Virus Itu Juga Makhluk Tuhan, Mengapa Kamu Tak Percaya?

Ini tentang virus. Virus itu makhluk Tuhan juga. Jadi sah-sah saja dia ada. Baik adanya dia alami maupun diadakan, intinya dia ada.

Virus ini berbahaya bagi manusia, di mana Covid-19 bukanlah yang pertama. Dulu kita dengar ada Antraxs, Mers, E-Bola, Flu Babi, Flu Burung dan bahkan Zakazaky. Tapi, Covid-lah hingga saat ini yang paling bahaya dan paling luas daya rusaknya hingga saat ini, setidaknya selama lebih dari lima puluh tahun terakhir.

Tentang seberapa kadar bahayanya, tentu seperti penjelasan pihak kesehatan: simpang siur alias tidak jelas. Terutama terkait kemampuan menyerangnya, karena ini berurusan dengan perkembangan mutasi virus dan pertahanan badan masing-masing orang yang berbeda-beda.

Bayangkan seluruh dunia, beda musim, beda cuaca beda warna kulit. Beda kota-desa, beda kebiasaan, beda pola makan, beda penyakit bawaan, dan lain-lain. Intinya tidak jelas, atau belum ada penjelasan yang memadai. Tetapi, ini tidak mengurangi nilai bahwa virus ini ada dan berbahaya.

Tentang Putaran Uang

Sedangkan masalah keuangan di baliknya, justru itulah bukti bahwa dia ada. Hampir tidak mungkin orang seluruh dunia kelabakan kalau memang tidak ada. Masak iya tidak ada yang protes kalau memang tidak ada?

Sejauh ini yang pernah tidak percaya misalnya Donald Trump, tapi dia tidak percaya pada tingkat bahayanya, bukan pada ada atau tidaknya. Dan terbukti doi kemudian keok dan negaranya sempat kelabakan dalam menangani dampak Corona.

Bahwa Corona dipergunakan oleh sebagian pihak untuk mengeruk keuntungan? Itu adalah nyata-nyata benar dan terbukti. Ada bantuan yang dikorupsi, ada anggaran negara yang diperebutkan dan ada produk-produk medis yang dipaksakan. Tak perlu meragukan itu. Yes, itu memang nyata.

Baca juga :  Pemerintah Sediakan Dana 2,6 Triliun untuk Pesantren dalam Hadapi Covid-19

Seperti juga perang yang selalu menguntungkan bagi para pedagang senjata dan peluru. Begitulah dunia, contoh terkecil misalnya ada orang sakit gigi, lalu dokter gigi dan penjual obat dapat penghasilan.

Ada ban kendaraan bocor lalu tukang tambal ban yang berperan memperbaikinya sehingga dapat menjadi penghasilan. Bukankan musibah bagi sebagian orang adalah rezeki bagi sebagian lainnya? (Maaf kalimat ini tidak sopan, tetapi hal demikian adalah sunnatullah sebagai roda kehidupan di dunia)

Tetapi, tidak serta merta beberapa pihak yang mengambil keuntungan ini, lantas menjadikan virus Corona mereda. Tidak ada urusannya sama sekali, virus itu sudah terlanjur ada dan dia berjalan dengan tata caranya sendiri.

Tidak peduli juga bagaimana dunia menganggap dan memperlakukannya. Ibarat peluru atau rudal yang sudah ditembakkan, dia tetap akan melesat lalu meledak meskipun perundingan damai sudah disepakati misalnya.

Lagian bukankah orang-orang yang suka mengambil untung dari penderitaan orang lain, akan selamanya begitu kelakuannya? Ada atau tidak corona, mereka akan tetap begitu, kecuali kalau mereka sudah tobat.

Ya masalah uang yang diperebutkan, hal apa sih di dunia ini yang uangnya tidak diperebutkan?

Tapi kan rebutan uang yang lalu membesar-besarkan atau bahkan menganggap tidak ada, itu tidak ngaruh bagi virusnya. Virus mah virus aja. Dia berjalan dan menyebar tidak ada urusan dengan uang yang diperebutkan.

Virus sudah terlanjur ada, dia nyerang orang-orang. Masalah orang itu luka atau tidak karena serangan virus itu hal lain. Mungkin ada orang yang kebal virus seperti ada orang yang kebal peluru. Tapi, hal itu tidak berarti peluru dan virusnya tidak ada.

Baca juga :  Inovasi Baru: Batik Pesona Covid 19 dan Endorphin

Bahkan pada saat ada bencana alam pun, perebutan uang/anggaran itu soal lain. Perebutan uang dan anggaran bencana seringkali tidak berhubungan dengan bencana secara langsung.

Misalnya beli perahu karet saat musim kemarau. Apakah lalu banjirnya tidak ada? Atau membesar atau mengecil? Itu hal lain.

Kita percaya atau tidak, kita tetap memiliki kemungkinan/resiko terkena/tertular virusnya. Seperti ketika memasuki medan perang, tentara atau wartawan tetap memiliki kemungkinan/resiko terkena peluru atau pecahan granat.

Maka tinggallah diri kita sendiri yang menentukan, apakah kita akan menggunakan pelindung badan atau tidak. Dalam hal ini kita sendiri yang menentukan.

Kecuali bila kita adalah tenaga kesehatan selaku pejuang di garis depan melawan Corona ini. Dan para nakes inilah tentu saja sebagai pihak yang paling beresiko terhadap paparan virus.

Secara Agama

Pandemi dalam bahasa agama adalah tha’un (طاعون). Peristiwa pandemi ini sering terjadi sejak zaman Nabi, sahabat, para ulama dan bahkan hingga sekarang. Hanya dulu belum ada penjelasan medis modernnya.

Orang Jawa mengatakan pandemi sebagai pagebluk atau wabah. Dulu pun kita tidak mendengar penjelasannya sebelum medis modern datang. Zaman-zaman dulu hanya dijelaskan bahwa banyak orang tiba-tiba mati tanpa diketahui penyebabnya.

Kini, para ulama pun mayoritas percaya bahwa Covid-19 ini ada. Mereka menganjurkan untuk mengamankan diri dengan mematuhi prokes (protokol kesehatan) dan meningkatkan imunitas.

Baca juga :  Perangi Covid-19, Arab Saudi Imbau Muslim Sholat Tarawih di Rumah

Hal penting yang juga disampaikan ulama adalah bahwa lockdown, karantina, PSBB atau apapun namanya, adalah salah satu pencegahan penularan virus sejak zaman Nabi dan Sahabat. Maka tak perlu mendebat hal ini, kecuali masalah detailnya, ini masih bisa diperdebatkan.

Tolong Jangan Abai!

Bagi yang tidak percaya, sebaiknya anggaplah dia ada, karena siapa tahu dia memang ada. Kalau misalnya dia tidak ada? Ya tidak apa-apa. Toh tidak rugi apa-apa jika mengangap ada. Ya cuma repot sedikit untuk mematuhi prokes.

Dengan mematuhi prokes berarti kita telah menjaga diri kita dan orang-orang di sekitar kita dari penularan virus ini. Toh seandainya, misalnya, ini seandainya virus ini ternyata tidak ada, maka kita telah memberikan rasa aman kepada mereka yang percaya.

Karena kalau tidak percaya toh kita tetap kena dampaknya juga. Sebab Pemerintah dan bahkan dunia sudah menyatakannya ada. Kita tidak bisa protes itu, setidaknya untuk saat ini.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *