Please assign a menu to the primary menu location under menu

Ulama Ahli Qur’an dan Tafsir asal Kab. Rembang KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam suatu majelis pengajian kitab bersama para santri pernah mengisahkan dirinya didebat oleh orang Ateis (aliran yang tidak percaya Tuhan) tentang bukti Tuhan itu ada.

Berikut keterangan dari Gus Baha:

Saya pernah ketemu orang Ateis, lalu dia bertanya kepada saya begini, “Pak Baha’, saya ini cara berpikir Ateis. Saya akan iman kalau Anda bisa membuktikan Tuhan ini siapa? Lalu buktinya apa kalau ada Tuhan?”

Terus saya bilang begini, “Betul Anda ini ingin iman?”

“Iya, Pak,” jawab pengikut Ateis itu.

Terus saya pakai teori Mantiq karena dulu pernah belajar Mantiq. Karena cara mengenalkan Allah adalah dengan pikiran yang sehat.

Saya tanya dia, “Kalau ada rumah terbakar, kamu suka ada orang yang bilang ada sebabnya karena misalnya, korsleting listrik, (benda) yang meledak. Atau kamu suka bilang tidak ada sebabnya sama sekali?”

“Oh, senang yang ada sebabnya tadi (korsleting listrik atau benda meledak).”

“Lalu kalau alam ini wujud (ada), kamu suka ada sebabnya atau tanpa sebab?”

“Ya suka ada sebabnya sebenarnya.”

“Lah sebab itu yang oleh Islam dinamai Tuhan.”

Sebenarnya ilmu mantiq tidak mengenal Allah, bahkan tidak pernah menyebut nama Allah.  Saya ulang lagi, ilmu mantiq yang diajarkan di pesantren-pesantren itu tidak pernah menyebut Allah.

Yang disebut adalah “alam ini berubah, alam ini makhluk, kalau makhluk butuh khaliq (pencipta). Paham nggeh?

Alam ini sudah akibat musabbab, kalau ‘akibat’ butuh ‘sebab’. Karena ini kita sebut مسبب الاسباب. ‘Sebab’ ini harus lebih dulu dari pada yang ‘disebabkan’.

Makanya, harus bersifat qadim (tidak awalannya). Dan kalau ‘wujud’ ini butuh ‘sebab wujud’, maka ‘wujud penyebab’ disebut wajib atau wujud superior atau wujud super, kita sebut واجب الوجود.

Paham nggeh?

Sehingga ‘wujud’ yang ada ini kita butuh ‘sebab’, yaitu harus ada ‘wujud yang superior’, kita menamakan واجب الوجود. Nah semua itu oleh Islam disebut “Allah”.

Tapi, uniknya orang Ateis itu langsung iman.

“Lah, kiai-kiai tidak ada keterangan begitu, Pak Baha’. Saya nyari-nyari Allah itu siapa. Mulai dulu itu bilang kalau Allah itu faktor alam saya iman,” kata orang Ateis.

Nah, itu kelirunya kita membalik logika. Dia mau iman tapi dia nyaman dengan istilah Allah itu yang dikatakan “Tuhan adalah penyebab dari semua ini”.

Mungkin ini bagi Albert Einstein (fisikawan asal Jerman) menyebut (مسبب الاسباب) sebagai causa prima.

Paham yang saya maksud?

Jadi, akal itu harus menemukan pasti tidak menyebut Allah. Nah Islam yang mengatakan itu Allah. Coba Anda cek, ketika Allah mengenalkan dirinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”. (Al-Alaq: 1)

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (Al-Alaq: 2)

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,”(Al-Baqarah: 21)

Sebagian ayat, kata Allah, “Sembahlah Saya!”. Saya itu siapa? Dzat yang menciptakan langit dan bumi.

Kemudian sifat-sifat ini, yang punya sifat ini oleh Islam dinamai Allah. Tapi kelirunya kiai-kiai langsung menerangkan Allah. Tentu PKI pikirannya Allah itu siapa?

Padahal akal hanya punya rumus, alam ini butuh penyebab. Penyebab ini kita sebut مسبب الاسباب atau causa prima atau واجب الوجود.

Islam secara agama menamai itu “Allah”. Kalau langsung Allah, Allah itu siapa?

Paham nggeh?

Nah itu kelirunya kita. Kita juga ikut keliru dalam merekonstruksi bangunan tauhid.

Link Ngaji Versi Video:

Gus Baha – Didebat Orang Atheis

Leave a Response