Wara’, Prioritas Muslim dalam Memilih Makanan Halal

Wara’, Prioritas Muslim dalam Memilih Makanan Halal

Makanan yang halal merupakan sesuatu asupan jasmani yang diwajibkan bagi setiap muslim. Kata halal disebutkan di dalam Alquran sebanyak tiga puluh kali. Ayat-ayat Alquran yang menunjukkan halal di antaranya QS: Al-Baqarah ayat 168 dan QS: An-Nahl ayat 114.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS: al-Baqarah/2:168).

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. (QS: An-Nahl/16:114)

Kedua ayat Alquran di atas mewakili bahwa muslim secara prioritas harus memilih makan dan minum yang halal lagi baik. Sebab dengan memprioritaskan hal tersebut akan berdampak positif bagi tubuh dan prilakunya. Sulaiman al-Darani memberikan statement tentang makanan yang halal lagi baik, “Makan makanan yang baik lagi halal akan mendapatkan ridho Allah Swt.” (Muhammad al-Jordani: 2012:110)

Ada pun halal di sini bukan hanya dilihat dari zat makanannya saja, akan tetapi perlu diperhatikan dari uang yang didapatkan dan dibelanjakannya,  serta cara transaksi pembelian. Rasulullah memperhatikan hal tersebut sampai mewajibkan muslim dalam mencari sesuatu yang halal. Sebagaimana sabda beliau, “Mencari pekerjaan yang halal wajib bagi setiap muslim setelah melaksanakan hal-hal yang diwajibkan Allah Swt.”

Nabi Daud merupakan nabi yang takut memakan sesuatu yang haram ke dalam dirinya. Sampai-sampai ia makan dari hasil usaha sendiri. Ia berternak, berladang, dan berkebun sendiri. Sayyidina Umar bin Abdul Azis berkata, “Sungguh paling mulianya seseorang yaitu makan dari hasilnya berladang sendiri karena bahwasannya hal tersebut lebih dekat dengan tawakal kepada Allah. Kemudian seseorang dari hasil kerajinannya sendiri, karena sesungguhnya mencari rezeki dengan cara tersebut, ia raih dengan usaha yang tekun. Selanjutnya seseorang yang berdagang, karena para sahabat Nabi Muhammad saw. mencari rezeki umumnya dengan cara jual-beli.” (Muhammad al-Jordani: 2012:109)

Biasanya, seseorang yang mencari rezeki yang halal dan memakan makanan yang halal pula akan menjadikan dirinya lebih taat kepada Allah Swt. Selain itu, ia akan berkata lembut dan tutur katanya akan memberikan penyejuk bagi orang yang mendengarnya. Sebagaimana Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang makan makanan halal selama empat puluh hari maka Allah akan memberikan cahaya di hatinya, dan Allah menyematkan cahaya-cahaya hikmah di hatinya melalui lisannya (ucapannya).”

Sifat dan sikap kehati-hatian dalam hukum Islam atas kadar halal, haram, dan syubhat disebut wara’. Wara’ yaitu sifat yang menjauhi hal-hal maksiat atau haram. (Yusuf al-Baqa’i:2007:768). Orang yang wara’ biasanya memiliki kharismatik yang bersumber dari takutnya berbuat melanggar apa yang Allah perintahkan. Abu Hasan Syadzili berkata, “Sesungguhnya seseorang itu dikatakan menempuh usaha yang baik, ketika ia makan makanan yang halal lagi baik maka ia memiliki maksud untuk kuat dalam beribadah dan kuat mengendalikan emosinya, tentunya hal tersebut bertolak belakang dengan apa-apa yang diraihnya hanya untuk makan makanan yang syubhat lagi nikmat.”

Syekh Abu Nashr al-Sarraj ra. berkata, “Kedudukan spiritual wara’ adalah kedudukan spiritual (maqam) yang mulia. (Abu Nashr al-Sarraj:2007:48). Rasulullah bersabda, “Tiang penyangga agamamu adalah wara’.” Hadis tersebut menunjukkan bahwa wara’ merupakan sikap dan sifat yang menguatkan keislaman seseorang.

Syekh Abu Nashr al-Sarraj mengisahkan bahwa Abu Abdillah al-Harits bin Asad al-Muhasibi yaitu seseorang yang tangannya tidak pernah menjamah makanan yang ada syubhatnya. Bagi al-Muhasibi, hal yang syubhat akan menjadi haram apabila ada keraguan di hati seorang muslim. Maka lebih baik ditinggalkannya. (Abu Nashr al-Sarraj:2007:49).

Sebagaimana kisah Bisyr al-Hafi ra. bahwa beliau pernah diajak suatu undangan. Kemudian di depannya dihidangkan suatu makanan. Beliau  berusaha sekuat tenaga untuk mengambil makanan yang ada di depannya, namun tangannya tak juga sampai. Kemudian beliau berusaha lagi sekuat tenaga, ia paksa sampai tiga kali, namun tak sampai juga. Maka ada seseorang yang mengenalnya berkata, “Sesungguhnya tangannya tidak pernah menyentuh makanan haram atau di dalamnya ada syubhat. Semestinya tuan rumah tidak perlu mengundang orang ini ke rumahnya.”

Sulitnya wara’ diaplikasikan ke dalam kehidupan di masa modern sekarang ini karena beberapa sebab. Sebab yang pertama yaitu ittiba’ al-hawa (mengikuti hawa nafsu), sebab yang kedua adanya angan-angan yang terlalu panjang (thulu al-Amal) hingga lupa dalam melihat bahwa dunia hanya sebagai stasiun transit dalam menuju last station, yaitu wushul ilallah. (Umar Ibrahim Assegaf:2001:163).

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *