Yang Terlupakan dari Zaman Keemasan Peradaban Islam (2)

Photo: Atlas Obscura

Baghdad, di suatu siang tahun 829 M. Siang itu, istana agung Kekhalifahan Abbasiyyah yang megah sedang kedatangan seorang tamu khusus. Dia adalah John Grammatikos (Yahya an-Nahwi), seorang duta dari Kekaisaran Byzantium. John tiba di istana berdinding marmer dan berlantai pualam itu untuk menghadap Sultan Abbasiyyah Abu Ja’far Al-Ma’mun dan menyampaikan surat diplomatik dari Kaisar Byzantium yang baru saja dinobatkan, Theophilus II.

Dalam suratnya, sang Kaisar mengutarakan keinginannya untuk membuka lembaran baru dalam babak hubungan antara negaranya, Byzantium, dengan negara tetangganya, Abbasiyyah–hubungan yang lebih damai, bersahabat, dan penuh kemitraan.

Baca juga :  Yang Terlupakan dari Zaman Keemasan Peradaban Islam (1)

Theophilius juga menawarkan gencatan senjata, menyudahi perang antar kedua negara sekaligus menggelar pertukaran tawanan perang. Lebih jauh, Theophilus juga menawarkan dibukanya perwakilan antar kedua negara di masing-masing ibu kota, membangun pasar dagang bersama dan menjaga stabilitas jalur dagang purba, jalur sutra, yang terdapat di wilayah Abbasiyyah dan Byzantium.

Saat itu, Kekhalifahan Abbasiyyah telah menjelma menjadi kekuatan raksasa. Wilayah kekuasaannya merentang dari Afrika Utara hingga Asia Tengah. Lebih dari separuh wilayah Kekaisaran Byzantium telah jatuh dalam kekuasaan Abbasiyyah. Di zaman Al-Ma’mun sendiri, pasukan Abbasiyyah bahkan telah merangsek merebut Cappadocia di Asia Minor, yang jaraknya hanya tinggal 454 mil saja dari Konstantinopel, ibu kota Byzantium.

Jika ekspansi tentara Abbasiyyah ini terus berlanjut, maka kedaulatan Byzantium akan kian terancam. Oleh sebab hal inilah, Theophilus kemudian mengupayakan penempuhan jalur diplomatik untuk membendung gelombang ekspansi Abbasiyyah yang kian menguat itu.

Yang menarik adalah surat balasan dari Al-Ma’mun untuk Theophilus.

Dalam surat balasannya, Al-Ma’mun mengungkapkan tahniahnya atas penobatan Theophilus sebagai Kaisar Byzantium. Al-Ma’mun juga bersedia menyambut beberapa keinginan Theophilos yang ia ungkapkan dalam suratnya. Namun, dalam hal ini, Al-Ma’mun mengajukan permintaan balik sebagai syarat. Jika syarat ini dipenuhi, bukan hanya Abbasiyyah mau membebaskan para tahanan Byzantium saja, tetapi juga Abbasiyyah bersedia untuk berdamai selamanya dan menjadi mitra abadi.

Apakah gerangan syarat tersebut?

“Datangkan ke Baghdad para ilmuwan dari Konstantinopel. Aku menghendaki mereka mengajar di Akademi Keilmuan Bait al-Hikmah. Aku bahkan akan memberi 2000 keping emas untuk setiap ilmuwan,” tulis Al-Ma’mun dalam surat balasannya.

Selain itu, Al-Ma’mun juga meminta kepada Theophilus untuk mendapatkan akses ke perpustakaan kekaisaran di Konstantinopel. Al-Ma’mun ingin membawa beberapa manuskrip dan literatur keilmuan Yunani, untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dipelajari di akademi keilmuan Bait al-Hikmah.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *