Zakat: Strategi Fundamental Mewujudkan Keadilan Sosial

Kefakiran dekat dengan kekafiran. Kemiskinan dan ketidakadilan juga berpotensi menjadi sumber tindak kekerasan. Problematika klasik dan berkepanjangan ini mesti diurai secara komprehensif.

Islam sesungguhnya telah memiliki solusi terbaiknya. Sayangnya kesadaran dan pengelolaan masih belum optimal. Ada ajaran terkait zakat, infaq, sedekah dan wakaf yang potensial memberikan kontribusi memperbaiki keterpurukan dan kesenjangan ekonomi. Apalagi musim pandemi seperti sekarang dimana sektor ekonomi paling terpukul.

Umat Islam jadi mayoritas di Indonesia, tetapi penduduk miskin juga didominasi Muslim. BAZNAS (2016) mencatat adanya potensi zakat yang besar yaitu sekitar Rp 217 triliun atau hampir 10% dari APBN.   Sedangkan zakat yang terhimpun baru 1,2% atau Rp 3 triliun.

Sentuhan teologis dan praktis penting guna mengupayakan optimaslisasi zakat dan sejenisnya. Terwujudnya kesejahteraan dan keadilan sosial diharapkan mampu mereduksi tindak radikalisme dan terorisme.

Potret Kemiskinan

Semua agama dan filsafat memiliki perhatian dan terus berusaha mencari solusi atas kemiskinan. Teologi Islam meyakini kemiskinan sebagai penyakit yang dapat disembuhkan. Pengentasan kemiskinan bukan berarti menafikan takdir.

Allah berfirman,   “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S. Ar Ra’d: 11).

Islam lebih mengedepandankan langkah aktif-konstruktif serta usaha yang sadar dan realistik. Solusi Islam mewujudkan masyarakat sejahtera antara lain dengan realisasi penciptaan lapangan kerja, jaminan keluarga dekat yang mampu, zakat, jaminan negara, kewajiban material non zakat, serta donasi sukarela.

Baca juga :  Doa dan Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga Latin & Artinya

Dari sisi geografis, jumlah penduduk miskin paling banyak mendominasi di pulau Jawa sebesar 15,31 juta jiwa. Sedangkan sisanya tersebar di Sumatera sebesar 6,31 juta jiwa, Bali dan Nusa Tenggara 2,18 juta jiwa, pulau Sulawesi 2,19 juta jiwa, Maluku sebanyak 1,53 juta jiwa, dan Kalimantan 0,99 juta jiwa.

Sebanyak 63% penduduk miskin Indonesia berada di perdesaan dan mayoritas adalah petani dan nelayan. Jumlah pengangguran masih sekitar 7% dari seluruh angkatan kerja.

Teologi Zakat

Setiap yang kita dapat ada bagian yang mesti dikeluarkan zakatnya. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 267 mengatur, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.

Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah maha kaya lagi Maha terpuji”. Rasulullah SAW juga bersabda, “Dan apa yang disiram langit adalah 10% dan yang disiram dengan alat 5%”

Dalam beberapa ayat, Allah memasukkan penuaian zakat setara setelah penegakan shalat. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat.” (QS. Al-Mu’minun: 1-4).

Seiring dengan perkembangan jaman, bentuk zakat berkembang. Dengan analogi, maka setiap yang memberi penghasilan wajib dizakati. Seperti hasil pertanian, industri, penghasil uang dan lainnya (2,5%) dan sebagainya. Bahkan harta karun (20%), hadiah dan harta temuan juga.

Baca juga :  Potensi Zakat dan Kesejahteraan Masyarakat

Sedangkan harta rampasan perang atau sitaaan koruptor dapat dipakai untuk kepentingan umum. Semuanya dengan batasan kepemilikan (nishab) minimal satu tahun. Ini adalah zakat untuk harta (maal).

Selain itu ada juga bentuk lain yaitu, zakat untuk tiap kepala (manusia) bahkan bayi yang baru lahir, disebut zakat fitrah. Zakat fitrah adalah untuk mensucikan manusia dari kekurangan selama bulan Ramadhan dan kepedulian kepada fakir miskin agar bahagia merayakan Idul Fitri.

Setiap kepala adalah 1 sha’ atau empat teguk (setara 2,176 kg) berwujud kurma atau gandum atau makanan pokok lainnya atau setara 2,5 kg (3,5 liter) beras.

Strategi Optimalisasi

Zakat adalah strategi Islam menegakkan keadilan sosial dalam konteks ekonomi. Karena pada harta atau kepemilikan seseorang ada hak manusia lain. Allah berfirman,“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan untuk orang miskin yang tidak mendapat bagian” (QS. Adz-Dzariat: 19)

Kemudian jika sebelumnya tidak membayar zakat, maka tetap ditetapkan akumulasi total dari semua menurut perhitungannya, sehingga ia sama dengan hutang dan hutang zakat menurut Ibnu Hazm harus diprioritaskan sebelum hutang kepada manusia.

Di samping hak-hak yang sifatnya kewajiban seperti diuraikan di atas, Islam masih memiliki strategi dengan pesan moral. Setiap individu masih dianjurkan untuk melakukan derma sukarela setelah kewajibannya ditunaikan. Dalam hal ini ada konsep infak, shodaqoh, waqaf atau lainnya.

Baca juga :  Rekonseptualisasi Zakat, Infak, dan Shadaqah (ZIS)

Jika semuanya bisa ditunaikan secara sadar sebagai bentuk tangung jawab moral dan formal, maka sangat tipis peluang merebaknya kemiskinan dan ekonomi pun akan terberdayakan dengan optimal.

Dengan demikian keseluruhan strategi pembangunan ekonomi tersebut membutuhkan kesalehan individu, jaminan sosial, komitmen politis pemimpin, dan ketegasan hukum.

Pengelolaan zakat yang optimal diiringi produktivitas kerja tinggi, terbukti di zaman Umar Bin Abdul Aziz, ekonomi menjadi makmur. Bahkan  digambarkan sulit mencari orang yang berhak menerima zakat (fakir miskin). Obsesi ini penting dibangun dan dijalankan secara optimal, meskipun Indonesia bukan negara agama.

Kemiskinan mesti dientaskan dengan berlandaskan keadilan sosial sebagaimana amanat Pancasila. Terwujudnya keadilan dan kesejahteraan menjadi salah satu kunci mereduksi kekerasan yang diakibatkan perlawanan terhadap anggapan ketidakadilan dan kezaliman.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.