Zainab Binti Kamal, Pencetak Para Perempuan Ulama Besar

Zainab Binti Kamal (646-740 H), Pencetak Perempuan Ulama Besar

Dalam sejarahnya, dunia keilmuan Islam selalu diwarnai dengan kemunculan ulama-ulama dari kaum perempuan. Banyak dari mereka yang menjadi ahli fikih, ahli tasawuf, ahli hadis, dan lainnya. Keseriusan mereka dalam menjaga dan mengembangkan ilmu-ilmu Islam memiliki peran yang besar sekali. Sebagian dari mereka bahkan rela tidak menikah sepanjang hidupnya sebagaimana dilakukan oleh ulama-ulama besar dari kalangan lelaki.

Salah satu dari yang melakukan hal ini adalah Zainab binti Kamal, seorang ulama perempuan ahli hadis yang hidup di abad ketujuh dan kedelapan. Namanya memang tidak masuk dalam daftar ulama yang tidak menikah dalam kitab al-‘Ulama al-‘Uzzab yang ditulis oleh Abdul Fattah. Namun, bukan berarti popularitas dan pengaruhnya bisa diabaikan.

Lahir di Damaskus tahun 646 H dengan nama lengkap Zainab binti Kamaluddin Ahmad bin Abdurrahim bin Abdul Wahid bin Ahmad bin Abdurrahman bin Isma’il bin Mansur al-Maqdisi, ia tumbuh menjadi ulama besar dari kalangan perempuan yang diakui kualitasnya.

Dalam kitabnya Mu’jam Syuyukh (h. 199), Imam Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai seorang Syaikhah (guru besar perempuan), Shalihah, Mutawadhli’ah (rendah hati), Mutawaddidah (penuh kasih sayang), Khayyirah (baik hati) Katsiratul Muruah (sangat terhormat/berwibawa), namun tidak menikah (Lam Tatazawwaj).

Tidak ada penjelasan lebih jauh dari Adz-Dzahabi kenapa Zainab binti Kamal tidak menikah. Jika membaca biografinya, barangkali salah satu alasan terkuatnya adalah karena terlalu sibuk dengan pencarian dan penyebaran ilmu, khususnya dalam bidang hadis.

Semenjak usia dua tahun, Zainab binti Kamal sudah belajar hadis kepada Habibah binti Abi Umar. Setelah itu, ia tampak semakin gigih dalam belajar meski masa kecilnya mengalami sakit mata (Ad-Durar al-Kaminah,  2:117). Kegigihan ini setidaknya terlihat dari banyaknya ulama yang menjadi gurunya selama di Damaskus, seperti Muhammad bin Abdul Hadi, Ibrahim bin Khalil, Khatib Marda, Ahmad bin Abduddaim, dan masih banyak lainnya.

Baca juga :  Perempuan Ulama di Pentas Sejarah (14)

Perjalanannya menuntut ilmu terus berlanjut ke Baghdad, Aleppo, Mardin, Harran, Alexandria, Kairo. Ia memperoleh banyak ijazah dari banyak guru yang tersebar di semua daerah tersebut. Seperti ijazah Ibrahim bin Isma’il dan Ibrahim bin Mahmud dari Baghdad, Abdul Khaliq bin al-Anjab dari Mardin, Yusuf bin Khalil dari Aleppo, ‘Isa bin Salamah Harran, Abdurrahman bin Makki dari Alexandria, Abdul Adhim bin Abdul Qawi dari Kairo, dan masih banyak lainnya.

Dari hasil pengembaraannya ini, Zainab banyak memperoleh hadis-hadis dengan kualitas sanad yang tinggi. Ia memang tidak menuliskan semua hadis tersebut. Beruntung,  hadis-hadis yang diriwayatkannya ditulis oleh muridnya bernama ‘Alamuddin Abu al-Qasim al-Barzali (w. 739 H). Kitab tersebut diberi berjudul al-Ahadits al-Muwafiqat al-‘Awali li al-Hafidzah Zainab Binti Kamaluddin Ahmad bin Abdirrahim al-Maqdisiyah, dan berisi 32 hadis riwayat Zainab.

Dalam men-tahqiq kitab tersebut, Musthafa Isma’il memberi penjelasan bahwa maksud sanad yang tinggi adalah jumlah perawinya lebih sedikit, sehingga kesalahan para perawi lebih sedikit.

Dengan banyaknya guru dan hadis-hadis dengan kualitas sanad yang tinggi ini, namanya menjadi semakin populer di kalangan para penuntut ilmu hadis. Selain al-Barzali, banyak  ulama masyhur lain yang menjadi muridnya. Musthafa Isma’il mencatat ada dua puluh sembilan ulama yang menjadi muridnya. Salah satunya adalah Imam adz-Dzahabi. Namun, kemungkinan besar lebih dari jumlah itu.

Baca juga :  Aktivis Muslimah dalam Pandangan Islam

Kaitannya dengan murid perempuan misalnya, Musthafa Isma’il hanya mencantumkan satu nama perempuan yang menjadi muridnya Zainab. Ia adalah Sarah binti Syaikh Imam al-‘Allamah al-Qadi Taqiyuddin Ali bin Abdul al-Kafi bin Yahya bin Tammam As-Subki (w. 805 H). Padahal, masih ada banyak ulama perempuan lain yang telah belajar dan memperoleh ijazah dari Zainab.

Berdasarkan keterangan dalam al-Majma’ al-Muassis (Juz 1-3) karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, setidaknya ada delapan murid perempuan selain Sarah yang menjadi ulama perempuan, setidaknya menjadi guru bagi Ibn Hajar. Berikut beberapa nama ulama perempuan tersebut;

  1. Asan binti Ahmad bin Mahmud bin Hasan Asy-Syamma’ (w. 798 H)
  2. Tatar binti al-‘Izz Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Usman bin al-Munajja at-Tanukhiyah (w. 803 H)
  3. Khadijah binti Abi Bakar bin Ali bin Abi Bakar bin Abdul Malik ash-Shalihi al-Kury (w. 803 H)
  4. Sittul Kulli binti az-Zain Ahmad bin Muhammad bin az-Zain Ahmad bin Muhammad bin az-Zain Muhammad al-Qasthalani (w. 803 H)
  5. Aisyah binti Muhammad bin Isma’il bin Muhammad al-Hariry (w. 798 H).
  6. Fatimah binti Muhammad bin Ahmad bin as-Saif Muhammad bin Ahmad bin Umar bin Abi Umar al-Maqdisiyah (w. 801 H)
  7. Fatimah binti Muhammad bin Abdul Hadi bin Abdul Hamid bin Abdul Hadi al-Maqdisiyah (w. 803 H)
  8. Malakah binti Syaraf Abdillah bin al-‘Izz Ibrahim bin Abdillah bin Abi Umar al-Maqdisiyah (w. 802 H)

Meski semua perempuan ini tidak hanya berguru kepada Zainab, kemunculan mereka telah memperlihatkan suatu rantai ke-ulama-an perempuan yang terus bersambung sejak dari guru Zainab. Ia adalah ‘Ajibah binti Abi Bakar al-Baghdady (w. 647 H), seorang ulama perempuan besar berjuluk Dhlaw`u ash-Shabah. Memang benar ada guru perempuan lain yang ikut mempengaruhi Zainab, seperti Habibah binti Abi Umar. Namun, posisi ‘Ajibah tampak lebih berpengaruh dalam formasi keilmuan Zainab.

Baca juga :  Khaulah binti Tsa’labah, Muslimah yang Menyerukan Keadilan

Pengaruh keilmuan ‘Ajibah pada Zainab bisa disimak dalam penjelasan tercecer dalam kitab al-Majma’ al-Muassis. Kepada ‘Ajibah, Zainab belajar dan memperoleh ijazah beberapa kitab penting seperti Hadis al-Khatib, Tauhid karya Abi Abdillah Muhammad bin Ishaq bin Mandah (1: 318, 517), AsySyamail karya Imam Tirmidzi, al-Iman karya Abdurrahman bin Umar az-Zuhri, al-Amali al-Mahamili, at-Tarikh al-Kabir karya Imam Bukhari, Juz Hadis Abi Bakar Abdullah bin Muhammad an-Naisabury,  (2:17, 43, 49, 53, 55-57), dan masih banyak lainnya.

Jadi, posisi Zainab bukan semata sebagai ahli hadis besar yang melahirkan banyak ulama, namun juga menjadi penyambung mata rantai keberlangsungan ulama perempuan dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya tanpa terputus. Barangkali, masih banyak ulama-ulama perempuan lain yang menempati posisi seperti ini. Wallahu A’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *