Urgensi Pencatatan Laporan Keuangan Masjid

Masjid memiliki peran penting dalam membangun peradaban muslim, sehingga dalam istilah lain kerap kali disebut sebagai Islamic Center. Hal ini dikarenakan masjid yang fungsinya tidak hanya sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah (hablum minallah), melainkan juga berfungsi sebagai sarana untuk menjalankan kegiatan masyarakat (hablum minannaas) yang mencakup bidang ekonomi, sosial, pendidikan, dan politik.

Berdasarkan penggolongan, masjid merupakan bagian dari organisasi nirlaba di mana kegiatan operasionalnya dijalankan bukan untuk mendapatkan laba/profit. Operasional masjid lebih kepada pelayanan jasa yang diberikan untuk kesejahteraan umat yang berada di sekitar lingkungan masjid tanpa imbal hasil apapun.

Dalam menjalankan kegiatan operasional masjid, pengurus mengelola sumber daya (baca: dana, red) yang berasal dari masyarakat ataupun jemaah serta donatur melalui sedekah, infaq, waqaf, zakat, dan hibah. Sumber-sumber daya tersebut merupakan pemasukan utama yang diperoleh masjid yang nantinya dapat digunakan dengan tujuan untuk memakmurkan masjid.

Dengan pengelolaan dana yang berasal dari masyarakat maupun donatur, sudah seharusnya masjid sebagai organisasi sosial Islam dalam menjalankan kegiatan ataupun aktivitas operasionalnya harus dapat mempertanggungjawabkan pelaporan keuangan yang transparan dan akuntabel kepada publik.

Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab pengurus masjid, tidak hanya kepada publik namun juga kepada Allah SWT. Adapun untuk aspek transparansi, misalnya masjid di wilayah Banda Aceh, sudah mencapai transparansi yang baik.

Baca juga :  Masjid At-Thohir Los Angeles, Masjid Kebanggaan Indonesia di Pantai Barat Bumi Amerika

Hal ini dibuktikan dengan adanya informasi mengenai pencatatan pemasukan dan pengeluaran masjid dan juga pemberitahuan langsung setiap Jum’at mengenai jumlah pemasukan dan pengeluaran masjid. Namun, untuk aspek akuntabilitas, masjid di Banda Aceh belum sepenuhnya melaksanakan aspek akuntabilitas dalam pengelolaan laporan keuangannya.

Meskipun masjid hanya mencatat pemasukan dan pengeluaran saja, mungkin sebagian besar masyarakat tidak mempermasalahkan hal tersebut. Hal ini disebabkan dana yang mereka keluarkan untuk masjid semata-mata hanya untuk mengharapkan ridha dari Allah.

Alasan lainnya mungkin karena masyarakat yang belum sepenuhnya paham dan sadar bahwa aspek pengelolaan dalam pelaporan keuangan masjid sesuai ISAK 35 (Laporan Penghasilan Komprehensif) tentang Penyajian Laporan Keuangan Entitas Berorientasi Non-Laba sebagai pengganti dari PSAK 45 atau PSAK 109 tentang zakat, infaq, dan sedekah adalah hal yang penting.

Laporan keuangan sebagai bagian dari proses pelaporan keuangan memberikan informasi keuangan yang disajikan dan disiapkan kepada para pihak yang membutuhkan serta sebagai alat pertanggungjawaban. Maka dari itu, jika laporan keuangan dibuat sesuai standar akuntansi yang berlaku, maka dari laporan keuangan inilah kita dapat menilai bagaimana kinerja keuangan dari suatu masjid.

Pelaporan keuangan masjid yang akuntabel dan transparan juga akan berdampak pada keberlangsungan masjid sebagai organisasi sosial Islam non-profit. Dengan begitu, dana yang diperoleh akan lebih terjamin dan nantinya para penyalur dana tersebut akan lebih yakin dalam memberikan dananya.

Baca juga :  Ini Faktor Mengapa Masjid Istiqlal Tidak Gelar Sholat Idul Adha 1441 H

Namun demikian, masih ada permasalahan lain yang timbul, seperti kebanyakan pengurus masjid yang menangani laporan keuangan masjid belum sepenuhnya mengerti tentang pelaporan keuangan sesuai standar akuntansi.

Maka dari itu, diharapkan pula peran Pemerintah agar dapat mengembangkan pelatihan pelaporan keuangan khususnya untuk masjid sebagai lembaga sosial Islam non-profit sesuai standar akuntansi yang ada.

Karena dengan adanya laporan keuangan sesuai standar yang telah diatur akan mencegah penyelewengan atau manipulasi dana masjid. Bahkan, bagi pengelola masjid sendiri laporan keuangan yang dibuat sesuai standar akan berfungsi untuk menggambarkan bagaimana kondisi keuangan masjid sehingga dapat mengevaluasi hasil kinerja keuangan yang ada.

Selain itu, dapat dipertanggungjawabkan juga dengan baik karena laporan keuangan yang telah disusun sudah bersifat akuntabel, transparan, dan sesuai standar akuntansi.

Oleh karena itu, sesuai dengan penjabaran di atas, sudah seharusnya masjid lebih profesional dalam mengelola laporan keuangannya. Alasan-alasan tersebut juga merupakan bentuk tanggung jawab dalam mengelola dana masjid merupakan amanah yang sifatnya vertikal kepada Allah.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.