Yenny Wahid: Potret Perempuan Progresif

Indonesia darurat tokoh perempuan Islam progresif. Padahal, ada banyak hal bisa dilakukan perempuan, termasuk memberikan sumbangsih untuk negara. Kita lantas bertanya, tokoh perempuan mana yang tepat dijadikan sebagai panutan? Tidak usah jauh-jauh, Indonesia punya Yenny Wahid.

Lahir sebagai seorang anak kiai terkenal tak membuat Yenny mengistimewakan dirinya. Perempuan kelahiran Jombang ini adalah anak kedua dari pasangan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan Sinta Nuriyah. Meski dari keluarga pesantren, Yenny justru berbeda dengan kebanyakan anak-anak kiai lainnya. Ia justru masuk sekolah umum. Setelah lulus SMA Negeri 28 Jakarta tahun 1992, ia menekuni studi komunikasi visual di Universitas Trisakti, Jakarta.

Yenny sempat menjadi wartawan tepatnya sebagai koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) selama tahun 1997 sampai 1999. Ia bertugas di daerah konflik sebagai reporter di Timor-Timor dan Aceh. Namun, Yenny memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah ayahnya terpilih menjadi presiden RI ke-4 pada 1999. Sejak itu, ke mana pun Gus Dur pergi, Yenny selalu mendampingi. Itu ia lakukan mulai 1999-2001. Ini adalah bentuk baktinya kepada sang ayah, juga bentuk implementasi relasi kuasa yang tepat dalam keserasian dan kesetaraan gender hubungan ayah dan anak.

Baca juga :  Dukung Social Distancing, Yenny Wahid Salurkan Bantuan Keluarga Terdampak Covid-19

Perempuan yang Berdaya

Setelah Gus Dur tidak lagi menjabat sebagai presiden, Yenny mengambil kuliah dan memperoleh gelar Master’s in Public Administration dari Universitas Harvard, USA, di bawah beasiswa Mason. Kembali dari Amerika pada tahun 2004, Yenny menjabat sebagai direktur Wahid Institute yang saat itu baru berdiri. Hingga saat ini, ia masih menduduki jabatan tersebut.

Wahid Institute didirikan untuk mewujudkan prinsip dan cita-cita intelektual Gus Dur dalam membangun pemikiran Islam moderat. Yenny berjuang tak hanya pada tataran wacana dan teori, ia juga menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Berangkat dari sebuah kegelisahan saat baru pulang dari Amerika, ia kemudian mendirikan Wahid Institute sebab saat itu Gus Dur sudah sakit-sakitan, dan ia berpikir akan menggantikan posisi beliau. Yenny sadar diri, ia tidak mempunyai kemampuan, kepintaran, dan keberanian seperti Gus Dur. Ia mengaku tidak punya apa-apa sehingga harus didukung oleh sebuah sistem dan institusi. Ia pun memutuskan untuk membentuk Wahid Institute dan di yayasan itulah kemudian ia menaungi banyak sekali aktivis yang mendukung pemikiran Gus Dur. Isu kemanusiaan adalah salah satu fokusnya.

Tak sampai di situ, Yenny juga mengaku pernah melakukan hal-hal berbahaya. Hal tergila yang pernah ia lakukan berkaitan dengan profesinya saat menjadi wartawan dan melakukan liputan di Timor-Timor pada tahun 1997-1999. Saat itu, kemungkinan kehilangan nyawanya besar sekali. Pernah juga ia terperangkap dalam proses baku tembak antara kelompok Pro Kemerdekaan dan Pro Integrasi menjelang dan setelah referendum. Ia terperangkap dengan teman wartawan dari CNN, lalu lari di antara orang tembak-tembakan. Kemudian, saat proses reformasi, ia meliput dan menjadi korban intimidasi oleh pria berseragam dari instansi tertentu yang menodongkan pistol ke dahinya.

Baca juga :  Etika Pesantren dan Santri Progresif

Keberanian yang dimiliki Yenny Wahid harus dirawat. Kita bisa mencontoh tanpa perlu melakukan persis seperti apa yang Yenny lakukan. Kita bisa memulainya dengan berani mengemukakan pendapat ke publik dan melawan kezaliman dalam kehidupan sehari-hari.

Cantik Ala Yenny Wahid

Bagi Yenny Wahid, kecantikan yang paling utama adalah ketika seseorang menjadi hidup karena menemukan sebuah passion, hal yang membuat ia bersemangat, mengalahkan semua hal dalam hidupnya, sehingga tidak berpikir lagi soal hal-hal kecil. Saat menjalani passionnya, kecantikan utama (inner beauty) seorang perempuan akan keluar. Semua yang menempel hanya menyempurnakan.

Totalitas Yenny dalam menjadi aktivis dikuatkan dengan membuka pintu rumah selebar-lebarnya untuk tempat nongkrong segala kalangan. Budayawan, pematung, perupa, wartawan, aktivis politik pun bertukar pikiran dengannya, kemudian ide-ide mengalir, membuat hidup bersemangat, menjadi tidak statis.

Kita bisa belajar dari Yenny untuk menjadi perempuan progresif tanpa merusak nilai-nilai tradisi yang ada. Fokusnya pada isu kemanusiaan termasuk radikalisme dan ekstremisme seharusnya bisa mengetuk pintu hati kita: kapan kita akan bergerak dan menjadi perempuan progresif sementara jemari terus masuk menekan ponsel dan mata kita tak pernah lepas dari layarnya?

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.