Tuntunan Ibu dalam Melahirkan Generasi Cerdas Bermedia Sosial

Di era serba bisa sekarang ini, seseorang tidak bisa dipisahkan dengan digital. Bisa dikatakan, hal ini sudah menjadi kebutuhan pokok bagi setiap orang. Baik ia yang sudah dewasa, remaja, masih sekolah, bahkan, tidak sedikit juga anak yang masih menempuh pendidikan usia dini ataupun sekolah dasar sudah bisa menikmatinya.

Pada hakikatnya, hal semacam ini wajar-wajar saja. Sebab, ini adalah bagian dari kemajuan zaman dan setiap orang juga berhak untuk menikmatinya. Tetapi, ketika melihat realitas yang ada, banyak sekali kasus-kasus yang sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari unsur digital. Seperti misalnya, kekerasan yang dilakukan oleh seorang anak yang sebenarnya belum mencapai umurnya, hingga kejahatan seorang anak kecil yang meniru adegan film yang ia sukai.

Polemik semacam inilah yang seharusnya diwaspadai oleh orang tua, khususnya bagi seorang ibu. Digital yang seharusnya menjadi tuntunan untuk mendapatkan pengetahuan baru, seringkali disalahgunakan sebagai media untuk mengakses tontonan yang sebenarnya bisa merusak moral dan identitas dirinya sendiri. Hingga kemudian merusak moral bangsa Indonesia. Keadaan  ini menuntut perempuan atau seorang ibu memiliki peran penting dalam membangun karakter seorang anak. Dirinya yang sebenarnya memiliki hak penuh untuk mendidik anak, diharuskan untuk memahami betul bagaimana karakter anak sampai dengan bagaimana menjadikan anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik, sebagaimana manusia semestinya.

Baca juga :  Ratu Balqis dan Role Model Kepemimpinan Perempuan

Seorang ibu harus bisa mengkoordinasikan seluruh kebutuhan anaknya dengan baik. Seperti halnya, bolehlah seorang anak menggunakan smartphone, ataupun digital lainya. Asalkan dengan sepengetahuan oleh ibunya. Hal ini dikarenakan, digital seringkali memberikan unsur-unsur Sara, pengetahuan baru yang sebenarnya belum siap dicerna oleh pikiran seorang anak. Hingga, ketika hal ini diterima seorang anak, tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan  seorang anak gagal mental, atau bisa jadi meniru adegan yang didapatkan dari hasil tontonan digital tersebut.

Sejalan dengan itu, seorang ibu harus pandai-pandai dalam membangun karakter seorang anak. Pada kenyataannya apa yang dilakukan oleh ibu seringkali dijadikan panutan oleh anak. Sebagaimana yang dikatakan oleh pepatah, apa yang kau berikan hari ini akan menjadi dirimu di masa yang akan datang. Apa yang ditanam hari ini, akan dipetik di kemudian hari. Melalui pepatah ini, dapat diambil jalan tengah, bahwa pendidikan yang baik akan mengantarkan seorang anak tumbuh menjadi baik pula. Dirinya akan senantiasa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bisa berguna untuk orang lain dan untuk dirinya sendiri di kemudian hari. Pun ini juga akan berimbas pada bangsa ini, yang mana bangsa Indonesia akan   memiliki generasi yang bermartabat, generasi yang bisa membangun negeri ini menjadi bangsa yang diakui dunia, dengan memanfaatkan kemajuan zaman.

Baca juga :  Melacak Para Perempuan Ulama Perawi Hadis
Membangun Karakter  Anak Sejak Dini

Sebagaimana yang sudah disepakati khalayak, seorang wanita memiliki hati yang mulia dan kelembutan tutur kata. Ketika ketulusan hati dan kelembutan bertutur katanya ini dijadikan pedoman untuk menuju kebaikan, maka tidak menutup kemungkinan akan melahirkan sebuah kebaikan untuk setiap orang. Itulah mengapa, wanita seringkali diartikan sebagai manusia yang tulus. Sebab, setiap dalam diri wanita selalu menjunjung nilai kemanusiaan dengan hati yang mulia dan tutur katanya.

Ada istilah yang mengatakan, dibalik keberhasilan seorang laki-laki, ada seorang wanita di belakangnya. Hal ini menunjukkan, seorang wanita menjadi figur penting bagi seorang lelaki. Ia bisa menjadi motivator sekaligus teman yang baik untuk mengarungi kehidupan. Bahkan, dirinya menjadi aktor penting dalam kesuksesan seorang laki-laki.

Seperti seorang ibu, yang menjadi aktor untuk anaknya agar tumbuh menjadi pribadi yang berguna. Ia diharuskan untuk memberikan asupan pendidikan dan kasih sayang yang bisa menumbuhkan mental anaknya kuat dan berani bersaing dalam menikmati hidup. Di lain sisi, ia juga harus menjadi madrasah yang bisa mendidik anaknya untuk menjadi seorang anak yang tumbuh dengan bekal pengetahuan yang mumpuni.

Untuk itu, wanita juga harus pandai dalam berkomunikasi. Sebab, komunikasi inilah yang akan mengantarkan dirinya dalam menjalin kerukunan yang baik dengan keluarga ataupun lingkungan sekitar. Dengan komunikasi pula, seorang akan bisa menciptakan kedamaian bersama dan menjunjung nilai kebersamaan antara sesama manusia. Apabila diibaratkan wanita itu seperti cahaya. Ia senantiasa menerangi kegelapan dengan ketulusan hatinya dan memberikan manfaat dengan tutur katanya. Wanita menjadi salah satu jalan kebaikan untuk setiap orang dalam menempuh kebahagiaan, baik ruhani dan ataupun jasmani.

Baca juga :  Khaulah binti Tsa’labah, Muslimah yang Menyerukan Keadilan
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *