21 Ulama dan Intelektual yang Memilih Jomblo Hingga Akhir Hayat

Judul buku      : Para Ulama dan Intelektual yang Memilih Menjomblo
Penulis             : KH Husein Muhammad
Penerbit           : IRCiSoD
Cetakan           : 2020
Tebal                : 192 halaman
ISBN                 : 978-602-402-778-5

Buku KH Husein Muhammad yang berjudul Para Ulama dan Intelektual yang Memilih Menjomblo ini membahas perjalanan dan kisah-kisah inspiratif biografi hidup para ulama yang menjomblo semasa hidupnya. Buku yang berisi 2 bab ini menyajikan bahasa sederhana, sehingga setiap pembaca dapat dengan mudah memahaminya.

Di antara para ulama jomblo yang terangkum dalam buku ini, yang senyatanya patut kita teladani bagaimana dalam menjalani hidup ini. Namun, dalam resensi buku ini hanya beberapa nama yang dijelaskan sisi kehidupannya.

Salah ulama terkenal yang memilih menjadi jomblo hingga akhir hidupnya adalah Rabi’ah al-‘Adawiyah. Rabi’ah terkenal sebagai seorang penyair sufi yang memiliki rasa cinta yang tak mengenal batas kepada Tuhannya.

Salah satu kutipan puisinya yang amat menggugah dan terus-menerus menjadi rujukan dalam dunia sufi hingga kini adalah puisi tentang cinta. Rabi’ah al-‘Adawiyah menulis:

O Tuhanku // Bila aku mengabdi kepada-Mu // Karena takut neraka-Mu // Bentangkan pintu neraka itu untukku // Dan bila aku mengabdi kepada-Mu // Karena menginginkan surga-Mu // Tutup saja pintunya // Tetapi, bila aku mengabdi kepada-Mu karena cinta//Maka bukalah tirai Wajah-Mu // Biar aku dapat menatapny (hlm. 32).

Baca juga :  Betapa Pun Kau Ingin Menjadi Bagian Hidup Richard Parker, Ia Tetaplah Binatang

Semasa hidupnya Rabi’ah al-‘Adawiyah tak pernah menikah. Dia menjomblo. Dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk berdzikir dan senantiasa bermunajat kepada Sang Maha Cinta.

Perbuatan dan tindakan-tindakan buruk tak ia lakukan. Ia jauhi. Senantiasa ia selalu mendekatkan diri pada kebaikan-kebaikan yang diridhai oleh agamanya dan Tuhannya yang Maha Pengasih.

Selain Rabi’ah al-‘Adawiyah, ada pula ulama yang bernama Al-Qifthi dan Sa’id Nursi. Al-Qifthi sendiri bernama lengkap Abul Hasan Ali bin Yusuf bin Ibrahim asy-Syaibani al-Qifthi.

Al-Qifthi adalah seorang kolektor buku dan penulis  paling produktif pada masanya. Selain itu, ia juga merupakan seorang intelektual yang cerdas. Mengusai banyak ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Misalnya, seperti ilmu nahwu, ilmu hadits, bahasa, logika, matematika, astronomi, teknik dan sejarah.

Produktivitasnya dalam menulis membuat dirinya memiliki banyak buku. Beberapa buku yang ditulisnya dan disebutkan oleh Kiai Husein dalam buku ini ada enam belas judul buku.

Antara lain, seperti Kitab Tarikh al-Mishr, Tarikh al-Maghrib, Tarikh al-Yaman, Tarikh Bani Buwahi, Kitab al-Kalam ‘ala al-Muwaththa’ dan yang lainnya.

Koleksi bukunya juga luar biasa. Konon, jika koleksi-koleksi bukunya jika ditimbang, maka kira-kira setara dengan berat 50. 000 dinar (hlm 77).

Baca juga :  Perempuan Berdaya dalam Novel Kerumunan Terakhir

Sedangkan Sa’id Nursi adalah seorang ulama, sufi, dan politisi ulung dari Anatolia, Turki, abad ke-20. Sepanjang hidupnya, Sa’id Nursi juga memutuskan untuk menjomblo. Namun, di balik semua itu, ia abdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan.

Sa’id Nursi adalah sosok yang cerdas. Keilmuan dan pengetahuannya tak terbatas ilmu agama saja, tetapi juga ilmu-ilmu agama lainnya.

Para Ulama dan Intelektual yang Memilih Menjomblo

Sosok Sa’id Nursi juga mencintai dunia pendidikan. Pada 1907 ia pergi ke Turki, lalu mengajukan proposal kepada Sultan Hamid II untuk mendirikan sebuah universitas Islam sebagaimana universitas al-Azhar di Mesir.

Ia menamai universitasnya itu Az-Zahra. Melalui lembaga pendidikan tinggi ini, Nursi melakukan tranformasi pendidikan dengan memadukan antara sistem tradisional dengan sistem modern (hlm. 199).

Sa’id Nursi, dengan lembaga pendidikan tinggi gagasannya ini, di samping mempelajari ilmu-ilmu keislaman, ia juga memasukkan kurikulum ilmu pengetahuan umum, seperti ilmu eksakta, ilmu pengetahuan alam, filsafat, dan sebagainya.

Ada alasan mengapa Nursi mengkombinasikan berbagai ragam disiplin ilmu dalam dalam lembaga pendidikan tingginya. Antara lain yakni karena Nursi tak menyukai adanya dikotomisasi ilmu-ilmu. Sebab, kata Nursi, Dikotomi atas ilmu-ilmu akan melahirkan fanatisme pada satu sisi dan situasi kemelut pada sisi yang lain.

Baca juga :  Cinta, Ikhtiar, dan Kepasrahan

Dalam buku ini, ada 21 nama ulama dan intelektual jomblo yang kiah-kisah hidupnya ditulis oleh Kiai Husein. Nama-nama antara lain Syaikh Bisy al-Hafi, Khadijah binti Sunhun, Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Zamakhsyari, Imam Nawawi, Imam Ibnu Taimiyah, Jamaluddin al-Afghani, Sayyid Quthb, Layla-Majnun.

Mereka memilih menjomblo hingga akhir hayat tentu bukan tanpa alasan. Yang tidak kalah penting dalam buku ini, semua kisah perjalanan kehidupan mereka memiliki hikmah tersendiri untuk kita ketahui.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *