Wardah Hafid, Perempuan Aktivis HAM dari Jombang

Wardah Hafid

Wardah Hafid adalah perempuan yang trengginas, gigih, pantang menyerah, terkenal dengan aktivis perempuan dan pejuang hak asasi manusia, serta dianugrahkan sebagai anak kyai. Putri dari Khafidhon dan Maryam ini merupakan anak keempat dari 10 bersaudara.

Di kenal dengan nama Wardah Hafid. Lahir di kota santri, Jombang pada 28 Oktober 1952. Keluarga besarnya adalah keluarga pesantren. Ayahnya adalah seorang kyai yang melanjutkan kepemimpinan pondok pesantren milik kakeknya dahulu. Selain seorang kyai, ayahnya juga melayani masyarakat sebagai penghulu kampung.

Wardah Dengan memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan para kyai terkenal, sebut saja Gus Dur dan Cak Nun. Tumbuh dan berkembang dengan lingkungan pesantren menjadikannya digemari banyak masyarakat. Sejak kecil Wardah sudah menyukai dunia aktivis. Akan tetapi, pemikiranWardah justru sangat berbeda dengan keluarga besarnya dan lingkungan di sekitarnya.

Pendidikan

Dalam keluarga Wardah, pendidikan merupakan hal yang paling penting. Wardah menempuh pendidikan sekolah pertama di Jombang. Tetapi pada saat menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, Wardah tidak setuju dengan penyatuan pendidikan keluarga dan menyatakan harapan untuk terus bersekolah di sekolah umum. Dan akhirnya Wardah kembali melanjutkan ke pesantren di Yogyakarta.

Orang tua Wardah sangat senang ketika ia mau mengikuti saran orang tua untuk bersekolah di Muallimat Yogyakarta, dan dia terus dipaksa untuk terus tinggal di Muallimat selama enam tahun. Tetapi Wardah berfikir setelah lulus dari Muallimat, ia bertekad untuk melanjutkan pendidikan sesuai yang diinginkannya. Wardah ingin melanjutkan pendidikannya di IKIP Malang dan mengambil jurusan Sastra Inggris.

Baca juga :  Nyai Badriyah Fayumi: Inilah Perbedaan Kodrat dan Adat bagi Perempuan dan Laki-laki

Setelah menamatkan dari pendidikan pilihannya, Wardah mengajar di sekolah penerbangan di Curug. Kemudian Wardah melanjutkan pendidikannya di Amerika Serikat. Ini adalah kesempatan luar biasa bagi Wardah. Ia sangat berterima kasih kepada dosen di almamaternya karena telah memberikan undangan untuk bersekolah di luar negeri.

Wardah langsung berangkat dan memilih melanjutkan pendidikannya ke Amerika Serikat di bidang sosiologi melalui beasiswa di Ball State University, Muncie, Indiana.  Indiana, yang berarti “Negeri bangsa Indian,” sebuah negara bagian yang terletak di Danau Besar di Barat Tengah Amerika Serikat. Penduduk Indiana disebut Hoosier.

Aktivitas

Dalam buku Perempuan Nusantara di Tepi  Sejarah dijelaskan bahwa saat Wardah Hafid besekolah di Amerika Serikat, ia  memahami dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan. Setelah menyelesaikan sekolah di Amerika, Wardah kembali ke Indonesia untuk mengabdikan dirinya dan terjun di dunia pendidikan. Tetapi saat terjun dan bergelut di dunia pendidikan ini, Wardah mengalami ketidakcocokan dengan area kerja di sekitarnya.

Sejak itulsh Wardah memutuskan untuk bekerja dalam proyek. Salah satu proyek tersebut adalah proyek riset LIPI soal Etos Kerja Pegawai Negara serta Weltanschaung Ulama bersama Martin van Bruinessen. Martin adalah konsultan periset, antropolog dan  guru besar di Belanda.  Saat itu ia menjadi dosen tamu UIN Sunan Kalijaga. Dengan banyak wawasan dan bimbingan dari dosen tersebutm Wardah kemudian aktif dalam lembaga swadaya masyarakat yang mengurusi isu terkait perempuan.

Melalui riset yang Wardah teliti pada sekitar tahun 1993 di Kota Jelambar Baru, Grogol Pertamburan Jakarta Barat, ia aktif berkegiatan di kalangan miskin kota. Di mana pada saat itu ekonomi di Indonesia lagi menanjak. Kemudian Wardah bersama dengan kawan-kawan seperjuangannya mendirikan UPC (Urban Poor Consortium). Dalam organisasi ini Wardah dan kawan-kawanya meningkatkan gerakan masyarakat miskin kota agar menjadi jalan stategis bagi mereka semua.

Baca juga :  Kepemimpinan Perempuan Muslim dan Perannya sebagai Social Media Influencer

Wardah menjadi ketua demonstrasi yang menolak Asian Development Bank atas pemiskinan akibat kebijakan yang mereka jalani terhadap pertanian, pinjaman, akses air, kehancuran area hidup serta warga adat.

Penghargaan

Pada tahun 2000, Wardah menerima penghargaan Yap Thiam Hien. Wardah juga mendapat penghargaan Gwangju Prize for Human Rights dari Memorial Foundation di Korea Selatan pada tahun 2004.

Tahun berikutnya ia menerima penghargaan Housing Rights Defender Award 2005 atas perjuangannya membantu kaum miskin mendapatkan tempat tinggal yang layak.

Dikutip dari HIC-GS.org, Wardah Hafidz mendapat penghargaan Gwangju karena aktivitasnya mempertahankan hak-hak perumahan dan tanah yang dibangun dengan pendekatan yang berpusat pada subjek manusia.

Penghargaan Gwangju sendiri diberikan kepada individu dan kelompok yang telah berkontribusi pada hak asasi manusia dan perdamaian bagi semua umat manusia.

Perempuan Aktivis HAM 

Wardah merupakan perempuan pejuang HAM yang tidak takut dalam menentang berbagai masalah ketidakadilan. Ia adalah sosok perempuan yang gigih dalam memperjuangkan nasib kaum miskin.

Wardah setiap harinya sangat sering dan pantang menyerah untuk bisa berhadapan dengan aparat keamanan pemerintah karena hanya ingin masyarakat miskin hidup bahagia. Sampai pada akhirnya Wardah pernah ditangkap polisi bersama 11 orang tukang becak. Wardah ingin melindungi kaum pinggiran seperti para tukang becak tersebut.

Baca juga :  Tahirih; Pejuang Hak-Hak Perempuan dari Iran

Ratusan tukang becak yang melakukan demo di Istana Merdeka tersebut didampingi Wardah. Mereka ingin bertemu dengan Presiden Gus Dur (Presiden pada masanya) untuk meminta perlindungan dan keadilan para kaum tukang becak.

Wardah tidak menyukai ketidakadilan dan kemelaratan di sekitarnya yang diabaikan oleh negara. Peristiwa itulah yang membuat Wardah bersikap kekeh untuk memperjuangkan keadilan para masyarakat sekitarnya. Wardah bersikeras mengubah keadaan, bekerja keras membangun dan memulihkan. Ia ingin masyarakat lebih bersikap kritis dan tidak mau dibodohi agar mereka mengerti akan hak-haknya.

Berbagai niat tulus Wardah perjuangkan untuk memulihkan hak-hak kaum miskin. Namun, perjuangan Wardah tidak diakui keberadaanya. Wardah dituduh sebagai menjual isu kemiskinan. Hal ini  tidak akan membuatnya pantang menyerah dengan.  Justru Wardah semakin gigih untuk memulihkan dan memperjuangkan hak-hak kaum miskin tersebut.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *