Yang Terlupakan dari Zaman Keemasan Peradaban Islam (7)

Photo by Histotical Quest

Bavaria, musim semi 1396 M. Seorang bocah berusia enam belas tahun bernama Johann Schiltberger meninggalkan kampung halamannya. Ia pergi untuk ikut serta dengan pasukan gabungan kerajaan-kerajaan Eropa: Romawi Suci, Franka, Wallacia, Hungaria, Burgundia, Bulgaria, Venesia, dan Genoa. Pasukan gabungan itu dipimpin oleh raja Hungaria, Sigismund. Mereka bergerak ke arah timur dengan tekad yang bulat: berperang melawan kekuatan Turki-Ottoman yang saat itu telah mencaplok hampir separuh wilayah Eropa.

Perang hebat antara dua kekuatan besar itu pecah di Nikopolis. Sultan Ottoman, Beyazit I Yildirim (Sang Halilintar), memimpin langsung pasukan kerajaannya. Dalam perang bersejarah itu, tentara gabungan Eropa rupanya dikalahkan secara telak oleh tentara Ottoman. Pasukan Eropa remuk berantakan, kocar-kacir. Raja Sigismund tewas dalam perang itu, dan Schiltberger menjadi tawanan perang bersama ribuan pasukan Eropa lainnya. Para tawanan itu diboyong ke Bursa, ibu kota Turki-Ottoman saat itu.

Karena usia Schiltberger masih sangat belia, dewan ketentaraan Ottoman pun memasukkannya ke dalam regu tentara kurir. Enam tahun lamanya Schiltberger berada di Bursa dan menjadi bagian dari kehidupan Ottoman. Sejak berada di Bursa itu juga, Schiltberger yang asalnya beragama katolik kemudian “berpura-pura” menjadi seorang muslim.

Hingga tibalah musim panas tahun 1402 M. Pasukan Imperium Ottoman kembali berperang, tetapi kali ini bukan melawan Eropa, melainkan melawan sesama imperium Islam yang baru berdiri dari Asia Tengah, dari Samarkand, yaitu Imperium Taymuria (Timurid), dengan Emir-nya Timur Lenk (Si Pincang), yang masih terhitung sebagai cicit Khan Agung Mongol, Genghis Khan. Schiltberger ikut serta dalam peperangan itu.

Perang antara Ottoman melawan Timurid itu terjadi di Cubuk, dekat Ankara. Dalam perang tersebut, pasukan Ottoman menderita kekalahan. Sultan Beyazit “Sang Halilintar” mati terbunuh di tangan Emir Timur “Si Pincang”. Ribuan pasukan Ottoman yang menderita kekalahan akhirnya diboyong ke Samarkand, ibu kota Imperium Timurid, termasuk di antaranya adalah Schiltberger.

Schiltberger pun kini menjadi bagian dari kehidupan Imperium Timurid. Emir Timur sendiri wafat tiga tahun berikutnya (1405 M). Tahta imperium pun diturunkan kepada dua anaknya, yaitu Shah Rukh dan Miran Shah. Miran Shah digantikan lagi oleh anaknya, Abu Bakar Khan. Schiltberger pun bekerja untuk ketiga Emir itu dalam waktu yang terhitung lama, hampir dua puluh tahun. Selama itu juga, Schiltberger “menjadi” seorang Muslim.

Abu Bakar Khan lalu mengirimkan Schiltberger untuk membantu Chekre Oglan, seorang pangeran Tatar-Mongol Kelompok Emas (Golden Horde) yang menguasai wilayah Russia dan masih terhitung kerabat keluarga Timurid. Schiltberger tinggal di istana Chekre di Sarai Batu selama bertahun-tahun. Schiltberger juga banyak menemani perjalanan dan penaklukan Pangeran Chekre ke beberapa kota seperti Kazan, Bulgar, Crimea, Circassia, Abkhazia, Mingrelia dan Batumi. Di Batumi itulah Schiltberger terpikir untuk kabur dan kembali ke kampung halamannya, dan berhasil.

Usaha kabur dan kembalinya Schiltberger ke rumahnya sangat dramatis. Dari Batumi, sebuah kota pesisir di Georgia, Schiltberger berlayar ke Constantinople, lalu melanjutkan perjalanan darat melintasi beberapa kota, yaitu Kilia, Akerman, Lemberg, Krakow, Breslau, Meissen, dan akhirnya sampailah ia di kampung halamannya di Bavaria pada tahun 1427 M.

Setibanya di Bavaria, Schiltberger kemudian menuliskan petualangan dan pengalamannya. Selama hampir tiga dekade (1396-1427 M) ia menjadi tahanan dan pekerja asing yang hidup di tiga kerajaan yang berbeda-beda: Turki-Ottoman, Mongol-Timurid dan Tatar-Golden Horde. Selama tiga dekade itu juga Schiltberger menyembunyikan keyakinan sejati dirinya sebagai seorang Katolik, dan menampakkan diri sebagai seorang Muslim. Schiltberger juga menuliskan pengalamannya menjadi seorang Muslim, juga memberikan ulasan dan pandangannya tentang sejarah Islam.

Tulisan Schiltberger tersebut kemudian dibukukan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Bondage and Travels of Johann Schiltberger–a Native Bavarian–in Europe, Asia and Africa 1396-1427”. Buku yang ditulis oleh Schiltberger tersebut menyuguhkan data dan informasi sejarah yang kaya, sekaligus memberikan pandangan seorang Eropa zaman pertengahan terhadap Islam, meski pandangan-pandangan Schiltberger terhadap Islam banyak dipenuhi oleh mitos, distorsi dan kerancuan.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *