Apik dan Mendidik

Zaman Disrupsi: Peradaban Bangsa yang Mulai Tergerus

Kata adab (ﺍﺩﺏ) yang dalam bentuk pluralnya âdâb adalah kosa kata Arab yang secara harfiah bermakna perilaku yang baik, kemanusiaan, kesusastraan, atau pendidikan (pengasuhan) yang baik. Kata adab diserap ke dalam bahasa Indonesia sebagai padanan kata “civil” yang artinya sopan. Kata civilisation dipadankan dengan peradaban. Kata peradaban berkaitan dengan masyarakat manusia. Secara istilah didefinisikan sebagai kumpulan sebuah identitas terluas dari budaya manusia. Dengan sendirinya, seluruh aspek kehidupan manusia, fisik maupun non-fisik, tercakup di dalamnya.

Dari pengertian tersebut kita bisa memahami bahwa peradaban dalam suatu masyarakat atau negara-bangsa bisa berbeda dengan peradaban yang ada pada masyarakat atau negara-bangsa yang lain. Bahkan di dunia yang sudah mengglobal ini terjadi benturan peradaban (clash of civilisations). Perang yang terjadi di Timur Tengah merupakan contoh benturan peradaban Islam dan Barat. Di Timur Tengah, Barat memaksakan sistem demokrasi Barat ke dalam negara-negara Islam dan itu berlawanan dengan sistem patriarki ala Islam di Timur Tengah, maka yang terjadi adalah Perang Sipil yang tak kunjung selesai.

Perang Sipil dan perang yang terjadi di antara negara-negara Arab di Timur Tengah menyebabkan banjirnya imigran dari Timur Tengah ke negara-negara Eropa atau Barat lainnya (Australia, Amerika Serikat, dan Kanada). Malangnya, bersama dengan banjirnya imigran ini dibarengi pula kaum teroris dari negara-negara Islam di Timur Tengah. Akibatnya, banyak pemilih suara di dunia Barat yang setuju negara meniadakan prinsip pluralisme yang tak terbatas. Dengan kata lain, tidak setiap orang asing boleh pindah kewarganegaraan di negara yang ditempati.

Indonesia memang bukan negara agama. Tetapi, Indonesia adalah salah satu anggota Organisasi Konferensi –negara-negara– Islam (Organization of the Islamic Conference). Organisasi yang bersifat internasional non-militer yang didirikan pada Mei 1971 ini dan hingga sekarang beranggotakan 57 negara, yang mayoritas adalah negara-negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Meskipun sama-sama mayoritasnya berpenduduk Islam, tetapi masing-masing memiliki peradabannya sendiri karena perbedaan budaya asalnya.

Namun, di tengah globalisasi, masyarakat Indonesia yang terlalu lama dijajah bangsa lain, perlahan-lahan terlepas dari budaya asalnya. Bangsa Indonesia kehilangan nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru yang mengisi negara ini belum mengakar; akibatnya bangsa ini mengalami keadaan anomi atau tak memiliki nilai yang baku dalam mempertahankan eksistensinya. Serbuan nilai-nilai dari bangsa asing akhir-akhir ini menyebabkan kita berperilaku lebih Arab daripada bangsa Arab, lebih Barat daripada bangsa Barat, dan lebih India daripada bangsa India.

Banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri, tetapi tanpa pembekalan yang bersifat keindonesiaan. Akibatnya, nilai-nilai demokrasi yang berupa kearifan lokal seperti gotong royong, rembug desa, musyawarah pimpinan daerah, dan lain-lainnya ditinggalkan; dan berganti dengan pola pikir Barat yang tidak sesuai dengan kehidupan Timur. Tesis yang demikian ini menyebabkan lahirnya antitesis yang berupa kekuatan Islam ala Timur Tengah. Orang yang tak seiman dipandang kafir atau tersesat.

Bila kita berpegang pada kearifan lokal dan kearifan yang ada di dalam Alquran (49:13), maka kita menjadi bangsa yang lebih luas wawasannya daripada masyarakat Islam yang hidup di Timur Tengah. Sayangnya, kita telah meninggalkan esensi Alquran dan nilai-nilai yang bersifat kearifan lokal, sehingga kita tidak mencerminkan Islam yang rahmatan lil alamin, dan tidak mencerminkan bangsa-bangsa di Nusantara yang sekarang dikenal sebagai bangsa Indonesia yang ramah tamah.

49:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah senantiasa mengetahui dan mewaspadai.

Bermacam-macam bangsa dan suku bangsa bukanlah pemecahbelahan kehidupan manusia. Itu semua agar manusia bisa saling taaruf, saling mengenal, dan bukan sekadar saling tahu. Meskipun manusia diciptakan oleh Tuhan YME, namun manusia mempertahankan eksistensi kehidupannya di tempat-tempat yang berbeda secara keadaan alam, lingkungan hidup, dan iklimnya. Keadaan yang berbeda menyebabkan cara-cara dalam mengatasi persoalan hidupnya pun berbeda-beda.

Keadaan alam dan persoalan hidup yang dihadapi berbeda menyebabkan kecerdasan dan kepandaian dalam menyelesaikan masalah pun berbeda. Ketersediaan sumber daya alam yang berbeda juga memunculkan kreativitas yang berbeda. Petualangan dan pengembaraan juga membuat pengalaman hidup yang berbeda. Segala macam faktor itu melahirkan budaya dan peradaban yang bermacam-macam.

Alquran diturunkan sebagai petunjuk agar manusia bisa hidup saling mengenal dan hidup dalam perdamaian. Inilah misi yang sebenarnya dalam agama Islam, yang sebelumnya disebut sebagai rahmatan lil alamin. Dengan saling mengenal, suatu bangsa bisa belajar kemajuan yang dimiliki oleh bangsa lain. Kedamaian dalam kehidupan manusia tak akan dapat dicapai dengan saling memaksakan kehendak.

Sikap memaksakan diri dari Barat kepada bangsa Arab menyebabkan kemarahan sebagian orang Arab, dan mereka melakukan perlawanan dengan sentimen primordial berbasis ras atau agama. Hal ini juga menjalar di negara-negara lain, seperti yang terjadi di Afrika dan Asia. Gesekan dan ketegangan berujung konflik dari tingkat lokal hingga global. Pankaj Mishra, seorang penulis novel dari India, menyebut keadaan demikian itu sebagai abad kemarahan.

Konflik di Timur Tengah membara dan bisa menjalar ke bagian dunia lain, terutama yang ada komunitas Islamnya seperti Myanmar, Filipina Selatan, dan Thailand Selatan (Provinsi Patthani). Di ketiga negara tersebut, Islam dipeluk oleh suku yang minoritas. Namun, dalam perkembangannya, gerakan Islam yang radikal ini tidak hanya bangkit di negara yang umat Islamnya minoritas, tetapi juga sejak Indonesia memasuki masa reformasi gerakan radikal itu telah menjangkiti umat Islam di Indonesia.

 

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *