Viral Klepon Tidak Islami, Ini Kriteria Makanan Islami dalam Al-Qur’an

Baru-baru ini kita diramaikan viralnya gambar poster berjudul Kue Klepon Tidak Islami. Poster itu sontak membuat geger netizen sebab terdapat deskripsi teks yang bertuliskan: “Yuk tinggalkan jajanan yang tidak islami dengan cara membeli jajan islami aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami.”

Poster tersebut memang belum jelas sumber dan siapa yang membuatnya. Belakangan beredar penelusuran, bahwa poster ini dibuat bukan untuk kepentingan marketing barang yang dijual, melainkan cenderung mengandung propaganda untuk membuah “gaduh” masyarakat, terutama umat Islam.

Terlepas dari benar tidaknya poster itu, kita perlu mengetahui tentang apa saja kriteria suatu makanan disebut Islami, atau dalam bahasa hukumnya yakni makanan yang halal.

Baca juga :  Soal Poster Klepon Tidak Islami, Asli Apa Buatan Oknum?

Berikut beberapa ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil tentang kriteria halal dan haram suatu makanan atau minuman.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai Manusia, makanlah dari apa yang terdapat di bumi, yang halal dan yang thoyyib. Dan janganlah kamu menuruti jejak setan (yang suka melanggar atau melampaui batas). Sesungguhnya setan itu adalah musuh kamu yang nyata.’ (QS. Al-Baqarah [2]:1 68)

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ 

“Diharamkan bagi kamu sekalian bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan tidak atas nama Allah, binatang yang tercekik, yang dipukul, yang terjatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas kecuali kamu sempat menyembelihnya, dan diharamkan juga bagimu binatang yang disembelih untuk dipersembahkan kepada berhala.” (QS. Al-Maidah [5]: 3)

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.”

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah [5]: 88)

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“…dan (Allah) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. Al A’raf [7]: 157).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al-Ma`idah: 90).

Baca juga :  Kenapa Banyak Ustadz Laris Manis Meskipun Kontroversi?

Paling tidak ada dua istilah penting yang bisa dipahami dari sederet ayat di atas, yakni halal dan thoyyib. Kata halal bisa diartikan dibenarkan atau dibolehkan. Lawan katanya yakni haram yang artinya dilarang atau tidak dibenarkan menurut syariat Islam. Sedangkan thoyyib sepadan dengan makna bermutu dan tidak membahayakan kesehatan.

Pada ayat di atas disebutkan, kita diperintah mengkonsumsi makanan yang halal dan thoyyib. Hal itu berarti kita harus makan makanan yang dibolehkan yang sesuai dengan tuntunan syariat Islam, yang memiliki kualitas yang bermutu, sehingga tidak merusak kesehatan.

Dalam ajaran Islam, semua jenis makanan dan minuman pada dasarnya adalah halal (al-ashlu fil asya’ al-ibahah), kecuali hanya beberapa saja yang diharamkan. Makanan haram itu pun bisa menjadi halal bila dalam keadaan darurat. Sebaliknya, makanan halal pun bisa menjadi haram, misalnya dikonsumsi melampaui batas, cara prosesnya yang tidak benar, cara memperolehnya yang tidak benar.

Dalam konteks Indonesia, menurut Ketua Pengurus Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan, Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Sunhadji Rofi’i seperti dilansir oleh laman MUI Bali, pengertian halal dan haram ini sesungguhnya bukan hanya menyangkut kepada masalah makanan dan minuman saja. Tetapi, hal itu juga menyangkut perbuatan. Jadi, ada perbuatan yang dihalalkan, ada pula perbuatan yang diharamkan.

Berikut pengertian makanan dan minuman yang halal meliputi:

  1. Halal secara zatnya
  2. Halal cara memprosesnya
  3. Halal cara memperolehnya
Baca juga :  Dianggap Virus Biasa, Gus Mus: Corona Bukan Virus Abal-Abal
Makanan yang halal secara zatnya

Allah Maha Pemurah lagi Maha Pengasih. Sangat banyak bahkan hampir semua jenis makanan adalah halal dan dapat dikonsumsi. Sebaliknya, terlalu sedikit jenis makanan yang diharamkan yang tidak boleh dikonsumsi. Hikmah pelarangan tersebut jelas Allah yang Maha Mengetahui.

Adapun kebaikan dari adanya larangan tersebut jelas untuk kepentingan dan kebaikan bagi manusia itu sendiri. Di antaranya, sebagai penguji ketaatannya secara rohaniah melalui makanan dan minumannya dan agar manusia tahu/mau bersyukur.

Bangkai, darah dan babi secara tegas diharamkan oleh Allah, sesuai dengan ayat yang disebutkan di atas. Selanjutnya semua binatang yang mati tidak melalui proses penyembelihan hukumnya haram, disamakan dengan bangkai. Termasuk binatang yang mati dalam pengangkutan sekalipun baru sebentar, tidak boleh ikut disembelih dan dikonsumsi oleh manusia.

Makanan yang halal menurut cara prosesnya

Makanan yang halal tetapi bila diproses dengan cara yang tidak halal, maka menjadi haram. Memproses secara tidak halal itu bila dilakukan:

  1. Penyembelihan hewan yang tidak dilakukan oleh seorang muslim, dengan tidak menyebut atas nama Allah dan menggunakan pisau yang tajam.
  2. Penyembelihan hewan yang jelas-jelas diperuntukkan atau dipersembahkan kepada berhala (sesaji).
  3. Karena darah itu diharamkan, maka dalam penyembelihan, darah hewan yang disembelih harus keluar secara tuntas, dan urat nadi lehar dan saluran nafasnya harus putus dan harus dilakukan secara santun, menggunakan pisau yang tajam.
  4. Daging hewan yang halal tercemar oleh zat haram atau tidak halal menjadi tidak halal. Pengertian tercemar disini bisa melalui tercampurnya dengan bahan tidak halal, berupa bahan baku, bumbu atau bahan penolong lainnya. Bisa juga karena tidak terpisahnya tempat dan alat yang digunakan memproses bahan tidak halal.
  5. Adapun ikan baik yang hidup di air tawar maupun yang hidup di air laut semuanya halal, walaupun tanpa disembelih, termasuk semua jenis hewan yang hidup di dalam air.
  6. Selain yang tersebut diatas, ada beberapa jenis binatang yang diharamkan oleh sementara pendapat ulama namun dasarnya masih mengundang perbedaan pendapat.
Baca juga :  Tuhan itu Maha Asyik, Jangan Dibuat Rumit
Makanan yang halal cara memperolehnya

Seorang muslim yang taat sangat memperhatikan makanan yang dikonsumsinya. Islam memberikan tuntunan agar orang Islam hanya makan dan minum yang halal dan thoyyib, artinya makanan yang sehat secara spiritual dan higienis.

Dalam pandangan tokoh MUI tersebut, mengkonsumsi makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal akan sangat berpengaruh negatif terhadap kehidupan spiritual seseorang. Darah yang mengalir dalam tubuhnya menjadi sangar, sulit memperoleh ketenangan, hidupnya menjadi beringas, tidak pernah mengenal puas, tidak pernah tahu bersyukur, ibadah dan doanya sulit diterima oleh Tuhan.

Ulasan di atas memang masih sebatas permukaannya saja, belum mendalam membahas secara detail bagaimana kriteria makanan ‘Islami’. Paling tidak, berangkat dari kajian ayat-ayat dalam Al-Qur’an dapat dipahami bahwa makanan islami atau halal tidak lah terkait asal-asulnya, misal makanan Arab, makanan Eropa, makanan Melayu, makanan Jawa, makanan Padang, dan seterusnya.

Dengan demikian, kesimpulan awal ini kita dapat memahami bahwa sebenarnya tidak ada istilah makanan islami, melainkan yang ada adalah makanan halal dan thoyyib yang erat kaitannya dengan kandungan zatnya, cara memprosesnya, dan cara memperolehnya.

Dengan begitu, secara khusus momentum “kue klepon” ini jangan sampai kita terjebak dengan syahwat simbol-simbol agama, seperti makanan syariah, jajanan sunnah, hijrah food, dan sejenisnya, sehingga membabi buta kuliner atau jajanan tradisional. Secara umum, kita juga tidak perlu menghabiskan tenaga dan pikiran untuk berdebat soal hal-hal remeh yang bernuansa propaganda. Dengan bekal ilmu pengetahuan, insyaallah kita tidak akan mudah kaget, latah, bahkan diadu domba dengan persoalan semacam itu.  Wallahu a’lam.

Baca juga :  Protokol Penyembelihan Hewan Kurban di Masa Pandemi Corona
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *