  Tradisi dalam Pesantren

Kalaupun ada usaha ke arah pengembangan produk kelor, masih belum terlihat sistematis dengan perencanaan yang baik, serta sebagian belum sebagai strategi ketahanan nasional. Padahal, kelor sangat potensial dan sudah direkomendasikan oleh WHO sebagai suplemen makanan untuk mengatasi gizi buruk.

Kelor: dari Mistik hingga Sains

Tumbuhan kelor sudah ada dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara sudah sangat lama. Hal ini diketahui dari berbagai pandangan dan sikap hidup masyarakat dalam memandang kelor. Hampir semua bagian dari kelor dimanfaatkan dan memiliki cerita sendiri. Galih kelor atau fosil kelor, yakni biji kelor yang terpendam ratusan tahun sehingga menjadi batu dianggap sebagai batu berkhasiat. Galih kelor masih dicari orang untuk dijadikan cincin yang melingkar di jari.

Ketika menyebut kata kelor, sebagian masih merujuk pada kilasan masa lalu mengenai kelor, penuh mistik. Walaupun sebagian dari mereka belum mengetahui pohonnya. Pandangan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya hingga sekarang. Anak-anak generasi Z sebagian ada yang masih mempercayai dan sebagian besar sudah tidak percaya.

Oleh beberapa masyarakat, kelor dipercaya dapat mengusir energi negatif atau ilmu hitam yang ada dalam tubuh seseorang. Orang yang dianggap berilmu dipukul dengan daun kelor maka ilmunya akan lenyap. Selain itu juga, kelor ditanam di depan-depan rumah sebagai pagar hidup yang dipercaya menangkal energi negatif yang akan masuk ke rumah.

Berbagai kepercayaan mengenai kelor mudah kita jumpai pada masyarakat-masyarakat di Indonesia, dengan berbagai variasinya. Padahal jika kita telaah lebih jauh, pandangan terhadap kelor yang seolah bersifat mistis adalah kiasan atau simbol yang perlu ditafsiri ulang dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Baca juga :  Tradisi Nasionalisme Pesantren di Asia Tenggara (Bagian I)

Indikasi yang memudahkan kita dalam menafsiri kelor adalah pengakuan WHO (World Health Organization), badan kesehatan dunia yang menjadikan kelor sebagai makanan untuk mengatasi stunting di Afrika. Tentu mereka menetapkan hal tersebut melalui serangkaian riset mendalam terhadap khasiat kelor.

Dengan adanya pengakuan tersebut, maka orang-orang dahulu membahasakan khasiat kelor melalui berbagai mitos yang ada di dalamnya. Seperti penangkal energi buruk bisa saja berarti kelor dapat membantu dalam memenuhi dan meningkatkan gizi manusia.

Dengan gizi yang meningkat tentu imun tubuh juga meningkat, dampaknya tubuh menjadi lebih kuat dan tidak rentan sakit. Demikian juga dengan kelor sebagai pengusir setan. Bisa saja maksudnya adalah kelor ampuh dalam mengobati penyakit yang diderita, tentu dengan peningkatan imun akibat mengonsumsi kelor.

Apa yang dianggap mistis pada masa lalu, sekarang mulai terkuak dan selaras dengan alam. Problem sekarang bukanlah meningkatkan konsumsi kelor pada masyarakat dan menjadikan kelor sebagai komoditas perdagangan global. Toh nyatanya, berbagai negara membutuhkan kelor untuk kesehatan masyarakatnya. Biarlah jika masih ada orang yang percaya mengenai mistisnya kelor, itu bagian dari khazanah tradisi kita.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.