Zainab Al-Ghazali, Mufasir Perempuan Pengarang Kitab Tafsir Nazarat fi Kitab Allah

Zainab al-Ghazali memiliki nama lengkap Zainab Muhammad Al-Ghazali Al-Jubaily. Lahir di tengah-tengah keluarga yang agamis pada tanggal 2 Januari 1917 M di Mayeet Ghumar Al-Daqiliyah, Provinsi Buhairah, Mesir.

Nasab Zainab dari jalur Ayahnya bersambung hingga Khalifah Umar bin Khattab ra dan nasab dari jalur ibunya bersambung sampai kepada Al-Hassan bin Ali bin Abi Tholib ra. Ayahnya juga termasuk ulama Al-Azhar yang memiliki dan menjalankan perusahaan kapas.

Lahir dan besar di lingkungan islami, Zainab Al-Ghazali memiliki sifat gigih dan berani. Ini merupakan pengaruh didikan ayahnya yang sering mengajak Zainab untuk menunaikan shalat Subuh di masjid dan menghadiri majelis ilmu beberapa ulama Al-Azhar.

Ayahnya, Muhammad Al-Ghazali Al-Jubaly meninggal ketika Zainab masih duduk di sekolah dasar. Sepeninggal ayahnya, Zainab belajar dan berusaha menjadi pejuang dan pembela Islam.

Zainab Al-Ghazali menikah sebanyak dua kali. Pernikahan pertamanya berakhir karena suaminya tidak membenarkannya untuk aktif dakwah. Setelah itu Zainab menikah dengan Haji Muhammad Salim yang sangat berbeda dengan suami pertamanya.

Suami keduanya ini sangat memahami semangat dan gagasan Zainab. Dia sangat mendukung dan rela berkorban untuk membantu istrinya dalam berdakwah. Karena semangat suaminya itu, Zainab kemudian menuliskan kisahnya dalam sebuah buku yang berjudul Al-Ayyam Min Hayati.

Pendidikan

Zainab memulai pendidikanya di madrasah yang berada di kampung tempat tinggalnya. Tidak hanya di madrasah, Zainab juga belajar di sekolah kerajaan dan aktif mengikuti pengajian agama para ulama Al-Azhar. Ilmu-ilmu yang dia pelajari adalah ilmu tafsir, ilmu hadis, dan fikih.

Setelah ayahnya wafat, kakaknyalah yang menggantikan posisi ayahnya. Kakak pertama Zainab yaitu Sa’ad ad-din Al-Ghazali yang tidak setuju jika adiknya belajar bersama ulama Al-Azhar.

Sa’ad ad-din Al-Ghazali melarang Zainab dengan dalih bahwa ayahnya telah mengajarkan Zainab sikap berani dan bandel, dia tidak mendengarkan orang lain melainkan mengikuti kehendak dan pemikirannya yang sesuai dengan apa yang telah dia pelajari di kampung.

Ibunda Zainab mendukung pendapat itu. Menurutnya Zainab harus menurut dan patuh terhadap kakaknya, karena kakaknyalah yang menggantikan posisi ayahnya.

Berbeda dengan kakak pertamanya, kakak kedua Zainab sangat mendukung keinginan Zainab untuk belajar. Ia membekali Zainab beberapa buku. Salah satu buku yang dia baca yaitu buku karya Aisyah at-Taimuri yang membicarakan tentang wanita dan kebebasan.

Pada suatu hari di usianya yang ke dua belas, Zainab keluar dari rumahnya dan menyusuri banyak jalan. Dalam perjalanannya itu, dilihatlah sebuah sekolah khas untuk para pelajar perempuan. Zainab akhirnya mencoba masuk ke sekolah tersebut.

Setelah berhasil meyakinkan penjaga sekolah, Zainab akhirnya diantar ke kantor kepala sekolah. Di situlah Zainab memperkenalkan diri dan menceritakan tentang permasalahan yang sedang dia alami. Kepala sekolah begitu kagum dengan keberanian Zainab dan menerima permohona Zainab.

Banyak karya yang dilahirkan oleh seorang Zainab Al-Ghazali. Beliau juga seorang yang berbakat dalam bidang penulisan. Beliau merupakan salah satu editor majalah ad-Da’wah. Melalui karya-karyanya itu, Zainab dikenal sebagai cendikiawan wanita yang bijak, peka terhadap keperluan zaman dan situasi di sekitar lingkungannya.

Kitab Tafsir Nazarat fi Kitab Allah

Penulisan tafsir ini berawal ketika Zainab berada di penjara di mana hanya Al-Quranlah yang menjadi penghibur hatinya. Zainab seringkali menulis coretan tafsir di tepi lembaran mushaf. Namun sangat disayangkan, Al-Quran tersebut dirampas sebelum sempat disempurnakannya.

Setelah terbebas dari penjara, Zainab kemudian melanjutkan tafsirnya hingga akhir. Zainab menyelesaikan tafsirnya pada permulaan tahun 90-an. Kitab tafsirnya ini terdiri dari 2 jilid.

Jilid pertama terdiri dari surah Al-Fatihah sampai surah Ibrahim yang terbit pada tahun 1995 berjumlah 711 halaman. Pada jilid pertama ini,. Abdul Hayy Al-Farmawi, seorang profesor tafsir di Universitas Al-Azhar menuliskan kata pengantar.

Jilid kedua dicetak setelah wafatnya Zainab yaitu pada tahun 2011. Jilid kedua ini diterbitkan oleh syarikat Dar at-Tauzi. Zainab adalah mufasir perempuan pertama yang menulis kitab tafsir lengkap 30 juz.

Dalam kata pengantarnya, Hayy Al-Farmawi menyebutkan bahwa yang dijadikan Zainab sebagai bangunan penulisan kitab tafsirnya adalah tiga komponen. Ketiganya yaitu ilmu yang dimiliki, pengalaman yang dilalui, kecintaan terhadap Al-Quran dan tanggug jawab terhadap amanah dakwahnya.

Kitab Tafsir Nazarat fi Kitab Allah mendorong kepada para pembaca dan pengkaji untuk mejadikan Al-Quran sebagai undang-undang umat menuju kemajuan. Tafsir Nazarat fi Kitab Allah juga membela hak-hak perempuan dengan menyelamatkan perempuan dari nilai-nilai negatif.

Salah satu contoh ketika menafsirkan ayat kepemimpinan perempuan QS. An-Nisa [4]: 34, Zainab menyesuaikan kondisi dan memberikan solusi atas problem yang terjadi di Mesir ketika itu.

Kondisi maraknya suara feminisme dan didukung oleh posisi perempuan yang sudah memiliki peran dalam rumah tangga misalnya dalam memberikan keputusan. Selain itu, perempuan juga sudah mulai membantu suaminya bekerja untuk memenuhi kebutuhan.

Dari posisi perempuan yang terjadi ketika itu, maka Zainab mengusulkan alangkah baiknya jika masalah rumah tangga dipegang bersama. Suami dan istri saling bekerja sama dan membagi tugasnya masig-masing.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *