Dalam suatu pengajian tafsir bersama para santri, pengasuh pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA Kragan, Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menerangkan tentang kurban sapi melalui cara urunan (patungan) 7 orang.

Berikut penjelasan Gus Baha:

Pada hari raya kurban, saya pernah mendapatkan dua pertanyaan yang kriminal semua. Gara-gara kurban urunan (patungan).

Sekarang marak iuran 2 juta dapat sapi. Kalau 2 juta kali 7 dapat berapa? 14 juta. Pertama bertanya bagus, tapi lama-lama kurang ajar. Yang bertanya bukan dari kalangan NU.

“Pak Baha, katanya kalau sapi satu itu dinaiki 7 orang. Semisal kalau sapi limusin itu harganya kan 70 juta. Kalau iuran orang 7 kan berat. Misalnya iuran orang 20, anggap saja kuat (sapi limusin) dinaiki 20 orang.” Hehehe

Setelah bertanya kepada saya karena saya guyoni. Kalau orang nasionalis itu kan biasa, misalnya istrinya Rukhin kerja ngajar di SD Wonokromo, Rukhin kerja ngajar di SD Kotagede.

Orang nasional kan biasa seperti itu. Yang tanya saya itu orang nasional, ya tidak NU ya tidak Muhammadiyah. Hanya saja suka Islam.

Artinya nanti istrinya Rukhin kurban di SD Wonokromo sama guru-guru laki-laki di situ, Rukhin kurban dengan guru-guru perempuan di SD Kotagede. Berarti kan isteri Rukhin diambil orang? Hahaha

Makanya timbul pertanyaan, kalau kurban bareng itu kan risikonya kadang membawa istri orang. Sebab yang ikut patungan itu kan bukan mahramnya.

“Ayo yang pada iuran siap-siap istrinya dibawa orang lain. Hahaha.”

Saya juga pernah ditanya begitu, di tempat saya ada kurban iuran sapi, tapi saya lebih suka kambing. Karena saya agak egois, ingin kurban sendiri.

“Gus, kok tidak ikut urunan kurban sapi?”

Emoh (tidak mau).”

“Kenapa tidak mau, Gus?”

“Tunggu-tungguan rombongan.”

Hehehe

Lah misalnya surgaku itu Januari, surgamu Desember. Sapinya nunggu kamu kelamaan. Hehehe

Semisal kalau kurban kambing, surgaku Januari kan langsung terbang. Kalau orang 7 dan surganya tanggalnya beda-beda bagaimana? Masak surgaku bareng Rukhin?

Kan secara teori tidak mungkin. Makanya aku tidak mau kurban bareng Rukhin. Nanti ada pengumuman dari malaikat, “Baha masuk surganya ditunda, karena temannya masih di neraka. Haha repot…”

Beramal tidak perlu berpikir seperti itu, yang penting ikhlas saja. Allah nanti mengaturnya bagaimana terserah.

Kalau dituruti nanti barena istri orang, meskipun sama-sama lelakinya ya akan saling menunggu. Karena kelas surganya masuknya beda-beda.

Masak surganya yang shaleh dan setengah shaleh bareng? Masak yang shaleh nunggu 100 tahun karena teman kurbannya di neraka.

Paham nggeh?

“Tidak perlu berpikir seperti itu,” saya bilang begitu. Tapi ini jangan sampai jadi penggalih (dimasukkan dalam hati) ya. Ini omongannya orang nganggur begitu saja. Hehehe

Cuma menurut syari’at lebih baik kambing untuk satu orang daripada 1 sapi untuk 7 orang. Karena tadi bisa menimbulkan egois tadi.

Kalau bisa dipanggil Januari ya langsung terbang saja. Kalau jatah masuk surga Desember, iya kalau Desembernya dalam satu tahun, kalau terpaut 100 tahun bagaimana?

Tidak usah terlalu dipikir, kalau mau beramal ya beramal saja! Orang beramal kok diperhitungkan!

Saya tidak suka orang amal kok diperhitungkan. Tidak perlu begitu beramal, beramal saja. Entah bagaimana Allah nanti, terserah.

Saya berkali-kali didatangi orang. Lama-lama dia mikir.

“Kalau beramal yang ikhlas, nanti Allah gampang. Misalnya surgamu dulu, yang satu masih di neraka, ya nanti oleh Allah dibuatkan kendaraan khusus, lewat duluan nanti diganti Allah. Allah kan kaya gampang kan?”

Kok repot?!

Misalnya nanti naik sapi terlalu lama, surganya orang alim hafal Qur’an yang ikhlas ya pakai kilat. “Sapinya ambil saja buat kamu Khin, saya berangkat duluan.” Hehehe

Sukanya kok repot..!!

Surganya orang-orang shaleh itu nanti naik kilat, kelamaan kalau naik sapi tidak sampai-sampai. Hehe

Orang mau beramal kok perhitungan begitu! Kalau beramal ya beramal saja yang ikhlas!

Makanya, menurut Imam Malik dalam kitab Mizan Kubro, sebagian ulama mensyaratkan tujuh orang (untuk 1 sapi) itu yang berkurban harus satu keluarga.

Tujuannya agar tidak membawa istri orang lain. Hehe… Tapi, kata Imam Malik tidak satu keluarga juga tidak apa-apa, kelak biar diatur Allah. Sebenarnya Imam Malik ya bingung juga. Hahaha…

Simak sumber video pengajian ini:Gus Baha – Kurban Patungan

Leave a Response