Wali Pitu (7), Bukti Perkembangan Islam di Bali

Bali dikemas menjadi tempat pariwisata yang menarik. Kebudayaan, adat, kondisi alam tropis, pantai dengan pasir putihnya, bahkan tempat beribadat pun dijadikan wisata. Sebagai orang Bali asli, saya merasa ada beberapa yang dipaksakan, dan minim dampak positifnya.

Pada umumnya, Bali selalu tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan yang bercirikan Hindu. Seolah bicara Bali, ya bicara agama Hindu. Tak jamak orang tahu bahwa di Bali juga ada umat muslim yang tersebar di seluruh pulau Bali.

Bukti telah berkembangnya Islam sejak lama di Bali, dengan adanya berbagai makam Islam, yang kemudian di keramatkan seperti makan Wali Pitu.

Ziarah Wali Pitu diperkenalkan ke publik pada awal abad ke XXI, di atas tahun 2000. Banyak para peziarah dari Jawa dan luar Jawa datang, sehingga keberadaan Wali Pitu di Bali sudah tidak asing lagi. Bahkan sudah dijadikan promosi andalan utama oleh berbagai biro perjalanan wisata.

Anehnya, keberadaan Wali Pitu sangat asing bagi umat Muslim Bali. Umat Muslim di Bali baru mengetahui ada Wali Pitu setelah banyaknya gelombang peziarah dari Jawa, yang selalu memadati makam-makam keramat yang masuk daftar Wali Pitu tersebut.

Muncul berbagai pertanyaan, kenapa umat Muslim sendiri yang berada di Bali tidak mengetahui Wali Pitu? Kapan sebenarnya istilah Wali Pitu muncul? Apakah hanya 7 makam keramat yang ada di Bali? Berikut ini beberapa analisa sederhana Penulis;

Baca juga :  Apakah Wali Itu Ada?

Pertama, Wali Pitu di Bali tidak kemudian bisa disamakan dengan keberadaan Walisongo di Jawa. Walisongo di Jawa keberadaannya sangat terasa bagi umat Muslim di seluruh Jawa, bahkan umat Islam Nusantara. Genealogi penyebaran Islam di Jawa, pastinya berawal dari para Walisongo. Sedangkan di Bali, keberadaan Wali Pitu justru tidak terasa. Ini artinya, Wali Pitu belum tentu menyebarkan agama Islam layaknya Walisongo di tanah Jawa.

Kedua, pengertian Walisongo bukan hanya jumlah wali yang berjumlah Sembilan. Tapi Walisongo merupakan Dewan para Ulama kala itu, yang mempunyai otoritas dalam penyebaran Agama Islam.

Wali=Kumpulan, Sangha=Orang Suci/Mulia. Walisongo semacam lembaga tertinggi umat Islam di tanah Jawa. Sedangkan Wali Pitu bukanlah suatu lembaga atau Dewan kumpulan para Wali/orang suci umat Muslim di Bali. Seandainya dilacak sejarah penyebaran Islam di Bali, tak akan pernah satupun menemukan istilah Wali Pitu.

Ketiga, para Wali Pitu yang dimaksud, tidak memiliki latar sejarah yang jelas, apalagi keterlibatan dalam proses penyebaran Islam di Bali. Makam Wali tersebut dikunjungi bukan karena apa yang telah dilakukan di Bali, justru karena adanya cerita-cerita mistis di makam, yang kemudian dianggap sebagai makam atau tempat keramat.

Baca juga :  Mengingat Pesan Perdamaian Walisongo

Kecuali Habib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih, mempunyai pengaruh besar terhadap umat Islam di Jembrana, memiliki Pondok Pesantren yang sampai sekarang masih aktif, dan dibeberapa buku, Beliau merupakan murid terakhir Kyai Kholil Bangkalan.

Keempat, Wali Pitu sengaja dimunculkan demi kepentingan Pariwisata. Selama ini, para Agen wisata di Jawa, selalu mengandalkan anak-anak siswa sekolah untuk berlibur ke Bali. Sedangkan masa perjalanan hanya ada pada saat liburan sekolah. Nah, untuk mencari segmen lain selain para siswa, para agen memunculkan paket Ziarah ke makam.

Kemudian, entah dari mana, muncullah istilah Ziarah Wali Pitu ke Bali dengan segmentasi para orang-orang yang mayoritas sudah berkeluarga dan kalangan tua. Mengingat juga, masyarakat Jawa, sangat menggemari Ziarah ke para makam Wali di Jawa.

Kelima, sebenarnya masih ada beberapa makam lain selain daftar nama-nama Wali Pitu. Bisa jadi makam-makam yang masuk daftar Wali Pitu, karena kemudahan akses, juga dekat dengan berbagai tempat wisata, sekaligus rute untuk jalan pulang ke Jawa.

Analisis ini, bukan bermaksud untuk meremehkan keberadaan para pendahulu (makam) Muslim di Bali. Ini hanya sebuah kritik terhadap mereka yang mengeksploitasi Bali dengan menggunakan alasan agama.

Baca juga :  Kisah Abu Bakr Al Farghani Adu Kuat Lapar Melawan Rahib

Berikut ini nama-nama para Wali Pitu: Habib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih (Jembrana), Pangeran Mas Sepuh (Badung), Habib Ali Bin Abu Bakar Bin Umar Bin Abu Bakar Al Khamid (Klungkung), Chabib Ali Bin Zainul Abidin Al Idrus (Karangasem), Syeh Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi (Karangasem), Chabib Umar Bin Maulana Yusuf Al Maghribi (Bedugul-Tabanan), dan The Kwan Lie atau Syeh Abdul Qodir Muhammad (Buleleng).

There is 1 comment for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.