Please assign a menu to the primary menu location under menu

Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an LP3IA Rembang KH Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, dalam suatu pengajian kitab bersama para santri, menjelaskan tentang kehebatan wali dalam membimbing umat, salah satunya yakni kisah kewalian KH Abdul Hamid Pasuruan (lahir 1914, wafat 1982).

Berikut keterangan dari Gus Baha:

Kiai Hamid Pasuruan adalah ulama yang terkenal wali. Kalimat Dzikir Ghafilin di antaranya ada beberapa kata yang dari Kiai Hamid. Sedangkan Dzikir Ghafilin kalimatnya utamanya dari Gus Miek dan Mbah Ahmad Shiddiq.

Saya tahu banyak karena bapak saya juga temannya Gus Miek dan Mbah kandung saya masih sepupu dengan Mbah Hamid.

Dahulu, kalau ada orang-orang sepuh itu (oleh Mbah Hamid) disuruh menghafal Qur’an. Mereka protes, “Mosok aku hafal?”

“Sudah pokoknya hafalkan!” kata Mbah Hamid.

Ada yang hafal satu juz lalu mati, ada dua juz lalu mati. Karena mereka sudah sepuh.

Suatu saat ada ulama yang tanya, “Kenapa (harus hafal) Mbah Hamid?

Kata beliau, “Biar kamu dalam perjalanan di dunia tercatat untuk bercita-cita menghafal Al-Qur’an.”

Sehingga kalau mati berstatus wa man salaka thoriqan yaltamisu fihi ilman sahhalallahu thoriqan ilal-janah (مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ), orang yang mati berorientasi ingin ngaji.

Tapi, kalau kamu tidak punya orientasi ngaji, di otak dan hati kita andaikan direkam Allah isinya ingin kaya, ingin punya gunung, ingin punya Alphard, ingin punya ini dan itu. Coba kalau keinginan itu nanti disetel (diputar) di akhirat.

Tapi, kalau kamu punya keinginan hafal Al-Qur’an kan pas diputar di akhirat keren. Ingin hafal Qur’an meskipun tidak hafal-hafal.

Biarpun nanti ada malaikat dengki, tapi insyaallah malaikat tidak ada yang dengki. Hahaha…

Namun, andaikan kita nanti tidak punya cita-cita ngaji, maka rekaman kita hanya itu, ingin mapan, ingin kaya, ingin menguasai dunia.

Betapa malunya kita di depan Allah. Padahal nanti niat ini yang dihitung:

فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ

(Fa man kanat hijratuhu ilallahi wa rasulih fa hijaratuhu ilallahi wa rasulih)

Orang yang orientasinya hijrah, bahwa hijrah itu meninggalkan yang buruk menuju yang lebih baik hanya untuk Allah dan Rasul, maka yang dihitung itu ke sana.

Misalnya Pak Aryo menghafalkan Qur’an, sehafal-hafalnya. Tapi, berarti perjalanannya ini mencari ridho Allah yang ditulis.

Tetapi, kalau orientasinya ingin mapan, ingin sejahtera, ingin punya rumah dua, ingin punya rumah di berbagai provinsi, ini yang ditulis.

Coba kalau nanti itu direkam, ditanya Allah, “Inginnya kamu apa si di dunia?” Dan itu bisa menjadi status kita.

Ngeri kan? Kita ketemu Allah tidak dengan status pencari Allah dan Rasul, tapi mencari  kemapanan.

Itu cara Mbah Hamid, agar orientasi orang itu kepada Allah dan Rasul. Disuruh menghafalkan. Jadi ulama itu harus pinter cara menuntun umat agar dekat dengan Allah dan Rasul.

Sehingga Kiai Hamid Pasuruan ngijazahi orang-orang sepuh. Kadang dikasih wiridan disuruh menghafalkan, tidak hafal-hafal.

Nanti misalnya mati tidak hafal statusnya ini penghafal wiridan. Kan bagus…!

(Hafidhoh Ma’rufah)

Simak sumber video pengajian ini: klik >> Gus Baha – Ijazah Mbah Hamid

Leave a Response