Sejenak membaca tulisan Gus Ulil Abshar Abdalla yang membahas tentang kitab Nahjul Balaghah berisi himpunan surat-surat politik yang dikirim kepada para gubernur yang tersebar di berbagai negeri, kalam hikmah, bahkan panduan bagi para penguasa dalam menjalankan roda pemerintahan.

Gus Ulil menguraikannya dengan runtut dan hidup. Bagaikan seorang santri yang sedang mendengarkan uraian panjang kiai saat ngaji bandongan, terasa begitu menyenangkan dan berusaha sesegera mungkin menyelesaikannya. Kita bisa mengetahui pandangan politik Sayyidina Ali, wawasan kebangsaan, hingga kebijakan-kebijakan politis seperti perihal perpajakan yang harus membawa kemaslahatan umat dan menghasilkan keuntungan bagi para pembayarnya.

Tak hanya itu Sayyidina Ali juga sangat peka dengan adanya kelas-kelas sosial di kalangan masyarakat. Uniknya, beliau bersikap bahwa setiap kelompok tidak dipandang sebagai konflik ketimpangan sosial, tapi bagaimana caranya antar kelompok ini bersinergi, bahu-membahu dalam urusan perekonomian hingga terciptanya harmoni.  Apalagi ditunjang dengan pembacaan mendalam dari sumber-sumber literatur barat, membuat para pembaca dimanjakan dengan kekayaan pengetahuan.

Sebagai seorang awam yang juga belajar menulis, tentu saya juga memiliki beberapa idola dalam hal tulis-menulis ini. Pastinya tak asing lagi, nama satu ini saya jadikan sebagai yang pertama, karena ketika saya sebutkan pasti Anda semua akan sepakat.

Beliau adalah Gus Dur. Seorang kiai, esais, kritikus sastra, pengamat bola, guru bangsa, dan berbagai deret label penghormatan pada beliau yang mungkin beliau juga bodoh amat dengan label-label itu. Tapi yang menjadi fokus utama adalah Gus Dur sebagai seorang esais.

Entah kenapa setiap membaca esai-esai Gus Dur seperti dibawa jalan-jalan di perpustakaan. Ingat dua kata kuncinya, jalan-jalan dan perpustakaan. Begitu membahagiakan dan banyak pengetahuan baru yang didapat. Kritiknya juga tajam dan bernas, merangsang setiap pembaca berpikir ulang tentang kondisi sekitarnya. Bisa dibaca oleh semua kalangan, sungguh menakjubkan sosok satu ini.

Kedua, ada Eka Kurniawan. Selain bergulat dalam dunia sastra, yang mengantarkan hingga kancah internasional, kolom miliknya yang terbit di Jawa Pos selalu saya nantikan. Entah setiap membacanya selalu dibuat cekakaan atas satir yang diungkapkan. Begitu nikmat untuk dilahap.

Ada lagi, AS Laksana, sastrawan yang juga seorang jurnalis senior, memiliki kolom khusus di Beritagar. Banyak hal yang menjadi titik fokus esai-esainya, yang saya suka adalah ketika membahas ketidak becusan para wartawan dan jurnalis dalam menyajikan berita, yang kebanyakan berita yang mereka tulis berisi sampah dan hal-hal memuakkan lainnya. Bahasanya sederhana dan menenangkan.

Ketiga nama yang tersebut di atas adalah nama-nama yang setidaknya ingin saya baca esai dan buku mereka. Walaupun masih banyak lagi esais dan kolomnis lain yang selalu saya baca.

Dari semua nama yang saya sebut, tentu banyak sekali hal yang bisa dipelajari, terutama gaya kepenulisan. Berbagai pendekatan yang berbeda-beda latar belakang, bacaan, dan pengalaman, menyatu menjadi satu kesatuan yang dapat kujadikan landasan dalam proses kepenulisan.

Dalam hal membaca, satu hal yang perlu diperhatikan adalah fokus. Dengan fokus inilah kita bisa menentukan ke arah mana tulisan akan bermuara. Selain itu, dibutuhkan semacam rasa nyaman dalam diri ketika memulai membaca. Suasana hati sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan membaca. Oleh karenanya, hendaknya sebelum membaca kita buat dulu suasana hati senyaman dan serileks mungkin, jika tidak bisa, kita bisa buat semacam aturan main dengan hati bahwa bacaan ini harus selesai dalam kurun waktu sekian.

Begitu pula dengan menulis. Menurut saya tulisan yang bagus adalah tulisan yang dapat membawa pembacanya menyelesaikan tulisannya dengan fokus yang sama ketika membaca judul, dilanjutkan dengan paragraf pertama sampai huruf terakhir tulisan. Tak bisa dipungkiri bahwa ketika penulis sudah mencapai tahap ini maka predikat penulis memang sangat pantas disandang olehnya.

Saya juga mendapatkan penilaian baru tentang tolak ukur sebuah tulisan. Tepatnya kemarin setelah menonton film Rebel of The Rye yang menceritakan tentang biografi dari novelis besar abad 20 dari Amerika Serikat, J.D. Salinger. Penulis novel The Catcher of The Rye yang fenomenal itu. Pada awal-awal film, terjadi sebuah penilaian sang guru kepada Salinger muda tentang tulisan yang dibuatnya. Guru itu mengingatkan, “Satu hal yang kurang dalam tulisanmu. Suara. Engkau terlalu memperpanjang diksi hingga melupakan hal terpenting darinya, apa itu? Suara dari tulisanmu itu sendiri.”

Dari pesan sang guru itulah, Salinger mulai berpikir keras untuk memperbaiki  tulisannya dan menemukan gaya tulisan yang pas sesuai dengan suara hatinya. Ia mulai berlaku jujur dan menuliskan apa yang benar-benar ia rasakan hingga ia menjadi penulis yang namanya abadi dalam karyanya dan tak lupa sejarah juga mengamini akan hal itu. Bahkan ia mengabdikan diri untuk senantiasa menulis hingga akhir hayatnya, tanpa berpikir lagi apakah tulisannya nanti akan dibaca orang lain atau tidak.

Disinilah inti dari tulisan ini, suara hati adalah hal paling ampuh dalam menulis. Orang yang mampu menyampaikan apa yang bergejolak dalam hati dan menuangkannya dalam bentuk tulisan adalah satu hal paling dasar dalam hal kepenulisan. Minimal sebagai bentuk kejujuran pada diri sendiri dan berusaha tidak membohongi orang lain. Karena kejujuran hati tidak akan bisa bertemu dengan sebuah kebohongan. Fakta sejarah bisa dibuat, tapi kejujuran hati adalah barang berharga yang tak dapat disentuh seenaknya oleh orang lain apapun yang terjadi.

Dengan ini aku pun berwasiat pada diri sendiri untuk selalu menempatkan kejujuran pada tempatnya. Terus menulis hingga menemukan gaya tulisan yang khas yang mencerminkan diri sendiri. Menyuarakan hati dalam tulisan, inilah tujuannya. Tentunya bukan hal yang mudah, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba dan berproses kan?

Tabik!

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa:
English

Leave a Response