Ziarah Kubur sebagai Pengingat Kematian

Saat ini, ziarah kubur sudah menjadi tradisi orang-orang muslim di Indonesia. Tak hanya oleh masyarakat pedesaan, tetapi juga masyarakat perkotaan yang lazim melakukan ziarah kubur pada kuburan orangtua, kerabat, hingga ulama dan para wali. Hal ini menjadi bukti bahwa ziarah kubur adalah tradisi yang mengakar dan semakin kuat di masyarakat.

Sebenarnya, ziarah kubur memang sudah dianjurkan oleh Rasulullah saw. dengan alasan-alasan tertentu, meskipun sebelumnya pernah dilarang. Hal ini bisa dilihat dari hadis yang diriwayatkan Imam Muslim yang artinya sebagai berikut, “Silakan ziarah karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan kalian pada kematian,” (HR. Muslim).

Sedangkan pada riwayat lain Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk melakukan ziarah kubur sebagai salah satu cara untuk mengingatkan seseorang pada alam akhirat dan berlaku zuhud di dunia dalam sisa hidupnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah yang artinya sebagai berikut:

“Dulu, aku pernah melarang kalian untuk ziarah kubur. Sekarang, silakan ziarah karena sungguh ziarah kubur dapat membuat kalian zuhud di dunia dan mengingatkan kalian pada akhirat,” (HR. Ibnu Majah).

Mengingat Kematian

Dari dua keterangan hadis Rasulullah saw. di atas begitu jelas bahwa kita dianjurkan untuk melakukan ziarah kubur agar bisa mengingat kematian dan tidak mementingkan kehidupan dunia. Bahwa setelah kehidupan dunia akan ada kehidupan lain yang lebih kekal yakni kehidupan akhirat.

Baca juga :  Makam Imam Sibawaih yang Terlupakan

Dalam kehidupan masyarakat, ziarah kubur sudah menjadi tradisi turun temurun yang dilakukan di makam-makam para sesepuh atau para ulama penyebar agama Islam di Indonesia. Spirit mereka melakukan ziarah kubur, selain mengingat kematian, juga dalam rangka meneladani semangat para wali atau ulama dalam beribadah kepada Allah dan menyebarkan nilai-nilai Islam di tengah-tengah masyarakat, sehingga Islam tumbuh subur di Indonesia.

Kuburan Bukan Tempat Meminta-minta

Dalam salah satu lirik lagunya berjudul Keramat, pedangdut Rhoma Irama mengingatkan para penikmat lagu-lagunya agar tidak menghamba atau meminta-minta pada kuburan karena bisa berakibat murtad karena telah meminta sesuatu pada selain Allah Swt. Menurut lelaki yang akrab disapa Bang Haji tersebut, kuburan bukan tempat mengiba dan memohon doa.

Apa yang diingatkan Rhoma Irama, juga dipraktikkan oleh beberapa pengelola “Kuburan Keramat” yang banyak dikunjungi oleh masyarakat seperti pada saat upacara adat Nyadar atau Sadharan oleh masyarakat Pinggir Papas di Desa Kebundadap, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep.

Di pintu masuk lokasi kuburan yang oleh masyarakat lebih dikenal dengan “Asta” terpampang papan cukup besar berisi adab-adab berkunjung atau ziarah kubur di lokasi kuburan para sesepuh yang “dikeramatkan” tersebut.

Baca juga :  Pelajaran Setelah Ziarah Imam Suyuthi (2)

Salah satu imbauan, atau bahkan larangan keras, adalah agar pengunjung tidak meminta sesuatu pada ahli kubur. Hal ini penting diperhatikan oleh masyarkat sebelum melakukan ziarah kubur sehingga tidak terjerumus pada hal-hal syirik yang menyebabkan ziarah kubur jadi tidak bermanfaat.

Sebagaimana imbauan Rasulullah saw., ziarah kubur dilakukan dalam rangka mengingat kematian, bukan untuk kemaksiatan yang berbau syirik, mistis, bahkan klenik.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *