Ulama Teladan Anak-anak

Judul: Kisah Ulama Pendiri Bangsa

Penulis: Nabilah Musyarihah

Tahun: Cetakan II, November 2020

Penerbit: Semesta Kreatif Alala

Tebal:   iv+80 halaman

ISBN:   978-623-94614-0-9

 

Sejak kecil, saya hidup di lingkungan Islam berorientasi Nahdlatul Ulama (NU) tulen. Di tingkat desa, bapak dan ibu saya aktif berkegiatan dalam beragam lini organisasi islam terbesar di Indonesia itu, mulai tahlilan hingga menghimpun dana sosial. Suatu hari, saat usia saya menjejak dewasa, tiba-tiba bapak memberiku kartu anggota Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dengan foto dan nama saya terpampang di sana. Sontak, saya kaget lantaran tidak mengetahui fungsi kartu tersebut.

Pasalnya, saya tidak pernah mendapatkan pengetahuan dari orang tua mengenai apa itu NU dan mengapa keluarga kami menjadi bagian erat darinya. Betapapun sejak kecil saya menempuh pendidikan keagamaan di sekolah diniyah dan sempat mengenyam pendidikan formal di pondok pesantren yang berafiliasi dengan NU, saya tetap tak memahami NU.

Pola pendidikan keagamaan yang saya alami di keluarga (juga di institusi pendidikan keagamaan) berbeda dengan yang terjadi pada Nabilah Munsyarihah, penulis buku Kisah Ulama Pendiri Bangsa (Alala, 2020). Pengetahuan dan kesadarannya mengalami keberagamaan–dalam hal ini khususnya sebagai Nahdliyin (sebutan untuk warga NU)—terbentuk karena sering mendengar cerita kesejarahan NU dari kedua orang tuanya.

Konon, keluarga Nabilah juga hidup dalam lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi NU. Cerita dan kejadian sehari-hari yang dialaminya sejak kecil kemudian terinternalisasi dalam diri perempuan yang akrab disapa Ning Nabilah itu. Ini tampak dari buku yang ditulisnya.

Baca juga :  Pertarungan Merebut Wacana Islam di Indonesia
Menyelami Makna NU

Kendati buku yang hadir dengan ilustrasi apik itu condong menyasar pembaca anak, tapi toh saya tetap menikmatinya saat membaca. Justru dengan gaya bercerita yang mengalir dan bahasa cenderung mudah dicerna khas buku anak-anak, pembaca dewasa seperti saya mengalami gairah serupa pembaca anak. Mata membaca tanpa keinginan sekadar berkedip lantaran penasaran dengan kelanjutan cerita.

Buku ini dibagi menjadi tujuh bagian yang disusun berurutan, mulai dari Perang Diponegoro, Purnama Jatuh, Berjuang di Tebuireng, Dua Sahabat, Ya Lal Wathon… Aku Cinta Tanah Air, Menanti Restu Sang Guru, dan Kelahiran Nahdlatul Ulama.

Rupanya, Nadhlatul Ulama bukan lahir karena keinginan para ulama pesantren eksis demi kepentingan golongannya. melainkan lebih jauh dari itu. NU lahir dari pertimbangan kondisi sulit saat Indonesia dijajah Belanda, iklim oknum umat Islam dunia yang menunjukkan ekslusivitasnya, serta beragam kondisi yang membuntutinya.

Terbentuknya negara Arab Saudi yang dipimpin Raja Abdul Aziz membuat situasi Mekkah berubah. “Raja baru ini tidak suka dengan ziarah kubur. Ia pun mengutus bangunan makam-makam dihancurkan termasuk makam Sayyidah Khadijah di Ma’la. Selain itu, banyak tempat bersejarah lain yang digusur” (hlm: 59).

Terkait kebijakan tersebut, pernah ada orang Jawa yang hampir dihukum mati lantaran memiliki pandangan berbeda dengan sang raja. Para kiai nusantara, termasuk Hasyim Asy’ari (yang kelak mendirikan NU) khawatir, jemaah haji dari berbagai belahan dunia juga akan ditangkap jika berbeda pandangan dengan raja.

Baca juga :  Kaidah-Kaidah Tafsir untuk Bekal Para Mufasir

“Karena situasi yang semakin mendesak, akhirnya Kiai Hasyim merestui untuk mendirikan organisasi ulama pesantren. Setelah itu mereka bisa mengirim perwakilan untuk mengikuti Muktamar di Mekkah” (hlm. 65). Muktamar tersebut bertujuan membahas persoalan umat Islam di seluruh dunia.

Tidak hanya didasarkan pada keinginan memperjuangkan Islam yang toleran dan inklusif di tingkat dunia, NU juga lahir dari semangat patriotisme-keindonesiaan yang tak perlu disangsikan. Salah seorang murid terbaik Kiai Hasyim Asy’ari yang juga berperan besar dalam lahirnya NU, Kiai Wahab Hasbullah menegaskan, “Organisasi ini akan menghancurkan Belanda. Kita harus yakin kemerdekaan akan tercapai” (hlm. 68).

Teladan dari Ulama Pendiri Bangsa

Cerita kesejarahan NU tak bisa dilepaskan dengan kemerdekaan Indonesia, bahkan sejak organisasi ini masih dalam bentuk embrio. Para kiai pesantren beserta santrinya terlibat aktif menjadi pasukan gerilya Pangeran Diponegoro, bahkan tak sedikit dari mereka yang tumbang. Hingga kemudian, Nahdlatul Ulama lahir dan terus berkembang.

“Para kiai berjuang turun ke medan perang untuk merebut kemerdekaan. Pada 22 Oktober 1945, Kiai Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad untuk bertempur mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia” (hlm. 76).

Saya kira cerita mengenai proses terbentuknya organisasi Islam berperspektif kebangsaan yang toleran dan inklusif seperti NU ini layak disiarkan kepada lebih banyak orang, tak terkecuali anak-anak. Sebenarnya sudah cukup banyak buku yang membahas tema ini, sayangnya mayoritas ditujukan untuk orang-orang dewasa.

Baca juga :  Perempuan Berdaya dalam Novel Kerumunan Terakhir

Maka, sudah tepat apabila Nabilah menulis Kisah Ulama Pendiri Bangsa sebagai buku cerita yang enak dibaca anak-anak. Melalui gaya penuturannya yang lugas, diksi yang mudah dimengerti, serta ilustrasi dan tata letak yang memikat, anak-anak tentu lebih mudah mencerap apa-apa yang tertangkap mata bacanya.

Lebih jauh, cerita hidup para ulama pendiri bangsa yang sarat dengan nilai-nilai baik seperti perjuangan, tanggung jawab, keberanian, semangat menimba ilmu, kepedulian terhadap sesama, perlahan-lahan menghujam ke benak pembaca anak. Selanjutnya, di masa mendatang sang anak berpotensi mempertahankan bahkan meningkatkan pemahaman dan praktik hidup berkenaan dengan nilai-nilai baik tersebut.

Pasalnya, “Bacaan anak menjadi pembentuk resepsi anak atas sekitar, pembentuk mentalitas, penentu nasib literasi, dan penguji cara berindonesia. Buku tidak sekadar mampir lewat untuk mengisi keluangan hidup, tetapi menentukan setiap generasi untuk memantapkan diri bertarung dalam kehidupan sosial, intelektual, dan kemanusiaan” (Bilik Literasi, 2019, hlm. 55). Hal itu pula yang akan terjadi ketika anak-anak membaca buku Kisah Ulama Pendiri Bangsa ini. Tsah!

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *