Ulama Shadiqun dan Ulama Shalihun Menurut Habib Luthfi

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan menjelaskan bahwa ulama terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu ulama shadiqun mitslu rusul dan ulama shalihun mitslu al-naby. Ulama shadiqun dikuatkan dengan keramat yang tampak (zahir), sebagaimana para rasul yang dikuatkan oleh Allah dengan mukjizat.

Dulu ketika para rasul berdakwah, banyak dari kaumnya yang membangkang dan meminta bukti kebenaran ajarannya. Sang rasul kemudian menunjukkan mukjizat yang menjadikan kaumnya yakin.

Hal yang sama juga terjadi ketika para auliya umat Nabi Muhammad berdakwah. Mereka sering kali diragukan oleh umatnya. Kedudukan keramat para wali, dalam konteks ini, adalah sama dengan kedudukan mukjizat. Yakni meyakinkan orang yang didakwahi.

Salah satu ulama yang tergolong shadiqun adalah Syekh Abdul Qodir Jailani. Suatu hari ia pernah ditanya, “Apa buktinya kalau Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?” Syekh Abdul Qodir menjawab, “Terlalu tinggi kalau nabi saya.” “Bagaimana dengan nabimu?” Tanya balik Syekh Abdul Qodir.

“Nabiku bisa menghidupkan orang yang telah mati,” jawab orang itu. “Bagaimana caranya?” Kata Syekh. “Nabiku mengatakan qum bi idznillah (hiduplah dengan seizin Allah),” jawab dia.

Syekh Abdul Qodir kemudian meminta orang tersebut untuk mencarikan orang mati. Dia kemudian menghidupkan orang mati itu dengan berkata: “Qum bi idzni (hiduplah dengan seizinku). Dia mengatakan qum bi idzni untuk melemahkan orang yang meremehkan Nabi Muhammad. Pada hakikatnya, Syekh Abdul Qodir tetap memohon kepada Allah.

Baca juga :  10 Foto Habib Luthfi Masa Muda: Ganteng, Gagah, dan Berwibawa

Selain Syekh Abdul Qodir masih banyak ulama yang masuk kategori ulama shadiqun. Di Indonesia sendiri pun banyak. Di antaranya Mbah Adam Krapyak Pekalongan yang bisa berbicara bahasa hewan, Mbah Kholil Bangkalan, dan lain-lain.

Ulama Shalihun

Adapun ulama shalihun adalah ulama serupa nabi yang tidak harus mempunyai mukjizat. Ulama ini mengajak dan menyampaikan syariat pada umat, tetapi ketika umat ragu dan membutuhkan bukti atas kebenaran informasi yang disampaikannya, ia tidak bisa memberi bukti dalam bentuk keramat atau sejenisnya.

Setelah ulama itu berdakwah dan umatnya mendengar, tidak ada yang dapat membantu umat untuk menerima ajaran ulama tersebut. Allah tidak membekali kelompok ulama ini dengan karamah sebagaimana yang dimiliki para ulama shadiqun. (MS)

Sumber:

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Secercah Tinta Jalinan Cinta Seorang Hamba dengan Sang Pencipta, (Semarang: Menara Publisher, 2012).

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *