Umi Sa’adah Muslih, Sufi Perempuan dari Mranggen

Bukan tanpa alasan alfaqir menyebut Umi Sa’adah Muslih sebagai seorang sufi perempuan. Alfaqir pernah menyaksikan sendiri kezuhudan beliau ketika alfaqir masih di Mranggen dan yang lebih penting, alfaqir menggali informasi tentang laku lampah beliau dari Kang Sirojuddin, santri yang menjadi abdi dalem Umi Sa’adah Muslih selama 14 tahun.

Dari apa yang dituturkan oleh Kang Sirojuddin, -juga dari para kiai atau santri yang pernah berinteraksi dengan beliau- alfaqir menyimpulkan bahwa Umi Sa’adah bukan hanya seorang perempuan yang menuliskan gagasan-gagasannya dalam karya sebagaimana Kartini, lebih dari itu beliau adalah seorang sufi perempuan alim yang tindak tanduknya selalu didasarkan pada Al-Qur’an, hadis, dan ulama-ulama saleh.

Kelahiran dan Riwayat Pendidikan

Beliau lahir di Semarang pada 1 Januari 1931. Ayahnya bernama Mahmud dari Randusari, daerah Bergota Semarang, -tempat di mana terdapat makam Kiai Soleh Darat. Sedangkan ibunya bernama Musyrifah. Konon Musyrifah ini mempunyai darah Pakistan.

Setelah mendapatkan pendidikan dasar, Umi Sa’adah sempat menikah namun usia pernikahannya tidak lama. Beliau kemudian belajar di Pondok Pesantren Al-Maghfur Mranggen.

Di pesantren tersebut Umi Sa’adah belajar dengan Kiai Masruhan Ihsan, kiai dari Mranggen yang menulis kitab Risalatu Al-Mahidh dan Al-Mar’ah As-Shalihah. Menurut salah satu sumber, Umi Sa’adah belajar dengan Kiai Masruhan selama kurang lebih tiga tahun.

Pada saat tengah belajar di Pesantren Al-Maghfur, orangtua Umi Sa’adah memintanya pulang karena akan ada tamu dari Mranggen. Ternyata tamu yang dimaksud tidak lain adalah Kiai Muslih yang datang untuk melamarnya.

Peristiwa itu terjadi pada sekitar tahun 1961, setahun setelah wafatnya istri Kiai Muslih, Nyai Mu’minah. Tidak menutup kemungkinan, pernikahan Kiai Muslih dengan Umi Sa’adah terjadi atas rekomendasi Kiai Masruhan. Pasalnya, Kiai Muslih dan Kiai Masruhan adalah dua kiai yang sudah bersahabat sejak lama.

Setelah diperistri Kiai Muslih, Umi Sa’adah kemudian tinggal dan menetap di Mranggen. Di tempat ini Umi Sa’adah menghabiskan hari-harinya untuk mengajar para santri, berkarya, dan beribadah. Beliau mengampu beberapa kitab seperti An-Nur Al-Burhani (manakib Syekh Abdul Qodir Jailani), Burdah, Risalatu Al-Mahidh, dan kitab-kitab lainnya.

Beliau mengajar di kediamannya setiap pukul 08.00 pagi untuk santri-santri putri dan dilanjutkan sekitar pukul 10.00 pagi untuk ibu-ibu sekitar Mranggen. Selepas ashar beliau mengaji lagi untuk santri putri, dan selepas isya mengajar kitab An-Nur Al-Burhani untuk santri-santri putra.

Menurut Kang Siroj, setidaknya ada tiga kitab yang menjadi wiridan sehari-hari Umi Sa’adah, yakni kitab manakib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani (An-Nur Al-Burhany), Burdah, dan Qolbu Al-Qur’an (ayat-ayat Al-Qur’an yang dipercaya sebagai hatinya Al-Qur’an). Beliau hafal ketiganya dan beliau amalkan setiap hari dengan istikamah walaupun beliau sedang sakit.

Masih menurut pengakuan Kang Siroj, Umi Sa’adah tidak pernah mengeluh ketika sakit. Beliau mempunyai riwayat penyakit perut dan migran, namun setiap kali penyakit itu menyerang tidak pernah beliau mengeluh sekalipun.

Umi Sa’adah juga tidak pernah meminta menu makanan tertentu pada santri-santri ndalem. Beliau mempunyai persediaan garam, kecap, dan bawang goreng sendiri yang akan beliau gunakan bilamana makanan yang dihidangkan dinilai kurang pas dengan seleranya.

Demikianlah, Umi Sa’adah Muslih bahkan memiliki doa-doa yang senantiasa beliau baca setiap melakukan detail-detail kegiatan sepereti ketika mencuci beras dan menanak nasi. Banyak cerita yang menyebutkan bahwa ketika membungkusi nasi untuk dijual di kantin pesantren, Umi Sa’adah melakukannya sembari merapal manakib Syekh Abdul Qodir.

Setiap kali hendak memakai pakaian baru, Umi Sa’adah selalu menyediakan air lalu membaca “musabbiat” (Al-Fathihah 7 kali, Al-Qadr 7 kali, Al-Insyirah 7 kali, Al-Ikhlas 7 kali, Al-Falaq 7 kali, dan An-Nas 7 kali) dan menciprat-cipratkan air tersebut pada baju baru.

Dengan keluasan ilmu dan laku sufistiknya yang demikian dalam, wajar bila beliau menjadi sosok perempuan karismatik yang bukan saja disegani di kalangan bu nyai, tetapi juga di kalangan para kiai.

Karya-karya Umi Sa’adah

Ada paling tidak enam karya Umi Sa’adah Muslih yang sampai sekarang masih terjaga dengan baik. Keenam karya tersebut adalah (1) Durratu Al-Fawaid (2) Adz-Dzikr Al-Khushushy ma’a Alfiyati As-Shalawati ala Shahibi As-Syafa’ati (3) Mukhu Al-Ibadah (4) Risalatu Athibai Al-Qulubi (5) Al-Bayan Li As-Shalati Al-Masnunati, dan (6) Mandzumatun Al-Asma Al-Husna.

Semua karya Umi Sa’adah umumnya berbentuk risalah ringkas dan sesuatu yang dipraktikkan sehari-hari (kitab-kitab karya Umi Sa’adah akan saya ulas tersendiri). Sekadar contoh, kitab Al-Bayan Li As-Shalat Al-Masnunah merupakan kitab berisi penjelasan tentang niat dan tata cara shalat-shalat sunah.

Kitab sebanyak 39 halaman itu, sebagaimana kitab-kitab Umi Sa’adah lainnya, ditulis dengan aksara arab pegon dan diterbitkan sendiri oleh koperasi pesantren (tidak seperti kitab karya Kiai Muslih dan kiai Mranggen lainnya yang biasanya diterbitkan Toha Putra Semarang). Kitab-kitab tersebut beliau ajarkan ketika mengisi pengajian tarekat ibu-ibu di Masjid An-Nur setiap Kamis dan di kediamannya sendiri setiap pagi.

Tidak hanya menuliskannya, semua amalan sunah yang beliau jelaskan dalam karya-karyanya, menurut Kang Sirojudin, juga dilakukan sendiri oleh Umi Sa’adah. Kadang amalan itu, seperti shalat sunah nishfu sya’ban, dilakukan bersama dengan para santri putri.

Apresiasi dari Pemerintah

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam rangka Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-69 tahun 2015 memberikan penghargaan “Apresiasi Pendidikan Islam” kepada Umi Sa’adah Muslih atas prestasi dan jasanya dalam merawat tradisi sufi di pondok pesantren putri. Piagam itu ditandatangani Lukman Hakim Saifuddin pada 16 Desember 2014.

Umi Sa’adah wafat pada 7 Jumadil Awal 1437/15 Februari 2016. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga besar Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak. Laha al-fatihah…

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *