Ulama ahli Qur’an asal Kab. Rembang KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam suatu seminar di perguruan tinggi Islam di Gresik Jawa Timur, sempat ditanya oleh seorang santri tentang orang yang bermaksiat itu takdir dari Allah atau pilihan akal dari manusia itu sendiri.

Berikut jawaban Gus Baha:

Masalah qadha-qadar ini sudah dibicarakan para ulama di kitab-kitab. Satu, kita mengikuti ahli hakikat, اذا ذُكرَ القدرفَاَمْسِكُوا, jika qadha-qadar sudah dibicarakan maka kamu harus diam di situ.

Karena pertanyaannya begini, kalau kamu orang sholeh, semoga Anda latihan jadi orang sholeh, itu melihat Allah sudah menentukan semua itu keren.

Saya bangga memiliki Tuhan yang sudah mengetahui bagaimana nasib saya seperti apa nanti. Saya betapa malunya punya Tuhan yang ketika saya tanya, “Gusti bagaimana nasib Baha’ besok? Ya tidak tahu, saya pikir dulu.”

Itu kan ngeri betul. Sehingga kalau kamu sholeh, pokoknya bangga kalau Allah sudah tahu apa yang akan terjadi.

Soal kepanikan kita kan kadang, “Nanti kalau sudah mengerti aku celaka, terus apa gunanya aku sholat?” Nah itu kesalahan kita.

Kita kecewa kalau sekarang kita sholeh, kemudian akhirnya tidak sholeh. Dan akhirnya kita masuk neraka. Kekecewaan ini namanya memikirkan diri sendiri.

Sebenarnya kalau kita عبدا لله benar-benar hambah Allah tetap bangga, karena punya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi.

Makanya ini dibutuhkan kesalehan untuk mengakui qadha-qadar. Kalau tidak, kriminal betul!

Maka, Sayyid Hasan bin Ali dalam maqalahnya: di antara aturan iman harus iman terhadap qadha-qadar untuk menunjukkan اِنَّهُ لَايُعْصَى قُرْهًا وَلَايُغْلَبُ قُرْهًا , supaya kita tahu bahwa Allah tidak dimaksiati secara terpaksa.

Kamu bisa nggak bayangkan kalau Allah mengeluh seperti ini, “Sebenarnya saya tidak suka maksiat, tapi saya bisa berbuat apa?”

Artinya apa? Kalau maksiat dan keburukan tidak خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ مِنَ الله itu Allah itu akan qurhan. Paham ya yang saya maksud?

Kita harus berkeyakinan خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ مِنَ الله tapi kita butuh syariat. Kemudian setiap orang nakal berkelip kehendak Allah juga masalah.

Makanya diteruskan makalah beliau: وَمَنْ حَمَّلَ ذَنْبَهُ رَبُّهُ فَقَدْ فَجَرَ, dan siapa yang menimpakan dosa atas nama Tuhannya maka dia lacut betul.

Yang zina kamu, Allah tidak ikut zina, yang maling kamu Allah tidak ikut maling, kemudian kamu bilang semua karena Allah. Itu kriminal betul!

Jadi makanya orang sholeh itu hafalannya harus banyak agar meniru-meniru orang sholeh. Lah ini kan tidak. Ingin sholeh tapi pakai akalnya sendiri. Itu bahaya dalam agama, karena agama itu butuh riwayat.

Beliau menyebut dua kali, siapa yang tidak meyakini خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ مِنَ الله maka dia فقد كَفَرَ. Karena seakan-akan di dunia ini وَقَعَ فِى مُلْكِهِ مَالَا يُرِيْدُهُ, dikerajaan-Nya terjadi sesuatu di luar kehendak-Nya.

Tapi, وَمَنْ حَمَّلَ ذَنْبَهُ رَبُّهُ فَقَدْ فَجَرَ, orang yang menimpakan dosanya ditimpakan karena Allah فَقَدْ فَجَرَ, maka dia lacut betul. Allah tidak ikut maling, tidak ikut korupsi, tidak ikut zina kok, itu kehendakmu.

Kalau kamu sudah paham betul ya sudah jadi orang sholeh saja. Kalau tidak, ya pilih فَاَمْسِكُوا (diamlah) tadi, maka sudah tidak usah dibahas.

Jadi, saya mohon yang dengar ngaji saya ini, yang tidak taubat segera taubat, yang sudah taubat ditambahi ilmu. Karena biasanya taubat itu karena tidak mengerti apa-apa karena cuma mikir. (Hafidhoh Ma’rufah)

Link Ngaji Ngaji Versi Video:

Gus Baha – Maksiat Takdir Allah?

Ingin menyimak GUS BAHA lebih banyak lagi dengan translate BAHASA INDONESIA?

Silakan klik >> DAFTAR KOLEKSI NGAJI GUS BAHA

Leave a Response