Walyatalattaf, Pesan Kemanusiaan adalah Inti Alquran

walyatalattaf

Dalam banyak cetakan Alquran, sering kali kita menyoroti lafal dalam surah al-Kahfi ayat 19 yang bertulisan walyatalattaf (وليتلطف) dengan cetakan tebal dan diberi tinta warna merah. Lafal ini memang tampak memberikan kesan yang berbeda dengan lafal yang termaktub lainnya.

Ada kisah yang berkembang hingga saat ini, bahwa ada keterkaitan dengan kematian khalifah ketiga Utsman bin Affan yang terbunuh saat membaca Alquran. Saat itu tetesan darahnya mengalir pada lafal Walyatalattaf . Sehingga dicetak tebal dengan warna merah sebagai upaya mengenang Khalifah Utsman.

Entah dari mana asal-muasal kisah yang mendarah daging ini. Dalam suatu keterangan ada tokoh menyatakan bahwa Khalifah Utsman wafat dalam posisi Alquran berada di pangkuannya.

Hal ini disaksikan oleh Amrah binti Arthah, dia mengatakan, “Aku keluar bersama Aisyah menuju Makkah pada tahun Utsman terbunuh. Kami kemudian melewati Madinah. Saat itu, kami sempat melihat mushaf yang berada di pangkuannya saat dia dibunuh. Kami melihat juga bahwa tetesan darah pertama yang menimpa mushaf itu adalah pada awal ayat 137 Surat al-Baqarah:

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dari riwayat di atas membuktikan percikan darah Utsman memang memercik pada Alquran, tapi bukanlah tepat pada lafal Walyatalattaf , melainkan sebagaimana termaktub.

Di beberapa cetakan mushaf yang beredar misalnya, paling tidak ada beberapa macamnya pula; tidak hanya menebalkannya dengan warna merah. Satu lagi ada yang sama-sama tercetak tebal tapi dengan warna hitam. Bahkan, ada juga yang tidak menebalkannya sama sekali tetap sama sebagaimana lafal yang lain.

Walyatalattaf , Lafal Inti Alquran

Selain pendapat di muka, ada hal tersirat lainnya yang perlu kita gali lebih jauh mengenai lafal ini. Ibnu ‘Asyur dalam kitab tafsirnya at-Tahrir wa at-Tanwir menyatakan, jumhur (mayoritas) ulama ilmu tafsir menerangkan jika semua kata dalam Alquran dihitung dari lafal “الحمد” di dalam surah al-Fatihah hingga lafal “الناس” di akhir surah an-Naas, maka huruf ta’  (ت) dalam walyatalattaf berada di tengah-tengah Alquran.

Pendapat lainnya menyatakan bahwa adalah huruf nun dari penggalan ayat “لقد جئت شيئا نكرا” yang merupakan huruf yang terletak di tengah-tengah Alquran. (Ibnu ‘Asyur, 1984, Jilid 15: 285)

Sebagian mufasir manyatakan, inti pesan dari Alquran adalah Walyatalattaf . Lafal Walyatalattaf  sendiri berasal dari kata la-tha-fa (لطف). Dalam Kamus al-Munawwir (1997) terdapat beberapa arti seperti “lemah lembut, ramah”.

Sementara lafal serumpun lathafa yakni talatthafa (تلطف) memiliki arti yang lebih luas, antara lain, “menghormati, tenang, sabar, melunak, rendah hati, berlaku sopan, ramah, halus, berlaku baik, dan segala macam yang cenderung pada sifat baik lainnya.” Secara sederhana walyatalattaf  dapat diartikan “hendaknya kamu bersifat lembut”.

Dalam kaidah bahasa Arab, ada kata kerja perintah yang disebut fi’il amr. Akan tetapi, dalam walyatalattaf  tidak menggunakan bentuk “fi’il amr” secara langsung. Seperti halnya talatthaf (perubahan kata menjadi fi’il amr) yang berarti “bersikap sopanlah!”.

Ini berbeda dengan walyatalattaf  yang menggunakan lam sebagai adat al-amr dan di situ menggunakan fi’il mudhari’. Makna mudhari’ menunjukkan sesuatu yang sedang atau akan dilakukan). Hal ini mengisyaratkan, perintah yang dimaksud lebih  halus dan lebih sopan daripada talatthaf. Dalam Balaghah, ini masuk dalam kategori amr balaghi bukan amr haqiqi,

Dalam Ilmu Balaghah pada pembahasan al-Ma’ani al-Balaghiyah li al-Amri, disebut sebagai bentuk dari iltimas. Sangat menarik sekali untaian dari kalimat tadi, bahasa yang sopan untuk berlaku sopan.

Secara esensial keduanya sama-sama “meminta untuk melakukan pekerjaan (thalab al-fi’il)” tapi dengan cara berbeda. Dari perbedaan tersebutlah justru dapat menimbulkan perbedaan sikap dan mempengaruhi mental seseorang, apalagi dalam hal menyuruh/perintah. Tentunya perintah yang lebih sopan jauh lebih meninggalkan kesan yang amat berbeda pula.

Pesan Kemanusiaan sebagai Inti Alquran

Kalau kita boleh refleksikan, terdapat pesan-pesan ilahi untuk kita renungi. Allah ingin agar manusia senantiasa bersikap lemah lembut terhadap sesama. Menunjukkan saling menghormati dan menjunjung tinggi toleransi (tasamuh), kesepahaman (kalimatun sawa’), seimbang (tawazun), dan moderat (tawassuth). Semua itu bisa kita amalkan baik pada saudara yang sama dalam identitas agama, suku, bangsa, ras, atau identitas lainnya.

Allah saja memperkenal diri-Nya sebagai asma Sang Maha Pengasih dan Penyayang, sebagaimana urutan dalam al-Asma al-Husna. Bukan dengan asma Sang Penghukum, Pengazab, dan Pembalas.

Dalam ummu al-kitab pun dimulai dan dibuka dengan bacaan basmalah, yakni “بسم الله الرحمن الرحيم”. Hal ini mengindikasikan bahwa Allah lebih mendahulukan kedua sifat welas asih-Nya daripada murka-Nya, lebih menghamparkan ampunan-Nya daripada azab-Nya.

Bukankah Islam adalah agama kemanusiaan yang hadir untuk menjawab dan merespon segala problematika gejala sosial yang terjadi? Bukankah Islam juga merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin yang tidak hanya bagi manusia bahkan alam pun turut serta mendapat rahmat-Nya dan menjadi perhatian. Keterangan ini bisa kita kita telaah pada Surat al-Anbiya’ ayat 107 dan Surat an-Naml ayat 77.

Banyak ayat dan hadis serupa lainnya yang menegaskan betapa Islam adalah agama kasih sayang. Tidakkah ini cukup bukti bahwa Islam laiknya samudera luas yang penuh kerahmatan dan kasih sayang bagi seluruh alam.

Tidak pernah sedikit pun Islam menyuruh untuk berbuat jahat dan nista terhadap sesama. Bahkan, Islam menjunjung nilai-nilai universal dan berjalan beriringan dengan etos kemanusiaan. Dan ini selaras dengan hadis Nabi Saw. yang berbunyi:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Kembali ke pembahasan Walyatalattaf, bahwa lafal ini letak posisinya berada di tengah-tengah Alquran. Secara tidak langsung menyiratkan kepada kita agar menjadi umat yang di tengah-tengah (ummatan wasathan). Bersikap moderat dalam menghadapi semua problematika sosial kemasyarakatan yang terjadi, khususnya dalam hal keberagamaan dalam keragaman.

Islam Wasathiyah seperti inilah yang harus tetap hidup dan lestari di masa depan. Sikap berislam yang tidak lekas marah, menghujat, membid’ahkan, hingga menghakimi sesamanya dengan tuduhan bid’ah atau kafir bagi mereka yang berseberang paham.

Hal seperti ini keterangan Prof. Azyumardi Azra dalam pengantar bukunya Relevansi Islam Wasathiyah: dari Melindungi Kampus hingga Mengaktualisasi Kesalehan (2020). Ia mengatakan, masa depan Islam dan kaum muslim bukanlah pada Islam yang keras, rigid, dan garang sebagaimana ditampilkan kelompok ekstrem radikal yang penuh teror, melainkan di tangan Islam moderat, inklusif dan toleran yang menjunjung tinggi toleransi dan etos kemanusiaan.

Akhirnya, berangkat dari sekelumit penjelasan inti ajaran Alquran di atas, penulis menjadi sangat yakin  (haqqul yaqin) dan tidak ragu (syakk) sedikit pun. Bahwa, Islam adalah agama kemanusiaan. Sementara itu Alquran sebagai pedomannya memberi dan membawa pesan-pesan perdamaian dan kemanusiaan yang tetap relevan di mana pun dan di zaman apapun hingga hari akhir kelak (Shalihun likulli makan wa zaman). Wallahu a’lam bi as-Shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *