Guru besar ulama Nusantara, Syekh Nawawi Banten menjabarkan bahwa nilai spiritual puasa bukan sekadar simbolik menahan lapar dan haus saja, bukan pula soal menahan birahi seksualitas bagi pasangan suami istri. Tetapi lebih luas cakupannya dari itu sebagaimana beliau paparkan dalam kitab Maraqi al-Ubudiyah Syarah Bidayah al-Hidayah:

Janganlah kita berpikir bahwa puasa itu hanya menahan dahaga perut dan gejolak kemaluan. Rasulullah Saw. bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعِ وَالْعَطَشِ 

“Berapa banyak orang berpuasa, tetapi ia hanya mendapatkan lapar dan haus dari puasanya itu.”

Maksud hadits tersebut adalah sia-sia saja berpuasa tanpa diiringi pengendalian anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang buruk dan keji. Karenanya, Rasulullah Saw. juga bersabda merincikan hal-hal buruk itu:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لله حَاجَةٌ أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, bahkan mengerjakannya, maka Allah Swt. tidak ada urusan dengannya walaupun ia tidak makan dan tidak minum (dengan puasanya).”

Kesempurnaan puasa diraih dengan menahan semua anggota tubuh dari hal yang dibenci Allah Swt.; mulai dari mendengar, melihat, berbicara, bertindak, melangkah serta perbuatan lainnya yang berakibat dosa. Puasa yang seperti ini adalah puasanya orang-orang saleh, atau disebut juga dengan puasa khusus (khawash). Puasa ini dapat dicapai dengan 4 syarat, yaitu:

Pertama, menahan pandangan. Untuk meraih kesempurnaan puasa, kita harus menjaga pandangan mata dari segala hal yang membuat kita lalai berzikir kepada Allah. Rasulullah Saw. bersabda:

النَّظَرُ سَهْمٌ مَسْمُومٌ مِنْ سِهَامِ إبْلِيسَ لَعَنَهُ اللَّهُ فَمَنْ تَرَكَهُ خَوْفاً مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ آتاهُ اللَّهُ إيماناً يَجِدُ حَلاَوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

“Memandang (kepada sesuatu yang terlarang) adalah satu panah beracun dari Iblis yang dilaknat Allah. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka ia akan diberi oleh Allah keimanan yang rasa manisnya dapat ia rasakan di dalam hatinya.”

Kedua, menjaga perkataan. Kita harus menjaga lisan dari perkataan yang tidak bermanfaat. Pembicaraan yang tidak penting harus ditinggalkan jika kita ingin menyempurnakan puasa. Perkataan atau perbuatan yang bermanfaat bagi seseorang adalah yang berkaitan dengan keselamatannya di akhirat dan kebaikan hidupnya di dunia.

Contohnya, makan yang mengenyangkan perut, minum yang mengobati rasa haus dan dahaga, menutup aurat sehingga dapat menjaga kemaluannya, dan hal-hal lain yang bermanfaat. Bukan sebaliknya, bersenang-senang menikmati dunia yang akan menghancurkan kehidupan dunia dan akhiratnya.

Ketiga, menjaga pendengaran. Jagalah telinga dari mendengar segala hal yang diharamkan, karena orang yang mendengar pastinya menjadi partner orang yang bicara. Tegasnya, segala yang haram dibicarakan maka haram pula didengarkan.

Oleh karena itu, Allah Swt. menyamakan orang-orang yang suka mendengar berita bohong dengan orang-orang yang suka memakan harta haram. Allah berfirman, “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram” (QS. al-Maidah [5]: 41).

Inilah keadaan pendengar dan penggunjing, mereka berdua sama-sama berdosa karena berdiam diri mendengarkan gunjingan orang lain.Pada tempat lain Allah berfirman, “Jika begitu, sesunggulmya kalian adalah seperti mereka.” (QS. an-Nisa [4]: 140). Hal ini juga dipertegas dengan sabda Rasulullah Saw.:

الـمُغْتَابُ وَالْـمُسْتَمِعُ شَرِيكاَنِ في الإثْمِ

“Penggunjing dan pendengar sama-sama berdosa.”

Kita juga harus menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang diharamkan syariat. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Jabir r.a., dari Anas r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Lima perkara yang membatalkan puasa, yaitu: berkata dusta, menggunjing, mengadu domba, sumpah palsu dan pandangan yang disertai syahwat.”

Maksud “membatalkan puasa” dalam hadis di atas menurut Aisyah dan Imam Ahmad adalah puasanya batal atau tidak sah. Sedangkan menurut Imam Syafi’i dan para sahabatnya, pahala puasanya yang batal, sedangkan puasanya tetap sah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. bersabda:

خَمْسُ خِصَالٍ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ وَيَنْقُضُ الْوُضُوْءَ اَلْكِذْبُ وَاْلغَيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ

“Lima perkara yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu, yaitu; berkata dusta, mengunjing orang lain, mengadu domba, memkitang disertai syahwat, dan sumpah palsu.”

Rasulullah Saw. juga bersabda:

إِنَّمَا الصَّوْمُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثُ ، وَلَا يَفْسُقُ ، وَلَا يَجْهَلُ ، فَإِنِ امْرَؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ

Sesungguhnya puasa itu perisai[1]. Apabila seseorang di antara kamu sedang berpuasa maka janganlah berkata keji[2] tidak pula berbuat fasik dan berlaku jahil. Jika ada orang yang mengajak berkelahi atau memakinya, katakanlah ‘Aku sedang berpuasa.’”

Keempat, mencari yang halal. Upayakanlah sungguh-sungguh berbuka dengan makanan halal. Sebab, tidak ada artinya berpuasa dengan menahan diri dari makanan yang halal jika kita berbuka dengan makanan yang haram. Perbuatan itu sama saja dengan membangun istana dengan merobohkan seluruh kota.

Jangan terlalu banyak makan yang halal itu ketika berbuka, sebab apabila kita berlebihan maka itu tidak ada bedanya antara berpuasa dan tidak berpuasa. Akhirnya tujuan puasa bukan lain untuk membuyarkan nafsu dan melipatgandakan kekuatan daya batinmu guna menentang maksiat supaya kita kuat dalam menetapi ketakwaan.

 

 

[1] Maksudnya, puasa itu ibarat perisai karena akan mencegah kemaksiatan dan menghancurkan nafsu syahwatnya. Berkaitan dengan hal ini pula, ada yang berpendapat bahwa puasa itu melindungi seseorang dari neraka, sebab puasa bukan lain adalah pengendalian nafsu.

[2] Maksudnya, orang yang puasa tidak boleh berkata keji.

Leave a Response