Ushfuriyah, Kitab 40 Hadits Nasihat dan Hikayat Orang-Orang Saleh

Di antara kitab dongeng, nasihat, dan kisah orang-orang saleh, baik dari kalangan sahabat hingga waliyullah (kekasih Allah), yang sangat populer di dunia pesantren adalah kitab Syarh al-Mazaizh al-‘Ushfuriyah karya Hadratussyekh Muhammad bin Abi Bakar yang terkenal dengan syekh Ushfuri Rahimahullah.

Kitab tipis yang biasa dijadikan kitab khataman saat bulan Ramadan ini memuat empat puluh hadits Nabi Muhammad yang berisi nasihat dan pesan agama yang dibawakan melalui cerita, kisah dan dongeng. Dengan membaca kitab ini, kita serasa belajar agama tanpa merasa digurui oleh sang pengarang.

Bila diartikan secara bebas, ushfuri ini memiliki arti burung emprit. Mengapa kitab ini dinamakan ushfuri? Sebelum menjawab pertanyaan itu saya terlebih dahulu akan membahas mengapa harus empat puluh hadits yang ada di dalam kitab ini.

Pada pembukaan kitabnya, Syekh Ushfuri menulis sebuah keterangan dari sabda Nabi Muhammad saw yang berbunyi, “Barangsiapa yang mengumpulkan empat puluh hadits, maka ia berada di dalam pengampunan dan pemaafan.

Akhirnya, Syekh Ushfuri mengumpulkan sebanyak empat puluh hadits dalam kitab ini yang semua sanadnya bersambung kepada Nabi Muhammad saw. Dan tentunya, untuk bersambung kesana, riwayat-riwayat tersebut juga bersambung pula pada para masyayikh pilihan dan imam-imam besar.

Di sisi lain, Syekh Ushfuri juga menambah beberapa keterangan yang isinya berupa peringatan, nasihat dan hikayat yang ia dengar dari ulama-ulama yang disebutkan dalam hadits ataupun atsar (riwayat dari sahabat).

Jadi, secara sistem penulisannya begini, Syekh Ushfuri menulis hadits pertama terlebih dahulu. Misal pada halaman dua, Syekh Ushfuri mengutip hadits yang berkaitan perintah nabi untuk menyayangi makhluk yang ada di muka bumi, niscaya penduduk langit akan menyangi kalian.

Kemudian, Syekh Ushfuri menambahkan hikayat setelah hadits tersebut. Hikayat ini akan menjawab pula pertanyaan saya di atas, mengapa kitab ini dinamai dengan nama burung emprit.

Dikisahkan dalam sebuah hikayat, suatu ketika Umar berjalan-jalan di kota Madinah. Kemudian ia melihat burung emprit berada di tangan anak kecil dan anak kecil tersebut menjadikan burung itu sebagai mainan.

Karena kasihan dan sayang melihat burung emprit itu, Umar pun membeli burung itu dan membebaskannya. Tatkala Umar telah wafat, jumhur ulama ada yang bermimpi Umar. Mereka bertanya kepada Umar tentang keadaanya setelah mengalami kematian itu.

“Apa yang telah Allah perbuat kepadamu?”

“Allah telah mengampuni dan membebaskanku,” jawab Umar.

“Sebab apa Allah memperlakukan begitu kepadamu? Sebab kedermawananmu, keadilanmu, atau zuhudmu?”

Kemudian Umar pun bercerita, “Ketika kalian meletakkanku di kuburan, menutupiku dengan tanah, dan kalian satu per satu meninggalkanku, datanglah dua malaikat yang mengerikan. Melayanglah pikiranku dan persendianku menggigil ketakutan karena saking wibawanya dua malaikat tersebut.

Lalu dua malaikat itu mengambil dan menududukkanku karena hendak menanyaiku di alam kubur. Tiba-tiba muncullah suara, ‘tinggalkanlah hambaku ini dan jangan kalian membuatnya takut. Aku telah mengasihani dan membebaskannya karena ia telah mengasihi ‘burung emprit’ di dunia, maka aku mengasihaninya di hari akhir.

Dari asal-usul nama kitabnya saja kita sudah dapat mengambil hikmah, ibrah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Ada pesan tersirat bahwa kita hendaknya menyanyangi dan berbelas kasihan kepada makhluk Allah di muka bumi ini. Bahkan burung emprit sebagaimana nama kitab ini.

Kemudian, dalam menyebutkan hikayat di setiap hadits, Syekh Ushfuri tidak menulis satu hikayat saja, terkadang terdapat ada dua hikayat atau satu hikayat tapi cukup panjang ceritanya.

Kitab ini hanya berisi tiga puluh dua halaman (beserta daftar isinya) dan daftar isinya memuat empat puluh bab sesuai dengan hadits yang ditulis dalam kitab ini. Kitab ini sangat cocok dibaca saat khataman bulan Ramadan, mengisi waktu luang untuk bercerita kepada murid maupun anak-anak. Selain karena tipis, juga bahasa yang digunakan tidak njlimet.

Kitab ini juga cocok bagi kita yang ingin belajar agama dengan nuansa kitab berbeda. Amal-amal kecil yang sering kita sepelekan dan tidak terfikirkan, dengan membaca kitab ini, insyaallah fikiran dan hati kita semakin tergerak untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya. Bahkan amal kecil sekalipun.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak mudah bosan belajar dan mengamalkan ilmu agama. Amiin. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *