Please assign a menu to the primary menu location under menu

NasionalReportase

Inilah 5 Perspektif Masa Depan Masyarakat yang Dibahas Muktamar Pemikiran NU

KH Ulil Abshar Abdalla menyampaikan materi di kelas pendekatan agama. (Foto: Lakpesdam PBNU)

Jakarta, IQRA.ID – Ada 5 perspektif yang digunakan untuk membayangkan masa depan masyarakat. Hal ini sebagaimana tema Imagining The Future Society yang diangkat oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada sesi pararel Muktamar Pemikiran 2023 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (02/12/2023) Sore.

Diskusi paralel tersebut dibagi menjadi 5 kelas. Masing-masing kelas berfokus pada pembahasan mengenai membayangkan masa depan masyarakat dengan menggunakan pendekatan agama, politik, ekonomi, budaya hingga teknologi.

Kelas diskusi paralel pertama sudut pandang agama dihadiri enam pemateri, yaitu Ulil Abshar Abdalla, Mayadina, Aksin Wijaya, Phil Sahiron, A Ginanjar Sya’ban, dan Achmad Munjid.

Pada bagian ini, pemateri dan peserta berdiskusi terkait bagaimana dan sejauh apa teknologi dan sosial media di suatu negara berpengaruh bagi  terbentuknya masyarakat.

Meskipun demikian, terdapat narasi yang menyebut bahwa ajaran dan literasi umat Islam masih banyak yang berbicara masalah individu dibanding kelompok kolektif. Selain itu, diskusi terkait dengan masyarakat baru dan relasi murid dan guru yang sudah cukup berubah juga ikut meramaikan kelas pertama ini.

Kelas diskusi paralel kedua membahas sudut pandang ekonomi dan politik. Pemateri yang menemani jalannya diskusi pada kelas kedua ini adalah Rumadi Ahmad, Maftuchan dan Alam.

Perspektif Teknologi dan Media Sosial menjadi fokus pembahasan pada kelas ketiga, dengan ditemani beberapa pematri yaitu Savic Ali, Hasanudin Ali, Waizly Darwin, Tri Mumpuni Wiyatno dan Hartono.

Selanjutnya, kelas keempat diisi oleh pemateri seperti Prof. Ahmad Zainul Hamdi, Rumtini dan Ufi Ulfiah. Kelas diskusi paralel ini  membayangkan masyarakat masa depan sudut pandang pendidikan.

Dalam diskusi ini terdapat anggapan bahwa pendidikan adalah pembebasan bagi anak-anak agar mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Selain itu, isu seputar pluralisme dan moderasi beragama juga menjadi pembahasan yang menarik pada kelas keempat ini.

Terakhir, yaitu kelas kelima yang menghadirkan Dr. Ahmad Suaedy, Maria Fauzi, Cicik Farcha Assegaf, Kiai M. Jadul Maula, Virdika Rizky Utama dan Aef Syaifud sebagai pemateri. Di kelas kelima ini membahas topik bagaimana NU membayangkan masyarakat masa depan sudut pandang budaya. (mam/mzn)

Topik Terkait: #Muktamar Pemikiran NU

Leave a Response