Untuk Optimalkan Dakwah, Kaum Santri Didorong Cakap Literasi Digital

IQRA.ID, Sukabumi – Sebanyak 200 santri dan perwakilan ormas Islam hadir mengikuti program Sosialisasi Literasi Digital untuk Penguatan Dakwah Kaum Milenial di Pesantren Assalafiyah I, Cicantayan, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (22/7/22).

Program ini terselenggara atas kerja sama Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) yang didukung oleh TVNU, NU Online, dan Iqra.id.

Menurut Ketua Yayasan Insan Kamil Assalafiyah I KH Lilip Abdul Kholik, literasi digital penting untuk penguatan dakwah terhadap generasi milenial. Pengaruh kemajuan zaman dapat dirasakan oleh setiap individu di dunia. Tak terkecuali pesantren dan santrinya.

“Media digital di era banjir informasi kini tentu perlu kita optimalkan untuk kepentingan dakwah kita,” terangnya saat menyampaikan materi pertama, seperti dikutip dari situs NU Online.

Kiai Lilip menuturkan, banyak cara untuk melakukan dakwah di era digital ini, lewat tulisan, audio (podcast), bahkan Youtube dapat menjadi media dakwah. Lewat media tersebutlah, penyebaran informasi terjadi.

“Nah, berangkat dari ini maka dakwah harus mempunyai konsep, dengan cara lisan di Zoom atau bertemu langsung, dengan tulisan contohnya membuat jurnal, bahkan lewat transfer data,” tuturnya.

Karena, bagi Lilip, kaum santri milenial tidak hanya dituntut untuk mampu menguasai ilmu-ilmu agama saja, namun juga perlu menyeimbangkan dengan ilmu-ilmu lain, salah satunya perkembangan teknologi informasi (IT).

Baca juga :  Mengingat Pesan Perdamaian Walisongo

“Kecakapan terhadap ilmu digital ini tujuannya untuk mengoptimalkan dakwah di media digital. Apalagi di zaman sekarang pemuda-pemudi pengguna internet terus meningkat,” ujar Kiai Lilip.

Ia juga mengungkapkan bahwa santri yang cakap digital memiliki banyak peluang dalam menyebarkan kebaikan. Salah satunya dengan mewujudkan media dakwah Islam rahmatan lil alamin lewat konten-konten yang variatif dan inovatif. “Dakwah di media digital itu kan segmentasinya lebih luas. Jadi, konten-kontennya juga harus variatif,” jelas dia.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pusat Studi Pesantren, Achmad Ubaidillah mengungkapkan bahwa pengguna internet di Indonesia tahun 2021 mencapai 202,6 juta atau 73,7 persen dari total penduduk 275,77 juta jiwa.

“Ini angka yang sangat fantastis. Sehingga pemerintah berani mengatakan, hari ini kita hidup di ekosistem digital,” kata Ubaidillah yang saat ini mengelola Pesantren Al-Falak Pagentongan, Loji, Kota Bogor. Sayangnya, dari jumlah tersebut beberapa situs wesbite yang unggul bukanlah dari kalangan pesantren maupun organisasi masyarakat Islam.

Menurutnya, ini merupakan PR besar bagi generasi-generasi santri saat ini. “Dari survei Alexa 10 website terpopuler tidak lahir dari komunitas pesantren atau ormas keagamaan. Jadi jelas ini merupakan PR besar,” ujar Ubaidillah.

Baca juga :  Geliat Narasi Dakwah Santun Kaum Santri di Media Sosial

Maka dari itu, ia berpesan kepada para santri untuk dapat memanfaatkan media digital secara maksimal. “Media sosial harus kita manfaatkan dengan sangat baik,” ucap pendiri iqra.id itu.

Sementara itu, Pengurus LDNU KH Soleh Sofyan dalam materinya menyebutkan bahwa generasi muda hari ini menjadikan media digital sebagai rujukan belajar agama. Hal ini menunjukkan, selain mengakses informasi yang berkaitan dengan hiburan, generasi milenial juga mencari informasi keagamaan di internet.

“Posisi ulama, akademisi, kiai, dan orang awam di dunia digital setara. Siapa yang paling banyak konten dan
pengikutnya, itulah yang menjadi rujukan di dunia digital,” tegasnya.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.