Apik dan Mendidik

Umat Islam dan Uang: Menjawab Masa Depan

Umat Islam pasti memiliki sudut pandang lain untuk menjawab segala sesuatu dan nantinya akan dikaitkan dengan syariat yang lumayan kompleks penuh pro dan kontra, sebab kajian kontemporer memang selalu dibahas dengan serius  baik di kalangan cendekiawan muslim maupun masyarakat awam. Terutama kajian masa depan.

Para intelektual Barat yang mengemukakan tentang masa depan umat manusia d iantaranya Alvin Toffler, Jhon Naisbitt, Fransisco Fukayama, Samuel P. Huntington, dan James Conton. Pun dengan futuris Indonesia yang selalu mengejutkan dalam memprediksi kejadian yang akan terjadi seperti Sabda Palon, Jaya Baya, Ronggo Warsito, Abdurrahman Wahid, dan lainnya. Masing-masing dari mereka semua memiliki corak yang berbeda.

Prespektif umat Islam dalam memandang kajian masa depan hanya dijadikan sebagai seni membaca, mengira-ngira dan menebak-nebak santai. Akan tetapi, futurulogi mulai hangat dikembangkan dan didiskusikan secara ilmiah dengan basis-basis penelitian yang konseptual dan metodologis. Ditambah kebenaran seorang tokoh yang memprediksi masa depan semakin asyik dibincangkan.

Hemat penulis, bahwa umat Islam hanya menjadi penonton akan perubahan zaman yang semakin pesat. Padahal mereka banyak belajar tentang kajian masa depan, dan tidak dijadikan sebagai ibrah. Pada kenyataannya justru tidak banyak berperan menghadapi perubahan. Sehingga tertinggal jauh oleh negara yang saat ini sedang mengembangkan berbagai bidang, di antaranya politik, ekonomi, dan teknologi.

Perlu diketahui bersama bahwa masuknya teknologi ke negara berkembang hanya untuk kepentingan pasar, kemudian muncullah inovasi yang membuat manusia menjadi makhluk individual karena adanya penemuan yang mempermudah kehidupan, di antara yang menjadi titik fokus pembahasan adalah “uang elektronik”.

***

Singkatnya, manusia diciptakan memiliki rasa ketidakpuasan akan hal apapun, termasuk pada masa pra-sejarah. Yang mana manusia hidup nomaden, berpindah-pindah tempat untuk mencari kebutuhan hidup dari hutan ke hutan yang lainnya. Ketika hewan buruan sudah minim untuk kebutuhan maka mencari lagi, begitu seterusnya.

Kemudian, manusia pasti memiliki rasa lelah sama seperti zaman pra-sejarah. Mereka memutuskan untuk tidak lagi mencari sumber penghidupan di tempat di mana sumber itu tersedia. Akan tetapi, mereka mencoba bercocok tanam, bahkan membuat kubangan air untuk menghidupi kebutuhan.

Hasil bercocok tanam tersebut mereka makan sendiri, dan selalu ada rasa ketidakpuasan. Akhirnya terciptalah sebuah sistem barter antara produk hasil pertanian ditukar dengan ikan dari laut, namun pemikiran selalu saja menghitung segala keuntungan dan kerugian karena  kurang adil jika petani panen perbulan, dan nelayan perhari. Misalnya, seorang petani baru saja panen jagung, dan hasilnya dibarter dengan ikan hasil tangkapan perhari. Mereka menganggap itu tidak adil, dan berpikir ada benda yang bisa mengatur itu semua yaitu alat tukar seperti emas, perak, dan terakhir uang.

Evolusi semacam ini akan terus berlanjut sampai akhirnya ada uang elektronik yang menjadikan manusia hanya berleha-leha dalam menjalani hidup, sebab hanya memainkan jari-jemari apapun bisa terkabulkan, asal angka yang di gawai bisa mencukupi.

Maksud penulis, bahwa tidak lama lagi wujud uang di muka bumi ini akan musnah, dan tergantikan oleh uang elektronik, dan tinggal menghitung hari pasti akan terjadi di mana manusia tidak akan berbelanja dengan kertas melainkan dengan menekan “bayar” di gawai langsung  beres. Bahkan mungkin jarang ditemukan seorang berbelanja secara langsung antara penjual dan pembeli. Di sinilah Islam harus menjawab persoalannya.

Hedonisme semacam itu akan melahirkan manusia individual, dan tentu tidak suka dengan kehidupan sosial, kemudian tidak ada lagi interaksi apalagi gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Jika demikian maka tepatlah sekiranya teori Alvin Toffler tentang “masyarakat yang hilang”.

Menjawab masa depan semacam ini bukan tanpa sebab, atau banyak anggapan hanya khayalan belaka. Akan tetapi, ada kajian metodologinya seperti mempelajari teori kausalitas (Caused and Effected), probabilitas atau bisa dengan kajian sejarah, bahwa peristiwa akan berulang kembali seperti roda pedati yang diciptakan oleh P. A Sorokin.

Dari peristiwa yang nantinya akan terjadi, akan lebih baik umat Islam harus bisa bersaing atau ikut berperan dalam aktivitas kemajuan zaman. Sehingga tidak hanya mengkaji baik buruk dari itu semua. Tapi berperan sebagai penggerak.

Sebuah tantangan besar bagi ormas Islam, dan negara memang tidak mau tahu persoalan untuk ini. Menciptakan program agar masyakarat bisa menjadi manusia yang bersosial, sebab Islam tidak pernah mengajarkan menjadi manusia yang individual. Mewanti-wanti saja, ditakutkan tahlilan nanti online, dan berkat atau bingkisan diganti dengan saldo untuk berbelanja. Mungkin lebih seru bila ditinjau dari fikih dan sosiologi.

 

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *