Wahai Perempuan, Jadilah Seperti Khadijah

Wahai Perempuan Jadilah Seperti Khadijah ra

“…Demi Allah, aku tidak pernah memperoleh pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia mempercayaiku tatkala semua orang mendustakanku. Ia memberiku harta di saat semua orang enggan memberi. Dan darinya aku memperoleh keturunan, sesuatu yang tidak kuperoleh dari istri-istriku yang lain.” – Rasulullah Saw (HR. Ahmad).

Hadits di atas agaknya mewakili semua perasaan cinta di hati Rasulullah terhadap istrinya, Khadijah.  Pernah suatu ketika Rasulullah berkata bahwa ia dikaruniai oleh Allah Swt rasa cinta yang mendalam kepada Khadijah, sehingga tidak mudah baginya untuk melupakan istrinya itu.

Khadijah merupakan putri dari Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul Uzza bin Qushay. Pada nama Qushay, nasab Khadijah bertemu dengan Rasulullah. Nenek Khadijah dari pihak ibu bernama Halah binti ‘Abdu Manaf. Pada nama ‘Abdu Manaf, nasab Khadijah juga bertemu dengan Rasulullah.

Istri Kesayangan Rasulullah

Khadijah merupakan istri pertama Rasulullah. Selama menikah dengan Khadijah, Rasulullah tidak pernah menikahi perempuan lain. Khadijah merupakan sosok perempuan yang begitu berarti bagi Rasulullah. Sehingga pada setiap kesempatan tidak pernah bosan Rasulullah menyebut kebaikan-kebaikan istrinya itu dan selalu memberi penghormatan bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Hal ini terlihat dari perlakuan Rasulullah kepada para kerabat Khadijah. Salah satunya ketika Rasulullah menyembelih seekor kambing, tak lupa ia sisihkan sebagian untuk diberikan kepada para kerabat Khadijah. Aisyah juga pernah mengisahkan bahwa hampir tak pernah Rasulullah keluar rumah tanpa menyebut dan memuji Khadijah.

Sehingga hal ini pernah membuat Aisyah cemburu. Di riwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, bahwa Aisyah pernah berkata, “Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang perempuan sebesar cemburuku pada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Rasulullah sering menyebut namanya…”

Baca juga :  Khadijah dan Wahyu Pertama

Aisyah juga pernah berkata, “Di antara istri-istri Nabi, hanya Zainab binti Jahsy lah yang bisa menyaingiku dalam kedekatan kami kepada Rasulullah… akan tetapi, Rasulullah tetap saja tidak bisa melupakan Khadijah.”

Salah satu contoh lain yang menunjukkan betapa berarti Khadijah di hati Rasulullah adalah ketika terjadinya peristiwa Fath Makkah (Pembebasan Mekkah). Rasulullah meminta Zubair bin ‘Awwam untuk menancapkan panji pasukan di daerah Hujun, karena di sanalah tempat makam Khadijah berada.

Bilamana Rasulullah saja sampai begitu cintanya kepada Khadijah, maka dapat disimpulkan bahwa Khadijah bukanlah sosok perempuan biasa. Lalu bagian apa saja dari sosok Khadijah yang dapat ditiru oleh perempuan masa kini?

Menjadi Sosok Penuh Kasih

Hal pertama yang patut dicontoh oleh perempuan masa kini adalah sifat penuh kasih yang dimiliki oleh Khadijah. Jiwa yang penuh kasih dapat mendatangkan rahmat Allah Swt dan membuat siapapun yang ada di dekatnya merasakan kenyamanan.

Seperti kisah Khadijah yang juga ikut mencintai apapun yang dicintai oleh Rasulullah. Seperti, caranya mencintai dan menghormati Tsuwaibah (ibu persusuan Rasulullah dan seorang hamba sahaya milik Abu Jahal) dengan cara memerdekakannya, meskipun hal tersebut belum bisa terlaksana.

Selain itu, Khadijah juga selalu berusaha untuk mencukupi setiap kebutuhan suaminya. Salah satunya adalah ketika Rasulullah melakukan uzlah di Gua Hira, Khadijah selalu mengirimkan bekal makanan dan minuman kepada orang yang ia kasihi itu.

Baca juga :  Nabi Muhammad di Gua Hira dan Khadijah Sang Penyelimut Hati

Khadijah juga berperan penting dalam penyebaran agama Islam dengan cara memberikan sebagian besar hartanya untuk membantu dakwah Rasulullah, terlebih lagi saat peristiwa pemboikotan umat Isam yang dilakukan oleh Bani Qurays. Karena kasih sayangnya ini sampai-sampai Allah Swt menitipkan salam kepada Khadijah melalui malaikat Jibril dan disampaikan langsung kepada Rasulullah.

Sumber Kekuatan Bagi Orang Lain

Sifat yang patut diteladani selanjutnya dari Khadijah adalah kesediaan dirinya untuk menjadi kekuatan bagi orang lain. Khadijah adalah orang yang membesarkan hati Rasulullah ketika baru menerima wahyu untuk pertama kalinya. Di saat itu, Rasulullah yang baru kembali dari Gua Hira merasa terkejut dengan peristiwa yang baru saja ia alami.

Tanpa banyak bertanya, Khadijah yang mengetahui peristiwa yang baru dialami suaminya  itu langsung berkata bahwa hal itu adalah kabar baik dari Allah Swt. Karena kelak ia berharap suaminya itu akan menjadi nabi bagi umat ini. Maka, ia meminta Rasulullah untuk bergembira dan bersabar atas apa yang malaikat Jibril sampaikan. Karena Khadijah yakin bahwa Allah tidak akan pernah menghinakannya. Karena perkataan Khadijah inilah, sehingga membuat kekhawatiran Rasulullah berangsur-angsur menghilang.

Selain itu, Khadijah juga merupakan orang pertama yang beriman kepada Allah Swt dan Rasulullah. Ia turut membenarkan dan mendukung Rasulullah dalam berdakwah. Di saat Rasulullah mendengar perkataan  yang tidak ia sukai seperti penolakan atau fitnah yang membuatnya sedih, Khadijah kemudian menyemangatinya, meringankan bebannya, dan menjadikan tanggapan remeh manusia terhadap suaminya sebagai hal yang tak berarti.

Tegas Namun Bisa Mendengarkan Orang Lain

Hal yang patut diteladani selanjutnya adalah kesediaan Khadijah untuk menjadi pendengar yang baik. Meskipun ia adalah perempuan yang mandiri dan berkepribadian kuat, namun ia adalah sosok istri yang masih mau mendengarkan perkataan suaminya.

Baca juga :  Sayyidah Aisyah, Perempuan yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadis

Dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dikatakan bahwa ketika Rasulullah mendapatkan perintah untuk mendirikan shalat, ia kemudian mengajarkan kepada Khadijah tentang tata cara berwudhu dan shalat seperti yang malaikat Jibril perlihatkan kepadanya. Khadijah pun berwudhu dan shalat seperti shalatnya Rasulullah.

Selanjutnya ada pula peristiwa ketika Abu Lahab hendak mengajukan lamaran kepada kedua putri Nabi Saw (Ruqayyah dan Ummu Kultsum) untuk kedua putranya, Utbah dan Utaibah, ibunda Khadijah menyerahkan persoalan ini kepada suaminya itu.

Meskipun pada awalnya ia merasa enggan menerima lamaran bagi kedua putinya tersebut, namun suaminya telah mengambil keputusan bahwa ia menerima lamaran Abu Lahab. Oleh karenanya hal itu tidak bisa dibatalkan.

Khadijah merasa bahwa sebenarnya keengganan tersebut muncul karena rasa tidak sukanya kepada Ummu Jamil (istri Abu Lahab) yang culas dan suka memanipulasi orang lain. Apa yang dilakukan Khadijah ini merupakan suri teladan tentang bagaimana seorang istri harus menghormati keputusan suaminya dan tidak larut dalam pertimbangan emosional.

Rujukan:

Abdul Mun’im Muhammad Umar, Khadijah: Cinta Sejati Rasulullah, (Jakarta: Republika, 1994).

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *